Digelar 10 Tahun Sekali, Pura Ulun Danu Batur Gelar Karya Tawur Agung Manca Wali Krama 2026

Dhian Harnia Patrawati • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 08:27 WIB
Ilustrasi - Pink moon di Pura Ulun Danu Danau Batur.
Ilustrasi - Pink moon di Pura Ulun Danu Danau Batur.

 

RADAR BALI - Krama Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, telah menetapkan dudonan atau rangkaian pelaksanaan Karya Agung Tawur Manca Wali Krama di Pura Ulun Danu Batur.

Upacara suci berskala besar (Bhuta Yadnya) ini diselenggarakan setiap sepuluh tahun sekali sebagai bagian dari ikhtiar spiritual untuk menyucikan bhuana alit (diri manusia) dan bhuana agung (alam semesta), sekaligus merawat keharmonisan serta keseimbangan jagat.

Sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat utama di Bali, Pura Ulun Danu Batur memegang peranan yang sangat vital dalam sistem keagamaan maupun tata kelola sumber daya air.

Oleh karena itu, pelaksanaan karya ini diintegrasikan secara khusus dengan ritual Wana Kerthi dan Danu Kerthi. Konsep pemuliaan kawasan hutan serta sumber-sumber air tersebut berfokus pada upaya menjaga kelestarian ekosistem daratan dan perairan.

Seluruh prosesi yadnya akan berlangsung selama hampir dua bulan penuh, dimulai pada Buda Umanis Tambir, 12 Agustus 2026, hingga berakhir pada Buda Paing Wayang, 7 Oktober 2026.

Puluhan tahapan upacara dipastikan berjalan secara berkesinambungan berlandaskan wariga dan dresta Bali. Rangkaian diawali pada 12 Agustus 2026, bertepatan dengan Tilem Sasih Karo, lewat ritual penanda persiapan seperti Madamah lan Majaya-jaya, Paku Agem, Maguru Piduka, Nanceb Tetaringan, Ngunggahang Ilen-Ilen Ida Bhatara, hingga Nyukat Genah.

Tahapan penataan kawasan peyadnyan kemudian berlanjut dengan pemasangan sarana penjor dan sanggar tawang, serta ritual penyucian tempat melalui Wisuda Bhumi, Mendem Panca Datu, Melaspas Wangunan Uparengga, dan Macaru Manca Sata.

Sejumlah prosesi penting lain seperti Nyenuk, Nuur Tirta Upasaksi Karya, dan Nuur Tirta Pamuket turut digelar untuk menyucikan sarana serta kawasan upacara. Memasuki akhir Agustus hingga pertengahan September, intensitas persiapan meningkat melalui Negtegang Karya, Ngingsah, Nyangling, Ngadegang Guru Dadi, Ngadegang Rare Anggon, Ngadegang Tapini, dan Nanceb Sunari.

Pada 8 September 2026, dilaksanakan pula ritual Danu Kerthi atau Mapag Toya di Tepi Siring Segara sebagai penanda penghormatan mendalam terhadap air sebagai sumber kehidupan.

Puncak ritual kian dekat dengan diselenggarakannya Balik Sumpah Agung, Melaspas, Rsi Gana, Mendem Pedagingan, serta Matur Piuning di Pura Dalem Mrajapati dan Ngodal Ida Bhatara Dalem.

Pada 18 September 2026, digelar prosesi Malasti, Mapekelem ring Danu, dan Pakelem ring Gunung di Pura Bukit Catu yang dilanjutkan dengan Pamendak Agung demi memohon keharmonisan antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tahapan inti dari rangkaian ini berlangsung pada 21 September 2026 melalui prosesi Tawur Manca Wali Krama di Genah Peyadnyan. Pelaksanaan tawur digelar di lima penjuru mata angin, yakni Rosan Kangin, Rosan Kelod, Rosan Kauh, Rosan Kaja, dan Rosan Tengah, untuk menetralisir energi negatif serta mengembalikan keseimbangan unsur-unsur alam.

Puncak Karya Agung akan jatuh pada Saniscara Umanis Bala, 26 September 2026, bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Sejak pagi hari, umat akan melangsungkan persembahyangan di Pura Pengangket, Pura Jero Kemulan, Pura Ibu, dan Pura Segara.

Rangkaian diteruskan dengan prosesi Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan, hingga Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur sebagai puncak persembahan. 

Pascapuncak karya, pelaksanaan dilanjutkan dengan Subakti Penganyar yang diikuti secara bergiliran oleh pemerintah daerah beserta masyarakat dari seluruh kabupaten/kota se-Bali. Giliran penganyar dimulai dari Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Kota Denpasar, Gianyar, Klungkung, Buleleng, Pemerintah Provinsi Bali, hingga Kabupaten Karangasem.

Kabupaten Bangli akan menutup rangkaian penganyar pada 6 Oktober 2026, yang dirangkaikan dengan Rsi Bojana, Nuwek Bagia Pula Kerthi, dan Ida Bhatara Ngeluhur.

Seluruh perhelatan suci ini akan resmi ditutup pada Buda Paing Wayang, 7 Oktober 2026, melalui prosesi Mamungkah Penjor lan Sunari, Nganyut ke Segara, serta Ngaturang Guru Piduka.

Kelancaran dan kesucian Karya Agung ini dipandu oleh pemangku pemuka agama terkemuka. Bertindak sebagai Yajamana Karya yakni Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun bersama Ida Istri Nata Nawa Wangsa dari Gria Kedhatuan Kawista, Banjar Munduk Ngandang, Desa Blatungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan.. 

Sementara posisi Tapini Karya diampu oleh Ida Pandita Mpu Siwa Putra Dharma Daksa dari Griya Agung Linggaacala, Banjar Calo, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar serta Ida Pandita Mpu Dharma Daksa Prami dari Griya Agung Linggaacala di Pupuan, Tegallalang, Gianyar.***

Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali
Pura Ulun Danu Batur Manca Wali Krama 2026 Dudonan Karya Upacara Hindu Bali berita bali