DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Diskusi hangat dan konstruktif bergulir di Pojok Media Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII. Acara yang diinisiasi oleh Kawiya bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali ini membedah masa depan budaya dan kesenian di Pulau Dewata.
Salah satu sesi yang mencuri perhatian mengangkat tema Peran Kreativitas Generasi Muda dalam Inovasi Seni. Diskusi yang dipandu oleh sastrawan I Made Adnyana Ole di Art Centre, Kamis (25/6/2026), ini menghadirkan dua narasumber kompeten: A.A. Gede Agung Rahma Putra, (akademisi dan praktisi) serta I Wayan Ary Wijaya, S.Sn. (komposer).
Sebuah pertanyaan menohok pun mengemuka sejauh mana inovasi seni boleh dilakukan?Dengan tegas dan lugas, Ary Wijaya menjawab bahwa berkesenian wajib berpijak pada konsep desa, kala, dan patra (tempat, waktu, dan kondisi).
"Berkarya itu harus pintar-pintar memilih ruang, sepanjang tidak menabrak aturan tertulis. Jangan takut berbeda. Yang penting, buat embrio karyanya jadi terlebih dahulu," ujarnya memotivasi.
Kreativitas generasi muda memang menjadi kunci krusial dalam menjaga keberlanjutan seni budaya Bali di tengah derasnya arus modernisasi.
Namun, inovasi yang lahir pantang memutus akar tradisi; ia harus tumbuh subur dari nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Ary Wijaya yang juga seorang akademisi ini menilai bahwa di era modern, teknologi digital telah menjelma menjadi instrumen penting dalam proses penciptaan karya tanpa harus mengikis identitas budaya yang menjadi akar utamanya.
Baca Juga: Jadwal PKB ke-48, Hari Ini, Jumat, 26 Juni 2026
Menurutnya, teknologi bukanlah ancaman bagi tradisi, melainkan alat bantu yang mempercepat proses kreatif sekaligus membuka gerbang bagi lahirnya gagasan-gagasan segar.
Pengaruh budaya luar yang masuk pun dapat disaring melalui visi berkesenian yang tetap berlandaskan nilai tradisi Bali.
Ary mencontohkan perkembangan dalam dunia gamelan Bali yang terus melahirkan pola dan transisi baru.
Inovasi yang awalnya dianggap asing atau tidak biasa, lambat laun justru diterima oleh masyarakat dan bertransformasi menjadi bagian dari perkembangan tradisi itu sendiri.
"Yang penting bukan sekadar asal tampil berbeda, tetapi bagaimana seniman terus berkarya dan melahirkan pembaruan tanpa kehilangan karakter budaya yang menjadi jati dirinya," cetusnya.
Lebih lanjut, Ary menyoroti peran media digital yang sejak dekade 1990-an telah membantu para seniman mendokumentasikan ide kreatif, merekam suara gamelan, hingga melakukan berbagai eksperimen artistik secara lebih efisien.
Teknologi terbukti memangkas waktu penciptaan karya tanpa mengurangi substansi dan nilai tradisi yang diangkat.
Apresiasi terhadap semangat berkesenian generasi muda juga datang dari Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Bali, Nyoman Winata.
Ia menilai forum diskusi budaya seperti ini sangat krusial untuk terus dihadirkan dalam rangkaian PKB sebagai ruang temu gagasan, pengalaman, dan perspektif lintas generasi.
Winata memandang perkembangan dunia seni Bali saat ini menunjukkan gairah yang sangat menggembirakan.
Hal ini tecermin dari tingginya antusiasme generasi muda dalam mengikuti berbagai lomba dan pagelaran seni sepanjang PKB berlangsung.
"Dulu, siapa yang mau menarikan Barong kecuali pemangku? Sekarang, anak-anak muda luar biasa antusias. Penari Barong tumbuh sangat masif. Begitu pula pemain gender, anak-anak sekarang hebat-hebat dan memiliki kemampuan yang luar biasa," ungkapnya .
Melihat fenomena positif ini, Winata optimistis seni inovatif akan terus melahirkan seniman-seniman muda berbakat yang mampu membawa seni Bali relevan dengan tuntutan zaman.
Kendati demikian, ia kembali mengingatkan agar inovasi tetap berdiri kokoh di atas fondasi tradisi.***
Editor : M.Ridwan