Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ketika Mahasiswi Antropologi Norwegia Belajar Kesenian Burdah di Desa Pegayaman: Mempelajar Sisi Lain Bali yang Unik

Francelino Junior • Sabtu, 4 Mei 2024 | 21:50 WIB
PELAJARI KESENIAN BURDAH : Mahasiswi Norwegia belajar kesenian burdah Desa Pegayaman. Mereka merupakan mahasiswi program studi antropologi sosial.(francelino junior)
PELAJARI KESENIAN BURDAH : Mahasiswi Norwegia belajar kesenian burdah Desa Pegayaman. Mereka merupakan mahasiswi program studi antropologi sosial.(francelino junior)

Sejumlah mahasiswa asal Norwegia tertarik mempelajari kesenian di warga muslim Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Sembilan orang mahasiswi Eropa Utara  ini akan mempelajari seluk-beluk kesenian tersebut.

RASA ketertarikan itu yang mendorong mereka mempelajari kesenian. Mereka datang untuk belajar mengenai kesenian burdah, pada Jumat (3 /5/2024) pagi. 

Kedatangan mereka untuk meneliti sekaligus wisata penelitian kesenian burdah, bersama dengan mahasiswa Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. 

 Baca Juga: Melihat Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Pegayaman, Sokok Base Ditetapkan sebagai Warisan Budaya 

Mereka datang ke SDN 1 Pegayaman, kemudian bertemu dengan para siswa di sana. Setelah itu mereka disuguhkan kesenian burdah. 

Untuk diketahui, kesenian burdah Desa Pegayaman merupakan kesenian yang menggunakan alat musik sejenis rebana. Para pemain akan mengumandangkan syair berlogat Bali, tetapi liriknya berbahasa Arab. 

Setelah itu mereka akan duduk membentuk setengah lingkaran sembari terus mengumandangkan syair. 

Di tengah pementasan, akan ada dua orang yang maju untuk menampilkan atraksi pencak belebet. Dua orang itu membawa potongan rutan kemudian saling bertarung. 

Vilde Brager-Larsen, salah satu mahasiswi Norwegia mengatakan kedatangan mereka dalam rangka field trip atau peninjauan lapangan, yang merupakan salah satu bagian dari perkuliahan antropologi sosial di kampusnya. 

“Saya belajar antropologi sosial, jadi bagian dari perkuliahan adalah peninjauan lapangan ke Bali, untuk melihat kebudayaan lain yang ada di Bali,” ujarnya ditemui di sela-sela kegiatan. 

Mengenai kesenian burdah, Vilde merasa sangat tertarik karena kesenian tersebut, terlebih ia yang dari Norwegia, melihat atraktifnya para seniman beraksi. 

“Tentu saja saya sangat tertarik untuk belajar lebih lagi tentang kesenian ini. Terlebih melihat anak-anak di sini,” lanjutnya. 

Sementara itu, Ida Bagus Oka Wedasantara, Ketua Panitia menjelaskan bila para mahasiswi dari Norwegia itu akan belajar antropologi sosial selama empat bulan, di Desa Pegayaman. 

Program yang disebutnya dengan nama goes study itu, memang mendatangkan mahasiswa dari berbagai negara untuk belajar antropologi sosial. Salah satunya mahasiswa dari Norwegia. 

 

Nantinya, para mahasiswi bule itu akan didampingi dosen dan mahasiswi Universitas Udayana untuk mewawancarai warga tentang kesenian yang ada di Desa Pegayaman. Salah satunya kesenian burdah. 

 

“Ini salah satu field trip, karena ada case study mereka mengenai budaya lokal di Indonesia. Jadi kita ajak ke Desa Pegayaman untuk mengetahui sisi lain di Bali, karena Bali biasanya dikenal dengan Hinduistik,” ujar pria yang juga dosen Universitas Udayana. 

 

Oka mengatakan, sebelumnya para mahasiswi Norwegia itu diajak ke Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli; juga ke Pura Maduwe Karang dan Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng. 

 

“Harapan kita, mereka bisa lebih paham budaya lokal Indonesia khususnya Bali. Apalagi Bali kesannya Hinduistik, tetapi sebenarnya tidak hanya budaya kehinduan saja, tetapi juga ada budaya keislaman,” tambahnya. 

 

Terpisah, Ketut Muhammad Suharto, Tokoh Masyarakat Desa Pegayaman mengatakan ditampilkannya kesenian burdah di hadapan para mahasiswi Norwegia itu, karena kesenian tersebut memang menampilkan akulturasi budaya antara Hindu dan Islam. 

 

“Kesenian burdah itu akulturasinya kental, antara Bali dan Islam Pegayaman. Pakaian dan kidungnya mirip dengan orang Bali. Jadi memang asli dan kental,” jelasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#burdah #kesenian islam #antropologi #buleleng