Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Agenda Lengkap Penglipuran Village Festival 2026: Intip Jadwal Parade Gebogan dan Tari Kolosal

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 1 Juli 2026 | 06:48 WIB
ilustrasi parade gebogan.
ilustrasi parade gebogan.

 

RADAR BALI - Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli kembali bersiap menyuguhkan pesona tradisinya.

Pihak pengelola Desa Adat Penglipuran secara resmi mengumumkan gelaran tahunan Penglipuran Village Festival XIII yang akan berlangsung selama tiga hari penuh, mulai 9 hingga 11 Juli 2026.

Tahun ini, festival legendaris tersebut mengusung tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif”.

Melalui tema ini, pengelola menegaskan adanya pergeseran paradigma pariwisata di Penglipuran.

Mereka tidak lagi sekadar mengejar kuantitas kunjungan demi menghindari dampak buruk overtourism, melainkan berfokus pada pariwisata berbasis kualitas.

Momentum ini menjadi pembuktian bagaimana sebuah desa wisata mampu menjaga akar adat dan merawat kelestarian lingkungan secara nyata, sembari tetap memberikan dampak ekonomi langsung bagi krama desa.

Seluruh rangkaian acara dikemas menarik menggunakan konsep 4S (Something to Do, Something to See, Something to Buy, dan Something to Learn).

Bagi Anda yang mengincar momen ikonik berupa iring-iringan sesajen khas Bali, berikut adalah jadwal lengkap pergelaran budaya, termasuk jadwal festival gebogan yang dinanti-nanti:

Hari Pertama: Kamis, 9 Juli 2026 (Puncak Parade Gebogan & Tari Kolosal)

Hari pembuka menjadi momen paling krusial karena di sinilah daya tarik utama festival disajikan.

Acara akan diawali dengan prosesi penyambutan tamu resmi yang langsung disambung dengan Pawai Budaya & Parade Gebogan.

Wisatawan akan disuguhi pemandangan estetis barisan warga desa yang mengenakan pakaian adat tempo dulu sambil mengusung gebogan, sesajen bertingkat dari buah dan jajanan lokal, di atas kepala mereka.

Setelah parade, kemeriahan berlanjut pada pembukaan resmi yang menampilkan Tari Kolosal & Seni Klasik. Panggung budaya akan digetarkan oleh pertunjukan legong klasik bertajuk Tari Palegongan “Raksan Gumi” (Penjaga Bumi). Bersamaan dengan itu, pameran produk lokal dan UMKM resmi dibuka untuk umum.

Hari Kedua: Jumat, 10 Juli 2026 (Edukasi Lingkungan & Estetika Tempo Dulu)

Memasuki hari kedua, fokus acara bergeser pada pelestarian alam dan warisan leluhur melalui Workshop Lingkungan & Edukasi.

Dalam sesi ini, pengunjung diajak mendalami tata kelola hutan bambu, pengelolaan air, serta hukum adat (awig-awig) yang selama ini menjaga keasrian Penglipuran. Ada pula lokakarya langsung kerajinan anyaman bambu tradisional.

Sore harinya, suasana desa akan semakin bernuansa nostalgia dengan diadakannya Lomba Busana Tempoe Doloe, sebuah kompetisi pakaian tradisional khas Bali zaman dulu yang bertujuan melestarikan estetika lokal. Hari kedua ini akan ditutup dengan kehangatan pertunjukan panggung dari musisi-musisi lokal Bali.

Hari Ketiga: Sabtu, 11 Juli 2026 (Kebugaran Bersama & Penutupan)

Hari terakhir festival diawali dengan kegiatan penyegaran pikiran melalui sesi Yoga Tertawa. Aktivitas kebugaran dan kesehatan mental ini melibatkan interaksi langsung antara wisatawan dan warga lokal dalam suasana penuh kegembiraan.

Sebagai pemungkas seluruh rangkaian festival, Panggung Hiburan Musik Lokal akan hadir menghibur pengunjung hingga malam hari.

Ruang Ramah Disabilitas dan Komitmen Lingkungan

Ada yang berbeda pada pelaksanaan Penglipuran Village Festival ke-13 ini. Pihak panitia berkomitmen menghadirkan pariwisata inklusif dengan memberikan ruang ramah bagi penyandang disabilitas.

Seniman dan perajin disabilitas lokal dilibatkan secara aktif untuk memamerkan karya terbaik mereka di stand UMKM, memberikan mereka kesempatan yang setara dalam ekosistem pariwisata daerah.

Badan Usaha Desa Adat Penglipuran memproyeksikan target kunjungan harian berada di angka 3.000 hingga 4.000 wisatawan per hari. 

Pembatasan ini dilakukan agar kuota kunjungan tetap berada dalam batas aman daya dukung (carrying capacity) desa, sehingga tidak menimbulkan kemacetan parah atau kejenuhan lingkungan.

Sebagai langkah konkret, panitia juga menerapkan aturan ketat pengurangan plastik sekali pakai, mengampanyekan gerakan membawa botol minum sendiri (tumbler), serta mengoptimalkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang saat ini tengah dikembangkan bersama Bank Indonesia.***

Editor : Ibnu Yunianto
#Penglipuran Village Festival 2026 #Festival Gebogan Bali #Jadwal Penglipuran Festival #Wisata Budaya Bangli #desa wisata penglipuran