Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Masalah Kemampuan Anggaran Picu Ketimpangan Partisipasi di PKB, Pemprov Bali Suntik Insentif Rp 500 Juta untuk 6 Kabupaten

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 22 Juni 2026 | 05:38 WIB
DIALOG BUDAYA: Diskusi yang diikuti oleh anggota Kawiya Bali dan wartawan budaya dari berbagai media itu menghadirkan dua narasumber, yakni akademisi Prof. I Gede Arya Sugiartha dan Dr. I Kadek Suartaya. (ADRIAN SUWANTO/radarbali.id)
DIALOG BUDAYA: Diskusi yang diikuti oleh anggota Kawiya Bali dan wartawan budaya dari berbagai media itu menghadirkan dua narasumber, yakni akademisi Prof. I Gede Arya Sugiartha dan Dr. I Kadek Suartaya. (ADRIAN SUWANTO/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) bukan sekadar ajang tahunan, namun wadah pelestarian budaya serta upaya penyelamatan seniman dan warisan budaya Bali pasca-tragedi kemanusiaan tahun 1965-1966.

Hanya saja, terdapat sorotan mengenai ketimpangan anggaran di setiap kabupaten/kota yang ditengarai oleh kesanggupan fiskal masing-masing daerah.

​Diskusi yang diikuti oleh anggota Kawiya Bali dan wartawan budaya dari berbagai media itu menghadirkan dua narasumber, yakni akademisi Prof. I Gede Arya Sugiartha dan Dr. I Kadek Suartaya, serta dimoderatori oleh Ida Ayu Frisca Mahayani.

​Prof. Arya Sugiartha mengungkapkan masalah pendanaam menjadi pemicu  persoalan ketimpangan keikutsertaan setiap kabupaten/kota dalam mengikuti keseluruhan agenda PKB.

Ia mengakui, Pemprov Bali sudah memberikan insentif sebesar Rp 500 juta untuk enam kabupaten, di luar Badung, Denpasar, dan Gianyar. Harapannya, insentif ini dapat memaksimalkan partisipasi daerah-daerah tersebut dalam mengikuti hajatan tahunan Pemprov Bali."Itu Pemprov Bali dikasih merata," kata Prof Arya.

​Mantan Kadisbud Bali ini membeberkan anggaran untuk PKB di setiap kabupaten/kota. Tertinggi adalah Kabupaten Badung yang menganggarkan Rp 7,5 miliar. Kemudian disusul Gianyar Rp 5,5 miliar, Denpasar Rp 3,9 miliar, Tabanan Rp 2,5 miliar, Klungkung Rp 1,4 miliar, Jembrana Rp 1,4 miliar, Buleleng Rp 1,1 miliar, Bangli Rp 900 juta, dan Karangasem Rp 872 juta.

"Sebesar itu memang kemampuan finansial masing-masing. Padahal potensi seniman hebat semua. Di Bali tidak ada lagi seniman Sarbagita yang lebih hebat, saya sudah survei kehebatan komposer, koreografer, penabuh, dan penari semuanya sama sekarang di setiap daerah. Jangan  bicarakan honor, mereka juga perlu biaya latihan, biaya pakaian, dan transportasi. Itu semua harus didukung, kan pentasnya di Ardha Candra," terang Prof. Arya dalam Diskusi Budaya yang digelar Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Jumat (19/6).

​Salah satu solusi untuk menyetarakan atau meningkatkan partisipasi tersebut adalah dengan mendongkrak kemampuan perekonomian kabupaten/kota agar dapat setara.

"Programnya Gubernur adalah bagaimana meningkatkan PAD masing-masing daerah," beber Prof. Arya.

​Dijelaskan, kalau tujuan awal PKB adalah menyelamatkan seniman dan menjaga keberlangsungan tradisi seni Bali.

Seiring perkembangan zaman, PKB kemudian bertransformasi menjadi ekosistem kebudayaan yang lebih luas; tidak hanya sebagai ruang pertunjukan, tetapi juga sebagai wahana dialog, edukasi, dokumentasi, dan pewarisan budaya.

Dalam konteks kekinian, Prof. Arya menilai peran seniman senior tetap sangat penting sebagai penjaga memori budaya, sumber pengetahuan, sekaligus pembimbing bagi generasi muda.

Mereka kini lebih banyak berperan sebagai kurator, juri, pembina, dan narasumber, sementara pelaksanaan karya dan pertunjukan banyak dilakukan oleh seniman muda.

​"Seniman senior menjadi transmisi pengetahuan, termasuk etika berkesenian. Kreativitas harus tetap berjalan, tetapi tidak boleh mengabaikan nilai-nilai dan etika budaya Bali," ujarnya.

​Di sisi lain, ia mengakui generasi muda memiliki keunggulan berupa akses pendidikan formal seni, penguasaan teknologi, jaringan global, serta keberanian melakukan eksplorasi dan kolaborasi lintas disiplin. Namun, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan agar inovasi yang dilakukan tidak menjauh dari akar tradisi.

​Karena itu, Arya mengusulkan sejumlah strategi keberlanjutan PKB, antara lain melalui program Maestro dan Murid Kreatif, digitalisasi dokumentasi karya dan pengetahuan seni, kolaborasi lintas generasi, serta dialog budaya yang mempertemukan seniman senior dan muda.

​"Keberhasilan PKB ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara pelestarian dan inovasi. Inovasi bukan memutus rantai tradisi, melainkan mentransformasikan nilai tradisi ke dalam bahasa artistik yang relevan dengan zamannya," tegasnya.

​Sementara itu, Dr. I Kadek Suartaya menilai selama ini PKB lebih banyak menampilkan kemeriahan pertunjukan, namun belum memberikan ruang yang cukup bagi para maestro dan penggagas seni untuk mendokumentasikan serta membagikan pemikiran mereka.

​Menurutnya, pemikiran para seniman merupakan aset peradaban yang tidak kalah penting dibanding karya seni yang dipentaskan di panggung.

Sebab, di balik setiap karya seni terdapat gagasan, pengetahuan, dan kearifan yang menjadi fondasi penciptaannya. Seperti Adi Merdangga pada tahun 1984 yang berawal dari gagasan Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra, untuk menghadirkan bentuk drumband berkarakter tradisional namun tetap modern dan inovatif. Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan oleh para seniman dan akademisi seni hingga menjadi sebuah karya monumental.

​"Yang sering terlupakan adalah proses berpikir di balik lahirnya karya tersebut. Jika pemikiran para maestro tidak didokumentasikan, kita akan kehilangan pengetahuan yang sangat berharga bagi generasi berikutnya," katanya.***

Editor : M.Ridwan
#PKB ke 48 #kendala fiskal #pesta kesenian bali