Tradisi pernikahan (Pawiwahan) di Bali secara umum merupakan ikatan lahir batin antara pria dan wanita yang sah secara agama Hindu, adat, dan hukum. Prosesinya melibatkan tahap meminang (Memadik) atau ikut dengan persetujuan (Ngerorod), pencarian hari baik (Dewasa Ayu), upacara penyucian (Mebiyakala), hingga puncak acara pemujaan Pawiwidana yang dipimpin oleh Sulinggih/Pandita atau Pemangku.
INI memang peristiwa yang terbilang langka. Suasana cukup berbeda dan sangat unik tersaji dalam tradisi Pawiwahan Agung yang digelar di Puri Agung Singasana Tabanan.
Meskipun dilaksanakan secara sederhana, prosesi pernikahan agung ini tidak mengikis sedikit pun nuansa sakralnya.
Menariknya, sebelum akad digelar, ada tradisi langka yang sempat vakum selama 60 tahun kembali dihidupkan, yakni ritual penggunaan Gamelan Gong Beri dan Joli Kerajaan.
Momen bersejarah tersebut berlangsung pada Minggu (16/8/2026). Peristiwa ini menjadi bentuk nyata pelestarian budaya Bali dan dresta puri setelah enam dekade tidak pernah terselenggara.
Pawiwahan Agung dengan prosesi lengkap ala kerajaan ini menandai kebangkitan tradisi sakral yang menghubungkan kejayaan masa lalu Tabanan dengan generasi masa kini. Acara ini melibatkan dua keluarga besar, yakni Puri Agung Singasana dan Puri Dangin Tabanan.
Rangkaian upacara dilaksanakan dalam kategori Utama, atas keputusan bersama kedua keluarga besar puri demi melestarikan warisan leluhur yang nyaris punah. Bagi masyarakat Tabanan dan pecinta budaya Bali, ini bukan sekadar perayaan pernikahan biasa, melainkan restorasi memori kolektif tentang keagungan adat istiadat dan budaya puri.
Dalam prosesinya, mempelai pria diarak menggunakan Joli (tandu usung) menuju rumah mempelai wanita di Puri Dangin Tabanan. Menempuh jarak sekitar satu kilometer, iringan berjalan kaki tersebut dikawal gamelan Gong Beri, Bebandrangan, Gong Suling, serta irig-iringan keluarga besar Puri.
Setibanya di Puri Dangin Tabanan, dilaksanakan upacara adat dan ritual Mungkah Lawang. Setelah prosesi usai, mempelai wanita diajak menuju Puri Agung Singasana ditandu menggunakan Joli bersama mempelai pria.
Rangkaian ritual sakral ini digelar sebelum akad puncak antara mempelai pria, I Gusti Ngurah Bagus Arya Dananjaya dari Puri Agung Singasana Tabanan, dan mempelai wanita, Sagung Putri Trian Dewi dari Puri Dangin Tabanan.
Manggala Karya Pawiwahan Agung Puri Agung Singasana, Dr. I Gusti Ngurah Ardana, didampingi Pasemetonan Puri Agung Singasana Tabanan, I Gusti Ngurah Bagus Rudy Hermawan, menegaskan bahwa meski digelar sederhana, Pawiwahan Agung ini syarat akan nilai sejarah.
Salah satu yang menyedot perhatian adalah kebangkitan ritual Gong Beri yang sarat akulturasi dan bernuansa magis.
"Ini adalah kali pertama dalam 60 tahun terakhir Gong Beri bergema lagi untuk mengiringi arakan mempelai kerajaan di Tabanan. Ini bukan sekadar musik, ini adalah suara sejarah yang hidup kembali," ujar Ngurah Ardana.
Gong Beri merupakan instrumen sakral hasil akulturasi budaya Bali-China di masa lampau yang hanya dimainkan dalam peristiwa sangat khusus, seperti pawiwahan keluarga dekat kerajaan atau upacara sakral lainnya. Kombinasi gong berukuran khusus, klenteng (kenong gaya China), kendang, dan suling menghasilkan ritme yang magis dan berbobot untuk mengatur langkah barisan (mepeed).
Selain Gamelan Gong Beri, kemegahan visual diwarnai dengan pengawalan perlengkapan kebesaran puri, seperti Tombak Bandrang dan Tedung Agung (payung agung).
Prosesi diawali ritual Ngungkab Lawang (ketuk pintu suci) oleh dua Sulinggih dan dua Juru Gending yang menembangkan syair kidung/kekawin. Usai sungkem dan pamit kepada orang tua, kedua mempelai diarak menuju Puri Agung Singasana Tabanan.
Di depan pintu masuk (Apit Surang) Puri Agung, pengantin wanita disambut Banten Penyapa oleh ibu mempelai pria, didahului penyingkapan kerudung sebagai simbol penerimaan resmi ke lingkungan keluarga baru.
Rangkaian upacara dipuncaki pada Rabu (19/8/2026) melalui prosesi Mesakapan dan Widi Widana. Di dalamnya terdapat ritual Mesop-sopan (saling suap makanan sebagai simbol kebersamaan dan komitmen rumah tangga) serta Meangget-anggetan (memetik daun sebagai bagian Medagang-dagangan yang melambangkan tawar-menawar kehidupan, kesabaran, dan harapan rezeki).
Tiga hari pascapuncak acara, pada Sabtu (22/8/2026), kedua mempelai beserta keluarga besar akan melaksanakan upacara Ngunye di Puri Dangin Tabanan berupa persembahyangan bersama di Merajan Puri yang dipimpin Sulinggih sebagai penutup rangkaian acara.
"Pertautan asmara antara kedua insan dari keluarga puri ini, yang dianggap sebagai kuasa Sang Hyang Kamajaya dan Kamaratih, menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali mengenal dan menghargai kedalaman filosofi adat Bali," pungkas Ngurah Ardana.
Raja Tabanan, Ida Cokorda Anglurah Tabanan, menegaskan prosesi ini merupakan bagian dari menjaga dresta kuno puri. "Kami berharap prosesi ini berjalan dengan lancar," singkatnya.
Sementara itu, Ketua Pasemetonan Puri Dangin Tabanan, I Gusti Ngurah Gede Nugraha, menambahkan bahwa pernikahan agung serupa pernah dilaksanakan leluhur sekitar tahun 1967 silam.
"Bagi kami, ini bukan sekadar mengulang upacara masa lalu. Ada nilai, makna, doa, dan warisan budaya yang ingin kami jaga. Kami tidak bermaksud membangkitkan feodalisme atau sekat keturunan, melainkan merawat jati diri di tengah perubahan zaman," tegas Ngurah Nugraha. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali