Prof. Darma Putra Raih Penghargaan Dharma Kusuma 2026, Buah Dedikasi Puluhan Tahun Mengabdi untuk Kebudayaan Bali

Maulana Sandijaya • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 11:37 WIB
PENGHARGAAN TERTINGGI: Prof. I Nyoman Darma Putra (dua dari kanan) menerima anugerah Dharma Kusuma dari Gubernur Bali Dr. Wayan Koster. Sumber Foto: Istimewa
PENGHARGAAN TERTINGGI: Prof. I Nyoman Darma Putra (dua dari kanan) menerima anugerah Dharma Kusuma dari Gubernur Bali Dr. Wayan Koster. Sumber Foto: Istimewa

DENPASAR, Radarbali.id – Guru besar Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., mendapat anugerah Dharma Kusuma 2026 dari Gubernur Bali, Wayan Koster.  

Penyerahan anugerah dilaksanakan Jumat, 14 Agustus 2026, bertepatan dengan resepsi perayaan HUT ke-68 Pemprov Bali, di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar.

Penghargaan Dharma Kusuma merupakan anugerah penghormatan dan pengakuan Pemerintah Provinsi Bali atas jasa, prestasi, dan pencapaian seniman, budayawan, ilmuwan, dan tokoh masyarakat dalam penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali. Ada berbagai jenis penghargaan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, tetapi Dharma Kusuma dikenal sebagai penghargaan tertinggi.

Gubernur Koster mengatakan, pada dasarnya peghargaan Dharma Kusuma tidak sebanding dengan dedikasi dan kontribusi yang diberikan penerima selama berkarya dan mengabdikan diri bagi kebudayaan Bali. Penghargaan tersebut sebagai bentuk penghormatan Pemprov Bali kepada pada tokoh yang telah memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan kebudayaan Bali.

Tahun 2026, untuk pertama kalinya, penghargaan Dharma Kusuma diberikan kepada 20 tokoh, biasanya sekitar 5–7 orang. Berikut adalah ke-20 tokoh yang mendapat anugerah Dharma Kusuma masing-masing dengan bidang keunggulannya. Prof. Darma Putra (yang namanya dalam daftar keempat) adalah Korprodi S3 Kajian Budaya, dosen Prodi Sastra Indonesia, dan juga mengajar di S3 Pariwisata Fakultas Pariwisata Unud.

Prof. Dr. I Nyoman Ardjasa Wenten, M.F.A. (Seni Tari dan Karawitan); Ir. Nyoman Popo Priyatna Danes, IAI., AA. (Arsitektur); Drs. I Made Taro (Sastra dan Permainan Tradisional Bali); Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. (Sastra Modern dan Kajian Budaya); Ir. Made Widnyana Sudibya (Dokumentasi Visual dan Arsitektur); Dr. I Gusti Putu Sudarta, SSP., M.Sn. (Seni Pertunjukan); Dr. Drs. A.A. Ngr. Anom Mayun Konta Tenaya, M.Si. (Desain Busana dan Tata Rias); I Wayan Gde Yudana (Karawitan dan Musik); Drs. Made Budhiana (Seni Lukis); Ni Wayan Suratni, S.Sn., M.Sn. (Drama Gong dan Teater Tradisi); Satria Koesuma (Seni Teater dan Sastra Modern); Sang Ketut Pesan Sandiyasa, B.A. (Dramatari Arja dan Seni Vokal); Drs. Tjokorda Gde Abinanda Sukawati, M.Sn. (Desain Busana); Ni Wayan Murniasih, S.Pd. (Dramatari Arja dan Seni Vokal); Dr. I Nyoman Cerita, S.ST., M.FA. (Seni Tari); Ida Bagus Martinaya, S.Pd., M.Sos. (Karikatur, Sastra, dan Teater Modern); I Wayan Suweca, S.SKar., M.Mus. (Seni Karawitan); Drs. Tjokorda Gde Putra Artha Astawa Sukawati (Permuseuman); A.A. Ayu Kusuma Arini, S.ST., M.Si. (Seni Tari); dan Ni Wayan Nondri (Seni Pedalangan).

Pada saat yang sama juga diserahkan Kerthi Bali Sewaka Nugraha kepada lima tokoh yang dinilai memiliki dedikasi dan kontribusi nyata dalam menjaga keamanan, ketenteraman, lingkungan, penegakan hukum, serta kehidupan masyarakat Bali.

Kelima penerima penghargaan tersebut yakni Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Piek Budyakto, Kapolda Bali Irjen Pol. Daniel Adityajaya, Danrem 163/Wirasatya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, Kajati Bali Setiawan Budi Cahyono, serta Jero Gede Duhuran Batur.

Prof. I Nyoman Darma Putra masuk penerima dari kategori ilmuwan. Usai menerima penghargaan, Prof. Darma Putra mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang terkait.

”Terima kasih Bapak Gubernur Bali, terima kasih untuk Dinas Kebudayaan Bali, tim verivikasi, panitia, dan teman-teman atas segala dukungan dan bantuan,” ujar Prof. Darma Putra melalui akun media sosialnya.

Untuk mendapat penghargaan ini, calon penerima diusulkan oleh lembaga, mengisi formulir untuk informasi prestasi dan karya monumentalnya, referensi dari lembaga (lokal, nasional, internasional, daftar penghargaan, dan lain-lain) lalu diajukan ke Dinas Kebudayaan Bali.

Tim verifikasi dibentuk Disbud Bali, terdiri dari tiga tokoh yaitu Prof. Dr. I Made Bandem, M.A., Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana, M.Sn., dan Prof. I Nyoman Arya Wibawa, M.A, Ph.D. untuk menilai para calon. Prosesnya berlangsung beberapa bulan.

