Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kolaborasi Mahasiswa Korsel dan Bali,  Pentaskan "Pangeran Kodok" dengan Paduan Musik Dua Negara

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 10 Juli 2026 | 06:27 WIB
KOLABORASI: Membawakan cerita Godokan dibawakan oleh mahasiswa Seoul Institute of the Arts dan mahasiswa Bali saat Pesta Kesenian Bali (PKB), di Gedung Ksirarnawa, Rabu malam (8/7/2026). (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)
KOLABORASI: Membawakan cerita Godokan dibawakan oleh mahasiswa Seoul Institute of the Arts dan mahasiswa Bali saat Pesta Kesenian Bali (PKB), di Gedung Ksirarnawa, Rabu malam (8/7/2026). (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Cerita Pangeran Kodok, atau dalam bahasa Bali disebut Godogan, berhasil dipentaskan oleh mahasiswa dari Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan, dan mahasiswa di Bali di Gedung Ksirarnawa, Rabu malam (8/7/2026). Alat musik tradisional kedua negara saling berpadu dengan gamelan Bali.

Mahasiswa dari Negeri Gingseng tersebut tampak mengenakan hanbok (pakaian tradisional Korea Selatan). Suara suling bambu panjang (daegeum) dan alat musik gesek (haegeum) menambah dramatis pertunjukan pertama melalui tetabuhan yang berjudul, Bayu Nada.

Koreografer garapan tersebut yang juga budayawan, Prof. I Wayan Dibia, menjelaskan, ide ini muncul saat adanya pertukaran akademik antara kedua institusi pendidikan tersebut.

Drama Tari Godogan ini menjadi hasil kolaborasi yang mengangkat kisah perjalanan penyucian diri untuk menjadi sosok yang lebih baik.

Terinspirasi dari cerita rakyat Bali, garapan ini menyajikan bagaimana seekor kodok melakukan penyucian diri untuk menemukan wujud aslinya sebagai manusia yang utuh.

Baca Juga: Jibom Gegana Sterilkan Hotel Merusaka, Polda Bali Pastikan Forum Menteri ASEAN Aman

Atas petunjuk Dewata Agung, topeng kodoknya lepas dan ia kembali ke wujud awalnya sebagai Pangeran Jenggala.

Menurut Prof. Dibia, proses penciptaan karya bersama ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satunya adalah kendala bahasa, karena tidak semua mahasiswa Korsel bisa berbahasa Inggris.

Namun, hal itu tidak menjadi hambatan yang berarti. Selain itu, masing-masing budaya juga memiliki karakter dan pakem tersendiri.

"Tidak semua berbahasa Inggris, tapi itu bukan alasan dan hambatan. Paling penting adalah dapat menyajikan sebuah cerita rakyat yang populer di kalangan masyarakat Korea Selatan. Di Bali pun punya cerita ini, dan mereka juga memiliki ekspresi kerakyatan yang memudahkan kolaborasi," jelasnya.

Jumlah seniman yang terlibat dalam kolaborasi ini sebanyak 25 orang dari Korea Selatan dan 15 orang mahasiswa dari Bali.

Baca Juga: Cek Fakta! WNA Rusia Diculik 30 Jam di Kuta Selatan Bali, Dipaksa Serahkan Aset Kripto?

Sementara itu, Founder Seoul Institute of the Arts, Yoo Duk-hyung atau Mr. Yoo, mengaku sangat tertarik dengan Bali sehingga menjalin kerja sama dengan ISI Bali. Kekayaan seni dan budaya di Bali dinilai memiliki nilai universal yang bisa menjadi jembatan hubungan antarbangsa.

"Saya mencintai Bali, masyarakatnya, dan keseniannya. Karena itu, kami ingin membangun kerja sama yang berkelanjutan dengan ISI Bali," ujarnya dalam jumpa media.

Presiden Seoul Institute of the Arts, Chang Ji-hyung, menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk terus mengembangkan karya seni baru yang mempertemukan tradisi Bali dan Korea.

"Kami sangat terkesan dengan budaya Bali. Kerja sama ini akan terus dilanjutkan untuk mencari bentuk-bentuk kesenian baru," pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
#Seoul Institute of the Arts #Cerita Pangeran Kodok #Korea Selatan #radarbali