DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Sang maestro seni Bali, I Wayan Dibia, tak pernah surut dalam melestarikan kebudayaan. Kini, ia bersama Kadek Wahyudita melatih tari untuk puluhan mahasiswa di Korea Selatan, tepatnya di Seoul Institute of the Arts.
Negara yang populer dengan industri hiburan seperti K-Pop, drama dan film itu ternyata menerima budaya luar.
Prof. Dibia telah tiba di Ansan City sejak 18 Mei 2026. Ia mengajari sekitar 40 mahasiswa laki-laki dan perempuan menari kecak. Menariknya, meski asing dengan tarian Bali, tetapi mahasiswa tersebut bisa menari hanya dengan latihan sebanyak tiga kali.
Para mahasiswa mampu menampilkan tari kecak berdurasi 10 menit di halaman terbuka kampus pada Rabu, 27 Mei 2026, di hadapan civitas akademika.
Bagi Prof. Dibia, pelatihan itu bukan sekadar mengajarkan pola vokal dan gerak tubuh, tetapi mampu menyampaikan makna filosofi hidup masyarakat Bali ke ruang latihan di Negeri Ginseng tersebut.
Prof. Dibia menjelaskan sejarah adanya tari kecak yang berakar dari tari sanghyang. Kini, populer menjadi kecak Ramayana yang dikenal luas sebagai ikon seni pertunjukan Bali.
Dalam tari tersebut, ada struktur orkestrasi vokal dalam kecak, mulai dari pola cak ocel, kilitan telu, hingga kilitan nem. Dalam susunan suara yang saling mengisi itu mencerminkan kehidupan komunal masyarakat Bali yang menjunjung kebersamaan dan harmoni banjar.
"Cak... cak... cak... itu perpaduan suara dalam kecak menggambarkan semangat gotong royong masyarakat Bali. Jadi, kecak bukan hanya tontonan, tetapi juga cerminan nilai budaya,” ungkap Prof. Dibia saat dikonfirmasi, Rabu (27/5/2026).
Para mahasiswa Seoul Institute of the Arts akan tampil dalam ajang PKB ke-48 di Bali. Mereka akan menampilkan musik tradisional Korea, tari tradisional, hingga karya kolaborasi seni Korea-Bali.
Kolaborasi itu lahir dari kerja sama antara Seoul Institute of the Arts dengan Institut Seni Indonesia Bali yang telah menandatangani nota kesepahaman beberapa bulan lalu.
Kerja sama Korsel dengan Bali bukan kali ini saja, tetapi sebelumnya, seniman musik Bali, I Wayan Sudirana, juga pernah diundang kampus tersebut untuk memperkenalkan seni budaya Bali kepada mahasiswa Korea.
Harapannya dalam penampilan kesenian, Bali tidak hanya sekadar menunjukkan seni, tetapi juga memperluas pengaruh budaya dan filosofi hidupnya.***