Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

ARM Hospitality dan 52 Studios Singapore Rayakan Gala Premiere Film Pendek Rumah Kedua di Bali

Marsellus Pampur • Minggu, 14 Juni 2026 | 11:18 WIB
Gala Premiere film pendek Rumah Kedua pada Jumat, 12 Juni, di Studio XXI, Trans Studio Mall Bali.
Gala Premiere film pendek Rumah Kedua pada Jumat, 12 Juni, di Studio XXI, Trans Studio Mall Bali. (Marsellus Pampur/Radar Bali)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Grup perhotelan asal Indonesia, ARM Hospitality, bersama rumah produksi asal Singapura, 52 Studios Singapore, merayakan keberhasilan penyelenggaraan Gala Premiere film pendek Rumah Kedua pada Jumat, 12 Juni, di Studio XXI, Trans Studio Mall Bali. 

Film yang diprakarsai oleh ARM Hospitality Indonesia dan diproduksi oleh 52 Studios Singapore ini merupakan kolaborasi lintas negara yang mempertemukan dunia perhotelan dan perfilman untuk menghadirkan kisah tentang keluarga, rasa memiliki, dan perjuangan meraih masa depan yang lebih baik.

Proyek ini berawal dari sebuah visi yang pertama kali digagas lima tahun lalu oleh Chief Executive Officer (CEO) ARM Hospitality, Ronny Soetanto.

Dengan keinginan untuk menampilkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi industri perhotelan,

Ronny menginisiasi proyek ini dengan harapan dapat menghadirkan sebuah cerita yang tidak hanya relevan bagi para profesional perhotelan, tetapi juga bagi siapa saja yang pernah menghadapi dilema antara mengejar impian pribadi dan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.

Disutradarai oleh Cleve Low dan diproduseri oleh Goh Wei Woon dari 52 Studios Singapore, Rumah Kedua mengisahkan perjalanan emosional Baskara, seorang pemuda yang meninggalkan kampung halamannya demi mencari masa depan yang lebih baik, namun harus menghadapi beban batin karena meninggalkan ayahnya yang telah lanjut usia.

Melalui narasi yang menyentuh hati, film ini mengangkat tema pengorbanan, tanggung jawab, keluarga, dan pilihan-pilihan sulit yang harus dihadapi banyak orang ketika mencari peluang jauh dari rumah.

Dalam konferensi pers setelah pemutaran film, Ronny mengungkapkan bahwa Rumah Kedua terinspirasi dari dedikasi para insan perhotelan yang setiap hari mengabdikan diri untuk melayani orang lain.

“Lima tahun lalu, saya bermimpi menciptakan sebuah cerita yang mencerminkan nilai-nilai yang kami junjung tinggi di ARM Hospitality. Pada akhirnya, industri perhotelan adalah tentang manusia.

Melalui Rumah Kedua, kami berharap dapat mengingatkan penonton bahwa meskipun mengejar kesuksesan dan peluang itu penting, kita tidak boleh melupakan nilai-nilai yang paling berarti dalam hidup, yaitu integritas, kasih sayang, dan keluarga,” katanya.

Sementara itu, bagi Produser 52 Studios Singapore, Goh Wei Woon, proyek ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar produksi film.

Proyek ini menjadi bentuk kolaborasi antara dua negara, dua budaya, dan keyakinan bersama akan kekuatan sebuah cerita.

“Sejak awal, kami melihat proyek ini sebagai kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang sangat personal namun juga universal.

Tantangan terbesar adalah menjaga visi Pak Ronny sambil merangkai cerita yang dapat terhubung secara emosional dengan penonton dari berbagai latar belakang. 

Hal itu membutuhkan kepercayaan, kolaborasi, dan keselarasan kreatif yang kuat antara tim Singapura dan Indonesia,” ujar Goh Wei Woon.

Sutradara sekaligus CEO 52 Studios Singapore, Cleve Low, mengungkapkan bahwa salah satu pengalaman paling berkesan selama produksi adalah menghadapi perbedaan budaya dan bahasa antara tim Singapura dan Indonesia.

Dalam proses pengembangan naskah, tim menghabiskan banyak waktu untuk menyempurnakan dialog agar terdengar alami sekaligus emosional. 

Namun setelah meninjau salah satu draf, tim ARM Hospitality dengan bercanda mengatakan bahwa meskipun dialognya indah.

“Terdengar bagus, tetapi tidak ada orang yang benar-benar berbicara seperti itu.”

Sambil tertawa mengenang momen tersebut, Cleve mengatakan bahwa pengalaman itu menjadi pelajaran penting bagi tim produksi.

 

“Itu menjadi pengingat yang sangat berharga. Dialog mungkin terdengar indah di atas kertas, tetapi keaslian jauh lebih penting daripada sekadar terdengar puitis.

Kami terus menyempurnakannya hingga terasa benar-benar alami seperti cara orang berbicara dan berinteraksi sehari-hari.

Percakapan-percakapan itu pada akhirnya membuat film ini terasa lebih nyata dan dekat dengan penonton," ungkapnya 

Cleve menambahkan bahwa meskipun Rumah Kedua berlatar belakang industri perhotelan, tema yang diangkat jauh melampaui dunia kerja.

“Pada akhirnya, cerita ini adalah tentang keluarga, rasa memiliki, dan pilihan-pilihan yang kita buat demi masa depan yang lebih baik.

Kami ingin penonton tidak hanya menyaksikan perjalanan Baskara, tetapi juga melihat sebagian dari diri mereka di dalamnya. 

Emosi yang paling kuat sering kali hadir dalam momen-momen yang paling sederhana, dan keaslian itulah yang berusaha kami jaga sepanjang film ini," beberapa Cleve.

Judul Rumah Kedua mencerminkan salah satu gagasan utama film ini: bahwa rumah tidak selalu ditentukan oleh lokasi geografis, tetapi oleh orang-orang, nilai-nilai, dan rasa memiliki yang kita temukan sepanjang perjalanan hidup.

Film ini juga menjadi penghormatan bagi para pekerja di balik layar industri perhotelan yang sering kali tidak terlihat, namun dedikasinya menghadirkan pengalaman bermakna bagi banyak orang setiap hari.

Kedalaman emosi dalam cerita ini diperkuat oleh penampilan Wahyu Aristiawan sebagai Baskara.

Aktingnya berhasil menggambarkan konflik batin yang dialami banyak orang yang meninggalkan rumah demi masa depan yang lebih baik, namun tetap memikul tanggung jawab besar terhadap keluarga.

“Saya tertarik pada karakter Baskara karena konflik batinnya sangat nyata dan dekat dengan kehidupan banyak orang.

Melalui peran ini, saya belajar bahwa kesuksesan di tempat yang jauh dari rumah tidak akan pernah terasa utuh jika kita melupakan keluarga dan nilai-nilai yang membentuk diri kita,” kata Wahyu selaku salah satu aktif film ini.

Penampilan yang tak kalah menarik datang dari Husni Wardana Holle yang memerankan sosok General Manager sekaligus mentor di tempat kerja.

“Saya berharap para penonton, terutama para pemimpin, dapat melihat bahwa seorang manajer bukan hanya seseorang yang mengawasi operasional, tetapi juga seorang mentor dan pelindung. 

Kepemimpinan yang sejati dibangun atas dasar empati dan kemampuan memahami beban yang mungkin dipikul karyawan secara diam-diam,” katanya.

Sementara itu, Randy Tazly, seorang profesional di industri perhotelan yang melakukan debut aktingnya sebagai Agus, menghadirkan nuansa yang autentik berkat pengalamannya sendiri di dunia hospitality.

“Sebagai seseorang yang bekerja di industri perhotelan, cerita ini terasa sangat personal. Pengalaman yang digambarkan dalam film ini mencerminkan apa yang banyak dari kami alami setiap hari, menciptakan rasa nyaman bagi para tamu, sambil tetap menahan kerinduan terhadap rumah kami sendiri,” imbuh Randy.

Bagi 52 Studios, Rumah Kedua merupakan langkah lanjutan dalam komitmen perusahaan untuk menghasilkan karya-karya yang memiliki makna dan tujuan.

Berdiri atas keyakinan bahwa cerita yang bermakna dapat membangun pemahaman dan hubungan antarmanusia, studio ini terus mengembangkan proyek-proyek yang memadukan kualitas penceritaan dengan dampak sosial yang positif.

Film ini mengingatkan kita bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian, tetapi juga dari hubungan yang kita bangun dan nilai-nilai yang kita bawa dalam hidup.

Ke mana pun kehidupan membawa kita, rasa kemanusiaan, kasih sayang, dan tanggung jawab tidak boleh kita tinggalkan.

Kedalaman emosi film ini juga diperkuat oleh kontribusi produser musik dan audio asal Bali, I Ketut Susila, yang memimpin produksi musik bersama Music Director 52 Studios Singapore, Chloe Low.

Selain itu, ia juga bertanggung jawab atas seluruh proses desain suara, penyuntingan dialog, serta pascaproduksi audio akhir film ini.

Bekerja sama erat dengan tim Indonesia dan Singapura, Susila membantu membangun atmosfer emosional film melalui lanskap suara yang dirancang secara cermat untuk mendukung tema kerinduan, pengorbanan, dan rasa memiliki yang menjadi inti cerita.

“Suara dan musik adalah alat penceritaan yang sangat kuat karena langsung berbicara kepada emosi manusia.

Tujuan kami bukan untuk mengarahkan apa yang harus dirasakan penonton, tetapi menciptakan ruang emosional agar mereka dapat menjalani perjalanan bersama para karakter.

Ketika penonton merasa terhubung dengan sebuah adegan tanpa menyadari alasannya, saat itulah musik dan suara telah menjalankan tugasnya dengan baik,” ujar Susila.

Gala Premiere di Bali ini menandai awal perjalanan Rumah Kedua menuju audiens yang lebih luas.

Setelah debutnya yang sukses, tim produksi berencana mengirimkan film ini ke berbagai festival film serta mengadakan pemutaran tambahan, guna membawa pesan tentang empati, rasa memiliki, dan hubungan antarmanusia kepada penonton di kawasan regional maupun internasional.

Saat kredit penutup bergulir di hadapan auditorium yang penuh di Bali, Rumah Kedua hadir bukan hanya sebagai sebuah film.

Tetapi juga sebagai bukti nyata bahwa ketika orang-orang dari negara, budaya, dan latar belakang yang berbeda bersatu dengan tujuan yang sama, mereka dapat menciptakan cerita yang benar-benar bermakna.

Editor : Rosihan Anwar
#arm hospital #film rumah kedua #gala premier #film