Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Publikasi Pesta Kesenian Bali Diharapkan Tak Sekadar Pertunjukkan, Cek Begini Arahnya!

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 7 Juli 2026 | 00:18 WIB
PRODUKTIF: Diskusi di Pojok Media bahas Peran Media dalam Publikasi dan Dokumentasi Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali bersama Komunitas Wartawan Budaya (Kawiya) Bali serangkaian PKB XLVIII Tahun 2026, di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Denpasar, sENIN (6/7/2026) (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)
PRODUKTIF: Diskusi di Pojok Media bahas Peran Media dalam Publikasi dan Dokumentasi Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali bersama Komunitas Wartawan Budaya (Kawiya) Bali serangkaian PKB XLVIII Tahun 2026, di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Denpasar, sENIN (6/7/2026) (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)

 

"Jangan hanya berhenti pada potret kegiatan. Yang lebih penting adalah mengangkat dinamika kebudayaan sehingga PKB memiliki dokumentasi intelektual yang bisa menjadi referensi pada masa mendatang.”

 

IGM DWIKORA PUTRA

Dewan Kehormatan Provinsi PWI Bali

 

​DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Publikasi menjadi salah satu tonggak kesuksesan Pesta Kesenian Bali (PKB). Tidak cukup hanya sebatas mempublikasikan, tapi juga dituntut menjadi penjernih informasi serta merekam dinamika kebudayaan secara utuh.

Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Nyoman Darma Putra mengatakan, jurnalis berperan besar pengaruhnya.

"Jangan sampai masyarakat hanya mengonsumsi informasi yang belum tentu benar dari media sosial. 

Di sinilah media arus utama memiliki tanggung jawab untuk menjernihkan informasi,” terangnya dalam Diskusi Budaya bertajuk Peran Media dalam Publikasi dan Dokumentasi Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali bersama Komunitas Wartawan Budaya (Kawiya) Bali serangkaian PKB XLVIII Tahun 2026, di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Denpasar, Senin (6/7/2026).

​Diskusi yang dipandu I Made Sujaya dengan menghadirkan narasumber Dewan Kehormatan Provinsi PWI Bali, IGM Dwikora Putra.

Dwikora Putra menambahkan, media massa memiliki tanggung jawab lebih besar dibanding hanya memberitakan rangkaian kegiatan PKB. 

Pers bertugas memberikan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Wartawan juga diingatkan agar tidak terpaku pada liputan seremonial berupa dokumentasi pertunjukan semata.

Menurut Dwikora, dalam memberitakan PKB sebaiknya dilakukan dalam tiga tahapan, yakni sebelum, selama, dan setelah pelaksanaan PKB.

 Baca Juga: Mahasiswa Korsel Akan Tampil di PKB, Sajikan  Teater Topeng Tradisional Korea

​Pada tahap pra-PKB, media dapat mengangkat tema, konsep, kesiapan penyelenggara, hingga diskursus kebudayaan yang melatarbelakangi pelaksanaan festival.

Saat PKB berlangsung, media tidak hanya menyajikan laporan kegiatan, tetapi juga mengulas dinamika, gagasan, maupun perkembangan seni budaya yang muncul.

Setelah PKB berakhir, media perlu melakukan evaluasi dan memberikan catatan kritis terhadap penyelenggaraan festival.

"Jangan hanya berhenti pada potret kegiatan. Yang lebih penting adalah mengangkat dinamika kebudayaan sehingga PKB memiliki dokumentasi intelektual yang bisa menjadi referensi pada masa mendatang,” katanya.

 Baca Juga: Konsulat-Jenderal Australia Sambut Ibu Putri Suastini Koster Diskusi tentang Budaya, Seni, dan Pemberdayaan Perempuan di Bali

​Sementara itu, Prof. Nyoman Darma Putra menilai kontribusi media terhadap keberlangsungan PKB,  sarana publikasi maupun dokumentasi perjalanan kebudayaan Bali.

"Kalau tidak ada pemberitaan media, kita akan kehilangan banyak catatan tentang perjalanan PKB. Peran media sudah sangat jelas dan tidak perlu diragukan lagi,” ujarnya.

​Darma Putra mendorong sanggar maupun yayasan seni menjalin kerja sama dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). 

Perusahaan, termasuk perbankan dan industri perhotelan di Bali, didorong untuk berkomitmen mendukung pelestarian budaya namun masih mencari saluran yang tepat."Saya kira banyak perusahaan di Bali yang sebenarnya ingin menyalurkan CSR mereka,” tandasnya.***

Editor : M.Ridwan
#PKB ke 48 #Pesta Kesenian Bali 2026 #diskusi budaya #publikasi