Alumnus Universitas Udayana (S1), University of Sydney (S2), dan University of Queensland (S3), ini sudah menerbitkan cukup banyak buku menarik dan penting di bidang kebudayaan Bali, seperti Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2000/2010), Wanita Bali Tempo Doeloe, Perspektif Masa Kini (2003/2010), Stigma Sastra Sayembara (2023), Seabad Puputan Badung: Perspektif Belanda dan Bali (2006), Heterogenitas Sastra di Bali (2021), dan Identitas Lintas Budaya: Jejak Jepang dalam Teks Sastrawan Bali (2024).

Buku Heterogenitas Sastra di Bali yang juga diakuisisi oleh Penerbit BRIN mendapat hadiah buku kritik sastra terbaik dari Kemendikbud Dikti tahun 2021. Karena prestasi ini, Darma Putra yang meraih dosen berprestasi Unud 2018 (masuk 8 besar nasional), ditunjuk menjadi juri seleksi buku kritik sastra terbaik yang dilaksanakan Badan Bahasa.

Darma Putra juga menerbitkan buku di penerbit buku internasional bergengsi yaitu Tourism Development and Terrorism in Bali (Ashgate 2007; Routledge 2018) yang ditulis bersama Michael Hitchcock (Inggris), dan buku karya sendiri yang berasal dari disertasi: A literary mirror; Balinese reflections on modernity and identity in the twentieth century (KITLV, Brill, 2011). Kedua buku banyak disitasi peneliti internasional di bidang pariwisata, terrorism, dan budaya Bali.

Dalam verifikasi oleh team yang berlangsung secara daring, calon diminta menjelaskan karya-karya penting dan yang monumental dalam konteks penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali. Menjawab pertanyaan itu, Prof. Darma Putra mengajukan dua karya monumental. Pertama, dedikasinya sebagai Juri Hadiah Sastra Rancage selama lebih dari 25 tahun, untuk penilaian sastra Bali modern. Lewat penugasan sebagai juri oleh sastrawan/Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi itu, Darma secara tidak langsung ikut mendorong perkembangan sastra Bali modern. Walau tidak sesemarak kehidupan sastra Indonesia dan sastra tradisional Bali, sastra Bali modern kian eksis, dari situasi awal bagai ‘kerakap tumbuh di batu’.

”Kalau dulu, penulis sastra Bali modern adalah penulis tua, usia 72 baru (seperti Made Sanggra) mendapat hadiah Rancage, belakangan anak-anak muda gemar menulis, usia 27 tahun (seperti Carmamira) sudah bisa meraih penghargaan Rancage,” jelasnya.

Setiap usai melakukan penjurian, Darma menyusun ulasan dan diterbitkan di media massa, kemudian ke dalam buku. Kedua, Darma Putra berhasil melahirkan dan memimpin Jurnal Kajian Bali (Universitas Udayana) yang meraih indeksasi internasional bereputasi, Scopus, Q-1 (tertinggi); dan akreditasi Sinta-1 (tertinggi). Didirikan 2011, Jurnal Kajian Bali menjadi media ilmiah bagi akademisi dan peneliti dari berbagai negara untuk mempublikasikan hasil risetnya.

Banyak mahasiswa doktor dan calon profesor yang berhasil meraih cita-citanya setelah berhasil menerbitkan karya di Jurnal Kajian Bali. Ini adalah jurnal pertama milik Universitas Udayana dan perguruan tinggi di Bali yang berhasil lolos indeksasi internasional, sebelumnya ada jurnal yang diterbitkan badan lain di luar perguruan tinggi yang sudah tutup. Lewat Jurnal Kajian Bali, Darma Putra bisa menempatkan nama Unud dan Bali dalam publikasi jurnal bereputasi internasional.

Menurut Darma Putra, Jurnal Kajian Bali meneruskan spirit Society for Balinese Studies (SBS) yang dimotori oleh dr. AAM Djelantik, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, Prof. Dr. Luh Ketut Suryani, dan Rucina Balinger yang tahun 1980-an aktif melaksanakan diskusi-diskusi kebudayaan Bali di Bali dan luar negeri, seperti Amerika, Australia, dan Eropa.

Darma Putra pernah diundang institusi perguruan tinggi di berbagai kota dunia seperti Sydney, Perth, Brisbane, Melbourne, London, Glasgow, Tokyo, Göttingen (Jerman), Leiden, Swiss, Italia, Penang, Manila, dan Singapura, untuk seminar, riset dan publikasi kolaborasi. Di forum-forum itu, Darma membawa kajian tentang budaya Bali dalam konteks budaya, sejarah, pariwisata, maupun identitas.

Beberapa tulisan Darma juga terbit dalam buku bersama sarjana internasional, seperti “Loving Guests in Bali” dalam buku Australia’s Asia: From Yellow Peril to Asian Century (diedit oleh David Walker dan Agnieszka Sobocinska) dan kajian “Puja Mandala: An Invented Icon of Bali’s Religious Tolerance?” terbit dalam buku Between Harmony and Discrimination: Negotiating Religious Identities within Majority-Minority Relationships in Bali and Lombok (Brill, 2014).Di dalam negeri, Darma juga aktif menjadi narasumber dalam berbagai diskusi dan seminar.

“Saya beberapa kali diundang sebagai narasumber Sarasehan Pesta Kesenian Bali, membahas topik seperti Cerita Panji, krisis air, dan seni pertunjukan modern,” tukas mantan jurnalis yang lama bekerja di Bali Post, majalah berita Editor, dan Australian Broadcasting Coorporation (ABC) TV/Radio itu. ***

 

Editor : Maulana Sandijaya
Sumber : radarbali.jawapos.com
Prof. I Nyoman Darma Putra Anugerah Dharma Kusuma 2026 universitas udayana gubernur bali wayan koster