DENPASAR, Radar Bali.id– Riuh rendah suara tabuh gamelan bertalu-talu terdengar di kawasan Peguyangan, tepatnya di sepanjang Jalan Suradipa, Kecamatan Denpasar Utara, pada Selasa (16/6/2026).
Rupanya, sekelompok anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) sedang asyik melakoni tradisi turun-temurun di Bali, yakni ngelawang Barong Bangkung.
Tradisi ngelawang yang mementaskan tari Barong Bangkung (barong berbentuk babi) secara berkeliling dari banjar ke banjar ini biasanya marak dijumpai menjelang dan setelah hari suci Galungan dan Kuningan.
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan jalanan biasa, melainkan dipercaya oleh masyarakat Hindu di Bali sebagai ritual sakral untuk mengusir roh jahat (buta kala), menetralisasi lingkungan desa dari energi negatif, sekaligus memohon berkah kemakmuran dan kesejahteraan warga.
Dengan penuh semangat, sekelompok anak-anak asal Peguyangan ini berjalan kaki menyusuri jalanan, mendatangi rumah warga dari pintu ke pintu, hingga singgah ke area pertokoan serta tempat usaha lainnya.
Sambil menyuguhkan tarian Barong Bangkung, warga yang menyaksikan biasanya akan memberikan dana punia (sumbangan sukarela) sebagai bentuk apresiasi atas berkah dan hiburan yang dibawa anak-anak tersebut.
Putu, 11, salah satu bocah anggota kelompok yang bertugas memegang kendang, mengaku sengaja memanfaatkan momen libur semesteran ini untuk berkeliling menghibur warga. Bersama tujuh orang temannya yang rata-rata masih duduk di bangku SD, Putu mengaku kelompoknya ini baru dalam tahap belajar.
Hal itu teperas dari susunan nada musik gamelan barong bangkung mereka yang terkadang terdengar masih asal-asalan. Mereka pun mengakui belum terlalu fasih dalam bergamelan karena baru beberapa kali ini mencoba langsung ngamen di jalanan.
Kendati masih amatir, antusiasme dan mental mereka patut diacungi jempol. Aksi kreatif ini pun mendapat dukungan penuh dari orang tua masing-masing anggota. Dukungan tersebut mulai dari modal membelikan tapel (topeng) barong, aksesori pakaian, hingga seperangkat gamelan seadanya.
Perjuangan dan kelelahan mereka terbayar lunas ketika ada pemilik rumah atau pelaku usaha yang sengaja memanggil kelompok ini masuk untuk menyajikan atraksi menari.
"Kami didukung orang tua dibelikan alat seadanya. Bersyukur warga di sini cukup menghargai, kadang sengaja dipanggil untuk atraksi di depan rumah atau toko mereka," ungkap Putu dengan peluh yang mengucur di dahinya.
Tradisi ngelawang musiman ini terbukti menjadi wadah yang sangat positif bagi generasi muda Bali. Melalui media ini, anak-anak sejak dini dapat belajar langsung mengenai seni menabuh gamelan, menari, sekaligus mempererat rasa kebersamaan dan solidaritas antarwarga serta kelompok bermain mereka.[*]
Editor : Hari Puspita