RADAR BALI - Bulan Agustus 2026 menjadi momen yang sarat akan makna spiritual bagi umat Hindu di Bali. Berdasarkan penanggalan kalender Bali, terdapat sederet hari suci (rahinan) yang dirayakan sepanjang bulan ini.
Setiap rahinan menghadirkan filosofi mendalam, mulai dari penghormatan terhadap seni, ungkapan syukur atas rezeki dan pangan, hingga ritual penyucian diri serta keseimbangan alam semesta.
Perayaan diawali pada Sabtu, 1 Agustus 2026, dengan peringatan Tumpek Krulut. Berbeda dengan tradisi umum yang memperingati kasih sayang antarmanusia, Tumpek Krulut dapat diartikan sebagai "Hari Kasih Sayang" khas Bali yang diwujudkan melalui seni.
Pada hari ini, umat memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Iswara serta menghaturkan rasa syukur atas keberadaan gamelan dan alat musik. Keindahan harmoni nada dipercaya mampu menumbuhkan kedamaian, rasa cinta, dan keharmonisan batin.
Memasuki pertengahan minggu, tepatnya Rabu, 5 Agustus 2026, umat menyambut Buda Cemeng Merakih. Hari suci yang jatuh pada Rabu Wage Wuku Merakih ini ditujukan khusus untuk memuja Bhatara Rambut Sedana atau Dewi Sadhana sebagai penguasa kekayaan materi dan keuangan.
Secara tradisi, hari ini menjadi momen introspeksi dalam mengelola rezeki, di mana masyarakat umumnya menghindari pengeluaran berlebihan atau menagih piutang sebagai bentuk rasa syukur atas kelimpahan yang telah diterima.
Dua hari berselang, pada Jumat, 7 Agustus 2026, berlangsung perayaan Pujawali Bhatari Sri. Ritual ini berfokus pada pemujaan kepada Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan ketahanan pangan.
Penghormatan biasanya dipusatkan di lumbung padi (jineng) rumah tangga maupun pura-pura pertanian, menegaskan betapa eratnya hubungan kehidupan masyarakat Bali dengan alam dan sumber penghidupan.
Suasana mistis dan sakral terasa kian kental pada Selasa, 11 Agustus 2026, saat Anggara Kasih bertepatan langsung dengan Kajeng Kliwon. Pertemuan dua hari penting ini dianggap sebagai momen yang sangat baik untuk melakukan penyucian rohani (mewinten) serta menyucikan sarana-sarana ritual.
Anggara Kasih menjadi simbol peleburan kekotoran batin, sementara Kajeng Kliwon menandai puncak aktifnya energi alam semesta.
Keesokan harinya, Rabu, 12 Agustus 2026, dilanjutkan dengan Tilem Karo. Sebagai momen malam tanpa bulan pada bulan kedua (sasih Karo), Tilem dimanfaatkan umat untuk mengheningkan cipta melalui pemujaan kepada Dewa Surya. Ritual pembersihan (pencaruan) juga digelar untuk menetralkan energi negatif agar keharmonisan lingkungan tetap terjaga.
Menjelang akhir bulan, pada Rabu, 26 Agustus 2026, umat kembali memperingati Kajeng Kliwon. Peringatan berkala setiap 15 hari sekali ini berfokus pada menjaga keseimbangan antara mikrokosmos (diri manusia) dan makrokosmos (alam semesta). Melalui persembahan segehan di tempat-tempat strategis, kekuatan alam bawah diharmoniskan agar senantiasa mendatangkan kedamaian.
Rangkaian hari suci bulan ini ditutup dengan keindahan Purnama Katiga pada Kamis, 27 Agustus 2026. Puncak bulan penuh pada bulan ketiga kalender Bali ini diyakini sebagai momen ketika para dewa dan leluhur memancarkan sinar kesucian.
Umat berbondong-bondong melakukan persembahyangan dan pembersihan diri (melukat) memuja Dewa Chandra, memohon agar batin dan pikiran senantiasa dianugerahi terang dan ketenangan.
Melalui rangkaian rahinan sepanjang Agustus 2026 ini, masyarakat Hindu di Bali terus merawat tradisi luhur yang memadukan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam lingkungan.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali