DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Wayang klasik dihidupkan dalam lukisan. Wayang yang merupakan seni warisan leluhur tersebut terus hidup, tapi tidak kaku.
Pandangan itu disampaikan dewan juri Wimbakara (Lomba) Seni Lukis Wayang Klasik Bali PKB XLVIII Tahun 2026, ditemui di sela-sela puluhan karya peserta di Taman Budaya Bali, Denpasar, kemarin (15/6/2026).
Sebanyak 44 peserta hadir dari berbagai kabupaten dan kota di Bali. Dalam waktu 3 jam, mereka mampu menyelesaikan karya lukis wayang klasik Bali mulai dari pembuatan sketsa hingga proses pewarnaan.
Tiga dewan juri, yakni Made Yasana, Made Rinu, dan Made Bendi Yudha ikut menilai. Penilaiannya mulai dari ketepatan pakem wayang klasik, proporsi anatomi tokoh, komposisi, teknik pewarnaan, hingga nilai estetika karya secara keseluruhan.
Dewan Juri, Made Yasana menjelaskan, seni lukis wayang klasik Bali memiliki pakem yang tidak boleh diubah karena sebagai identitas utama. Namun, diberikan ruang kreativitas seperti hiasan pada wayang. Sedangkan yang tidak dapat diubah ada pada bagian-bagian mendasar seperti bentuk mata, gelungan, karakter tokoh, dan unsur pokok lainnya tidak boleh diubah.
“Yang kriterianya tak boleh diubah itu adalah akarnya, pakemnya. Ada yang dapat diubah sesaluknya, hiasannya. Kalau pakem berkaitan dengan gelung, dan karakter tokoh itu tidak boleh diubah,” terangnya.
Peserta tetap diberikan ruang seperti bagian pakaian, ornamen, maupun unsur dekoratif lainnya. Selama tidak menghilangkan karakter dasar wayang klasik, pengembangan justru dinilai penting untuk memperkaya karya seni.
Bagi Yasana, ukuran keberhasilan sebuah karya tidak hanya ditentukan oleh ketepatan pakem, tetapi juga keharmonisan komposisi dan keindahan visual secara keseluruhan.
“Yang penting hasil akhirnya pangus dan indah. Proporsinya cocok, payasnya benar, sehingga antara pakem dan kreativitas bisa berjalan seimbang,” katanya.
Yasana berharap generasi muda tidak sekadar meniru karya-karya lama, tetapi juga berani mengembangkan kreativitas dengan tetap berpijak pada pakem yang benar.
Pelestarian itu bukan hanya sebagai mempertahankan seni secara kaku tanpa adanya perkembangan. Justru melalui inovasi dan kreativitas, seni tradisi akan tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
“Lestari itu bukan berarti mati, justru berkembang sesuai kebutuhan zamannya. Kalau tidak berkembang, seni itu bisa kehilangan kehidupan dan hanya menjadi tiruan semata,” tandasnya.
Harapannya, ada regenerasi wayang klasik Bali secara kuantitas dan kualitas sehingga warisan seni tradisi tetap lestari dan berkembang dari generasi ke generasi.***
Editor : M.Ridwan