Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tantangan Meramu Musik dan Puisi di FSBJ VIII, Juri Harapkan Karya Muspus Lebih Segar

Ni Kadek Novi Febriani • Rabu, 15 Juli 2026 | 15:40 WIB
Penampilan peserta musikalisasi puisi di Festival Bali Jani (FSBJ) VIII, Rabu (15/7). (Foto: Sumber Radar Bali)
Penampilan peserta musikalisasi puisi di Festival Bali Jani (FSBJ) VIII, Rabu (15/7). (Foto: Sumber Radar Bali)

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Sembilan kelompok tampil apik dalam lomba musikalisasi puisi di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Rabu (15/7/2026).

Kendati ada penurunan jumlah peserta dibandingkan tahun lalu, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para peserta.

Musikalisasi puisi adalah penggabungan musik dan puisi sebagai satu sinergi. Dalam lomba ini, para peserta hanya diberikan waktu 13 hingga 14 menit untuk tampil.

Tema puisi yang dibawakan beragam, mulai dari yang bernuansa religius seperti Widya Sari, sosial, renungan kematian (ngaben), hingga kepahlawanan.

Namun, puisi dan musik tidak bisa sembarangan dipadukan jika tidak sesuai.

Para peserta diharapkan dapat menerjemahkan tema FSBJ VIII, yakni "Kambara Sukma Atma Kerthi" atau pengembaraan menuju jiwa mahasuci.

Tema ini dimaknai sebagai upaya perjalanan jiwa menuju kemahardikaan mahasuci.

Adapun FSBJ ini diselenggarakan dengan tujuan untuk pemajuan seni modern dan kontemporer yang bersifat inovatif.

Salah satu juri, Tan Lioe Ie, mengatakan bahwa dari pengamatannya saat melakukan penilaian, masih ada peserta yang salah tangkap karena tema yang disajikan bersifat kontemplatif.

"Mengajak kita merenung, tapi ada yang salah tangkap. Makanya diminta reading lagi.

Baca lagi dengan cermat supaya tertangkap apa sebenarnya tawaran puisi, sehingga ketika diekspresikan bersinergi dengan musik, semua kena," terang Sastrawan berambut putih ini.

Sementara itu, Ketut Sumerjana, yang juga bertindak selaku juri, mengatakan hal senada.

Ia menekankan agar interpretasi terhadap puisi dilakukan terlebih dahulu sebelum digarap menjadi musikalisasi puisi. 

"Harusnya lebih soft karena religi, tapi terlalu heroik. Mungkin harus ada workshop," ungkapnya.

Sumerjana menyarankan pentingnya digelar workshop untuk para seniman musikalisasi puisi.

Di samping itu, ia melihat beberapa peserta telah mampu memadukan puisi dengan musik secara apik sehingga memberikan sesuatu yang baru dan pesan puisinya tersampaikan.

"Sesuai dengan visi yang diinginkan oleh panitia juga untuk terus baru," cetus Sumerjana.

Lebih lanjut ia menyampaikan, pergelaran lomba musikalisasi puisi ke depannya harus lebih mempertimbangkan nilai kebaruan. 

Tan Lioe Ie menyambung, kalau acara Festival Seni Bali Jani, yang mana kata 'Jani' sendiri memiliki makna 'sekarang'.

"Kalau cuma diulang-ulang tidak ada gini, kan tidak ada progres. Harapan kami itu," Sambungnya.

Yulian Kruscov Binti, yang juga menjadi juri, menyoroti hal serupa.

Menurutnya, masih ada peserta yang salah memahami esensi musikalisasi puisi sehingga penampilannya terasa biasa saja.

Akan tetapi, ada juga kelompok yang tampil sesuai dengan harapannya karena mampu menemukan titik temu antara musik dan puisi.

"Peserta sudah mengupayakan dan mencoba menerjemahkan, walau ada grup yang tidak mencapai pemahaman utuh dari musikalisasi puisi," tandas Yulian.

Editor : Rosihan Anwar
Festival Seni Bali Jani 2026 Disbud Bali