Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menghidupkan Kembali Taksu Legong Klasik Kelandis Warisan Maestro Ni Pollok

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 26 Juni 2026 | 21:26 WIB

 

KLASIK: Komunitas Seni Ni Pollok dari Banjar Kelandis, Desa Sumerta Kauh ikut dalam pergelaran Tari Legong di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII pada Kamis (25/6/2026 ( Sumberradarbali.id)
KLASIK: Komunitas Seni Ni Pollok dari Banjar Kelandis, Desa Sumerta Kauh ikut dalam pergelaran Tari Legong di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII pada Kamis (25/6/2026 ( Sumberradarbali.id)

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Penampilan Komunitas Seni Ni Pollok dari Banjar Kelandis, Desa Sumerta Kauh, Denpasar Timur memukau  dalam pergelaran Tari Legong di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII pada Kamis (25/6/2026).

Sejak tabuh pembuka dimainkan, para seniman, budayawan, akademisi, hingga wisatawan tetap bertahan di tempat demi menyaksikan kebangkitan warisan budaya Bali yang sempat lama terpendam.

Dalam acara tersebut, Komunitas Ni Pollok menampilkan rekonstruksi Legong Keraton Lasem gaya klasik Kelandis, sebuah karya seni yang dipopulerkan oleh penari legendaris Ni Pollok pada era 1930-an.

Pementasan ini berhasil menghidupkan kembali gaya tari asli dengan tetap menjaga pakem, kekuatan ekspresi, serta interpretasi cerita Raden Panji yang mendekati bentuk asalnya.

​Upaya pelestarian ini menuai pujian dari maestro seni sekaligus Kurator PKB, Prof. Dr. I Made Bandem. Ia menilai bahwa rekonstruksi ini merupakan pencapaian penting dalam mengembalikan estetika Legong klasik tanpa menghilangkan kesakralannya, serta mengapresiasi para penari dan penabuh yang sukses menghidupkan kembali gaya tahun 1930-an tersebut.

Keistimewaan Legong Lasem Kelandis ini terletak pada bagian penutupnya. Berbeda dengan versi umum yang disudahi oleh tokoh Garuda atau struktur gedong, variasi Kelandis justru memunculkan sosok Rangda.

Melalui hasil kajian, kehadiran Rangda bukan sekadar pemanis panggung, melainkan memiliki esensi teologis dan psikologis yang memperkuat jalinan cerita.

​Maestro tari Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia, juga menyatakan kekagumannya terhadap pertunjukan ini. Ia menyoroti iringan tabuh bernuansa janger yang menjadi ciri khas sekaa tersebut, yang dinilai membuat PKB semakin variatif dan tidak monoton.

Mengenai kemunculan Rangda, penata tari Ida Ayu Gede Sastrani Widiastuti memaparkan bahwa sosok tersebut merupakan representasi dari puncak kekuatan magis dan kemarahan Raden Inukertapati. Unsur inilah yang mempertebal atmosfer mistis sekaligus memancarkan taksu yang kuat sepanjang pementasan.

​Di samping struktur cerita, pertunjukan ini juga sukses memunculkan kembali teknik tari khas Ni Pollok yang terkenal enerjik sekaligus luwes.

Karakteristik utama seperti gerakan tubuh yang kokoh, kelenturan bahu, langkah kaki ngumbang, sledet yang tajam tapi proporsional, hingga teknik nyregseg dan nguntang laras berhasil dihidupkan lagi lewat riset mendalam dan studi dokumentasi arsip.

 Keberhasilan rekonstruksi ini tidak lepas dari peran Kadek Sandra Widari selaku Koordinator Komunitas Ni Pollok. Berbekal pengalaman dilatih langsung oleh Ni Pollok semasa hidupnya serta pendalaman lewat rekaman video, ia mampu membawa kembali karakter asli sang maestro ke atas panggung.

Pementasan yang diawali dengan tabuh pembuka, disusul penampilan Barong, tabuh karawitan, dan ditutup oleh Legong Keraton Lasem khas Kelandis ini menjadi bukti nyata bahwa seni tradisi Bali dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi muda tanpa kehilangan jiwa serta nilai luhurnya.***

 

Editor : M.Ridwan
#PKB XLVIII #Ni Pollok #tari legong #pesta kesenian bali