Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026, Tampilkan Busana Kimono dengan Wastra Endek Bali 

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 22 Juni 2026 | 06:47 WIB
Pergelaran busana khas Jepang yang memukau di Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 ini digelar di Gedung Kerta Sabha Sabtu (20/6/2026). 
Pergelaran busana khas Jepang yang memukau di Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 ini digelar di Gedung Kerta Sabha Sabtu (20/6/2026). 

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Pesta Kesenian Bali (PKB) tidak hanya menjadi panggung kesenian lokal, melainkan juga jembatan persahabatan menjembatani Bali dengan dunia internasional.

Salah satu buktinya tersaji dalam rangkaian PKB XLVIII pada Sabtu (20/6) malam, saat Kimono Gallery Yawara dari Tokyo membawakan pergelaran busana khas Jepang yang memukau.

Acara yang menjadi bagian dari Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 ini digelar di Gedung Kerta Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar.

Dalam pergelaran ini, Kimono Gallery Yawara menampilkan mahakarya unik: sebuah busana yang memadukan keindahan kimono tradisional Jepang dengan keanggunan wastra Nusantara, khususnya kain endek Bali.

Hadir langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster, mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang Heri Akhmadi, serta rombongan delegasi Jepang yang untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam PKB melalui ajang BWCC 2026.

Pergelaran malam itu dibuka dengan dentuman bertenaga dari Taiko. Alat musik tradisional Jepang tersebut langsung menyedot perhatian penonton. Setelah itu penonton menikmati peragaan busana.

Berbagai jenis kimono diperkenalkan satu per satu, lengkap dengan narasi filosofi, fungsi, dan penggunaannya dalam kehidupan masyarakat Jepang.

Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Miyakawa Katsutoshi, mengungkapkan Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha merupakan tema dari PKB memiliki keselarasan yang mendalam dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat Jepang.

"Malam ini, bintang utamanya tentu adalah salah satu simbol budaya Jepang yang paling ikonik di dunia, yaitu kimono. Bagi masyarakat Jepang, kimono jauh lebih dari sekadar busana tradisional,” ungkap Miyakawa.

Miyakawa menjelaskan, setiap warna dan motif pada kimono menyimpan makna tersendiri.

Motif bunga sakura melambangkan keindahan kehidupan yang fana, bambu melambangkan kedamaian dan harapan umur panjang, sedangkan motif ombak menggambarkan keteguhan hati serta keharmonisan dengan alam semesta.

Filosofi tersebut memiliki banyak kemiripan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam wastra endek Bali.

Oleh karena itu, perpaduan kimono dan endek menjadi simbol indahnya persahabatan budaya yang terus bertumbuh.

"Perpaduan ini bukan sekadar kolaborasi fesyen, melainkan sebuah dialog budaya. 

Ini menunjukkan bahwa dua tradisi yang berbeda bisa saling bertemu, saling menginspirasi, dan melahirkan kreativitas baru tanpa kehilangan identitas aslinya,” tambahnya.

Pada sesi pertama, penonton diajak menyelami ragam kimono tradisional. Setidaknya ada 11 jenis busana yang diperagakan.

Garis runway dibuka oleh Kurotomesode, kimono formal kasta tertinggi berwarna hitam yang biasa dikenakan oleh ibu pengantin atau keluarga dekat dalam upacara pernikahan.

Selanjutnya tampil Furisode, kimono berlengan panjang nan anggun yang identik dengan perempuan muda dan biasa digunakan saat perayaan kedewasaan (Seijin no Hi) di Jepang.

Disusul kemudian oleh Homongi, kimono untuk menghadiri acara resmi dan kunjungan penting, serta Tsukesage yang serupa namun memiliki motif yang lebih bersahaja.

Gubernur Wayan Koster menyampaikan kehadiran delegasi Jepang ini menjadi bentuk diplomasi budaya yang manis guna mempererat hubungan antara Bali dan Jepang.

“Ini baru pertama kalinya. Terima kasih kepada Bapak Heri serta tim yang telah hadir, sekaligus memeriahkan Pesta Kesenian Bali yang disinergikan dengan Bali World Culture Celebration,” ujar Koster.

Koster menjelaskan, BWCC merupakan langkah strategis Pemerintah Provinsi Bali untuk memperkuat dan memajukan kebudayaan lokal. Melalui ruang pertukaran budaya ini,

Bali menghadirkan karya seni dari berbagai daerah dan negara sahabat.

PKB sendiri, sejak pertama kali digelar pada 20 Juni 1979, terbukti mampu konsisten bertahan hingga memasuki penyelenggaraan ke-48 tahun ini.

Terkait hubungan bilateral, kerja sama Bali dan Jepang selama ini berkembang sangat baik, termasuk dalam program magang dan penempatan tenaga kerja bagi generasi muda Bali di Jepang.

“Orang Bali itu sedikit bicara banyak kerja, serta tekun. Karakter ini sangat cocok dengan etos kerja masyarakat Jepang,” imbuh Koster.

Penonton juga diperkenalkan dengan Komon dan Edo Komon, kimono bercorak repetitif untuk kehidupan sehari-hari.

Dari kejauhan motifnya tampak sederhana, namun saat dilihat dari dekat, ia memancarkan detail rumit hasil keterampilan tinggi para perajin Jepang.

Tak hanya busana wanita, panggung juga dimeriahkan oleh kimono pria berbahan katun yang dipadukan dengan obi Hakata.

Ada pula Hakama, busana formal yang lazim dikenakan saat upacara kelulusan, serta kimono anak perempuan yang menggemaskan, biasa digunakan dalam tradisi Shichi-Go-San (perayaan tumbuh kembang anak usia tiga, lima, dan tujuh tahun).

Memasuki sesi kedua, suasana semakin hangat saat Kimono Gallery Yawara menampilkan koleksi kolaborasi lintas negara. Tidak hanya endek Bali, kolaborasi ini juga melibatkan keelokan batik Jawa dan sejumlah tenun Nusantara lainnya.

Pergelaran yang turut dihadiri oleh Ketua Dekranasda Bali Ni Luh Putri Suastini Koster, komunitas Jepang di Bali, para desainer, serta pegiat budaya ini berlangsung hangat hingga akhir acara.

Melalui panggung BWCC 2026, kimono Jepang dan wastra Indonesia membuktikan bahwa pakaian bukan sekadar penutup tubuh, melainkan lembar-lembar sejarah dan media dialog budaya yang dinamis melintasi zaman. 

Editor : Rosihan Anwar
#pkb 2026 #Disbud Bali