Puncak upacara Ngusaba Madya Jagat di Pura Batumedawu, Nusa Penida, berlangsung khidmat pada hari suci Rahina Purnama Kapat, Sabtu (26/9/2026). Menyusul puncak ritual tersebut, hari ini, Minggu (27/9/2026).
YANG berlangsung dalam tradisi Nyepi Segara ini adalah menghentikan seluruh aktivitas bahari di perairan Nusa Penida selama kurun 24 jam.
Baca Juga: Anjungan Desa Adat Tista Rampung, Bidik Destinasi Baru dengan Gerakan Tanam 1.000 Cemara
Dalam puncak ritual Ngusaba Madya Jagat pada Sabtu (26/9/2026), Ketua Umum Pura Batumedawu, I Made Wijaya, mengungkapkan bahwa berbagai prosesi sakral telah dipuput dengan lancar.
Di antaranya ritual Taur Madya, Mapadanan, Nangluk Merana, Mapekelem Madya Segara, hingga Pawitenan.
Baca Juga: Puncak Yadnya Massal Desa Adat Kwanji Bupati dan Wabup Badung Komit Dukung Tradisi Adat dan Agama
Rangkaian ini menjadi momentum krusial bagi umat Hindu dan masyarakat setempat untuk penyucian diri, memohon keseimbangan alam, serta mengaitkan kembali hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kekuatan niskala.
”Ngusaba Madya Jagat tidak hanya dipahami sebagai sebuah rangkaian ritual keagamaan, tetapi juga sebagai ruang kebudayaan yang mempertemukan manusia, alam, ruang sakral, dan kesadaran kosmis. Tahun ini, Pura Batumedawu bertindak sebagai penyelenggara secara bergiliran bersama Pura Penataran Ped,” urainya.
Sehari pascapuncak ritual, suasana perairan Nusa Penida mendadak hening seiring diterapkannya Nyepi Segara. Selama 24 jam penuh, tidak ada aktivitas penyeberangan, nelayan, maupun wisata bahari di kawasan laut tersebut. Hal ini menjadi bentuk penghormatan mendalam terhadap alam sekaligus memberi waktu bagi ekosistem laut untuk 'beristirahat'.
”Ketika aktivitas laut berhenti selama sehari, sesungguhnya manusia tidak sedang kehilangan waktu. Sebaliknya, manusia sedang diberi kesempatan untuk mendengarkan kembali suara alam, membaca kembali keterhubungannya dengan kehidupan, dan menyadari bahwa manusia hanyalah salah satu bagian dari jagat yang lebih luas,” pungkas Made Wijaya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali