Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tak Cukup Hanya Dipentaskan, Kesenian Langka Bali Butuh Inventarisasi dan Web Digital, Desa Adat Kunci Regenerasi

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 22 Juni 2026 | 20:45 WIB
DIGITALISASI: Diskusi Budaya yang digelar oleh Kawiya dan PWI Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya (Art Center) Denpasar, Senin (22/6/2026). (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)
DIGITALISASI: Diskusi Budaya yang digelar oleh Kawiya dan PWI Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya (Art Center) Denpasar, Senin (22/6/2026). (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Kesenian langka di Bali terancam punah karena kurangnya kepedulian dari para pewaris untuk melestarikannya. Dibutuhkan rekonstruksi dan keberlanjutan, tidak cukup hanya dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB).

​"Bukan sekadar panggung pertunjukan. Banyak yang direkonstruksi, setelah event PKB kembali ke desa dan tidur lagi. Itu yang tidak diharapkan. Harus ada strategi lain, harus dipantau," kata Prof. Ida Ayu Trisnawati saat Diskusi Budaya yang digelar oleh Kawiya dan PWI Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya (Art Center) Denpasar, kemarin (22/6).

​Disampaikan pula di era digital saat ini, terutama melalui media sosial, arus kelahiran kesenian baru menjadi sangat cepat. Di sisi lain, fungsi asli dari suatu proses kesenian kini sulit ditemukan karena telah memasuki masa modern.

Salah satu yang menjadi kendala selama ini adalah masalah pendanaan, sehingga seniman atau tokoh adat kesulitan untuk menjaga dan melestarikan kesenian tersebut.

​"Keterbatasan pendanaan. Dananya tidak otomatis, padahal itu sama dengan darah (bagi kesenian)," terang Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali tersebut.

​Untuk menjaga kelestarian kesenian langka, dibutuhkan data yang kuat, salah satunya dengan membuat wadah berupa peta sebaran seni di Bali.

Selain itu, melalui PKB, diharapkan dapat diciptakan film dokumenter dan juga museum virtual.

​"Perlu ada film dokumenter PKB agar Pesta Kesenian Bali tidak kelihatan monoton, perlu penampilan lain. Museum juga bisa menampilkan koleksi secara virtual," bebernya.

​Salah satu yang bertanggung jawab mengajegkan kesenian langka adalah desa adat, namun tetap berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota serta pemerintah provinsi Bali.

Disinggung seberapa penting kesenian langka direkonstruksi, Prof. Trisna mengatakan, kebutuhan rekonstruksi ini berlandaskan pada kondisi kesenian yang berusia tua dan terancam hilang. Jika tidak dibangun ulang, minimal ada dokumentasi supaya terdata.

​"Menggali kembali kesenian klasik yang tersebar di desa-desa dan memberikan ruang ekspresi untuk menampilkan hasil kreativitas," bebernya.

​Sementara itu, Komang Maryana alias Mang Bo, selaku narasumber sekaligus praktisi seni langka, menerangkan bahwa kesenian langka sulit eksis karena kurang dipedulikan oleh generasi penerusnya.

​"Posisi kita bagaimana kesenian langka itu bisa bertahan kalau tidak dipedulikan pewarisnya. Tanggung jawab pewaris-lah yang menjaga, kalau memang sudah punya pemikiran (kepedulian) seperti itu," imbuh

​Mang Bo mengungkapkan, pembuatan web digital sangat penting, namun desa adat adalah kunci utama dalam menghidupkan seni langka. Kesenian langka tersebut umumnya berusia tua, salah satunya adalah tari Wali karena muncul sekitar abad ke-11. 

​"Wali adalah salah satu contoh bagaimana kesenian langka itu hidup. Dalam hal ini, pemimpin desa harus tahu fungsi ritual kesenian tersebut. Di beberapa tempat ada yang abai karena menganggapnya kurang penting di era kekinian, padahal itu bagian dari pemujaan dan persembahan. Kalau persembahannya berupa tari, ya itu harus dijalankan. Jika tari sakral tidak ada regenerasi, makanya menjadi langka," beber praktisi yang pernah rekonstruksi gamelan gambang, ini. 

​Untuk mencegah kepunahan, kata Mang Bo, kesenian tersebut harus terus difungsikan. Jika aktivitasnya dibatasi, seperti salah satu contohnya saat pandemi Covid-19 lalu, hal itu justru akan memutus mata rantai pelestarian kesenian langka.

"Kalau tidak ada narasi yang dibangun dari pemerintah sampai ke desa adat, saya yakin ke depan kita malah akan belajar sama orang asing karena mereka lebih ketat dalam melakukan inventarisasi data. Apakah akan terus seperti itu? Narasi dan perspektif yang sama harus dibangun bersama-sama agar generasi baru bisa bangkit untuk melestarikan yang langka," jelasnya.***

Editor : M.Ridwan
#diskusi budaya #Pesta Kesenian Bali 2023 #kesenian langka #pkb