DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Pagelaran musik di Panggung Madya Mandala tidak hanya menyuguhkan alunan nada, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam.
Sanggar Eka Mahardika Putra berhasil mengubah deretan lagu menjadi sebuah narasi cerita yang membawa pesan tentang kehidupan, alam, budaya, dan harapan masa depan.
Konsep bercerita lewat nada itulah yang dihadirkan dalam pagelaran musik bertajuk “Sang Surya Sampun Metangi” dengan tema Menyongsong Indahnya Permata Katulistiwa.
Pementasan ini digelar dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Selasa (16/6/2026).
Dalam penampilannya, Sanggar Eka Mahardika Putra membawakan sepuluh lagu yang disusun saling berkaitan hingga membentuk satu alur cerita yang utuh.
Meski tidak menampilkan penokohan lengkap seperti pementasan fragmentari pada umumnya, setiap lagu menjadi bagian dari perjalanan kisah yang berhasil memikat penonton untuk mengikuti pertunjukan hingga akhir.
Sanggar yang bermarkas di Kota Denpasar ini sukses memadukan musik pop modern dengan kekuatan gamelan Bali.
Perpaduan instrumen diatonis, pentatonis, slendro, pelog, hingga nada kromatis menghasilkan warna musik baru yang segar tanpa menghilangkan karakter kuat dari budaya Bali.
Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, turut menyaksikan langsung penampilan para seniman muda tersebut.
Ia menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kreativitas generasi muda Bali yang mampu menghadirkan karya inovatif dengan tetap menjaga akar budaya daerah.
“Baru tiga lagu saya menonton, tetapi rasanya luar biasa. Saya senang sekali melihat talenta-talenta muda Bali yang masih terus diasah melalui kegiatan seperti Bali Jani ini,” ujar Putri Koster.
Pagelaran ini didominasi oleh penyanyi anak-anak dan remaja. Tidak hanya memamerkan kemampuan vokal yang apik, mereka juga menunjukkan kebolehan menari dengan berbagai properti pendukung seperti kipas dan bunga.
Penampilan yang atraktif tersebut mendapat sambutan hangat dari penonton yang memadati area pertunjukan.
Pendiri Sanggar Eka Mahardika Putra sekaligus penata vokal, musik, tabuh, pencipta lagu, dan arranger, Drs. I Gede Eka Putra, mengungkapkan bahwa karya ini mengusung konsep kolaborasi etnik yang menjembatani tradisi dan modernitas.
“Kami menampilkan kolaborasi etnik dengan tetap berakar pada kesenian tradisional, tetapi digarap secara modern.
Ini bukan pop band biasa, melainkan perpaduan musik diatonis, pentatonis, slendro, pelog, sampai nada kromatis yang kami satukan,” jelas Eka Putra.
Ia memaparkan bahwa sepuluh lagu dalam pertunjukan tersebut disusun layaknya perjalanan siklus kehidupan manusia.
Penampilan diawali dengan terbitnya matahari sebagai simbol awal kehidupan melalui lagu Gita Swara Alit Mahardika dan Sang Surya Sampun Metangi, kemudian kisah berlanjut pada penggambaran keindahan alam melalui lagu Damar di Langit.
Pesan kepedulian terhadap lingkungan kemudian disampaikan secara lugas melalui lagu Sampah Sampah Lulu Lulu dan Bali Ning Bali.
Pada bagian akhir pertunjukan, suasana optimisme dan harapan dihadirkan melalui lagu Putri Cening Ayu, potret kehidupan masyarakat pesisir dalam Juru Pencar, hingga pesan untuk mencintai alam dan budaya melalui lagu Permata Khatulistiwa, Gita Permata Khatulistiwa, dan Eka Mahardika.
Menurut Eka Putra, persiapan untuk pertunjukan ini berlangsung sekitar tiga bulan sejak awal Mei 2026.
Hampir seluruh lagu yang dibawakan merupakan karya ciptaannya sendiri, kecuali lagu rakyat Putri Cening Ayu dan Juru Pencar yang diaransemen ulang agar selaras dengan konsep pertunjukan.
“Pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah pentingnya menjaga keberlanjutan seni budaya Bali melalui tiga pilar utama, yaitu pelestarian, pengembangan, dan pembinaan generasi muda,” tegasnya.
Eka juga menyampaikan apresiasinya terhadap Festival Seni Bali Jani yang telah menyediakan ruang kreativitas yang luas bagi para seniman.
Baginya, FSBJ menjadi oase yang sangat penting bagi perkembangan seni Bali, terutama setelah para seniman sempat mengalami pembatasan aktivitas selama pandemi Covid-19.
“Kalau dulu kami sering tampil di Pesta Kesenian Bali, lalu setelah pandemi sempat berhenti.
Sekarang, Bali Jani menjadi wadah baru untuk menampilkan kolaborasi etnik yang menjadi ciri khas kami,” kata Eka Putra.
Di sisi lain, Putri Koster menilai perkembangan musik pop Bali saat ini telah menunjukkan arah yang sangat positif.
Menurutnya, musik modern justru bisa berkembang lebih kaya ketika bersanding dengan unsur budaya lokal seperti gamelan Bali.
“Musiknya memang pop modern, tetapi akar budayanya tetap terasa kuat.
Nuansa gamelan Bali tetap terdengar sehingga melahirkan sesuatu yang unik,” tuturnya.
Ia berharap para seniman Bali tidak pernah lelah menghasilkan karya kreatif yang menjunjung tinggi nilai budaya, etika, dan estetika.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memperluas ruang berkesenian bagi generasi muda agar kreativitas mereka dapat terus tumbuh dan berkembang.
Melalui penampilannya di FSBJ VIII, Sanggar Eka Mahardika Putra berhasil membuktikan bahwa tradisi tidak harus mandek di masa lalu.
Dengan sentuhan kreativitas yang segar dari generasi muda, musik Bali terbukti dapat terus tumbuh dan tak lekang oleh waktu.
Editor : Rosihan Anwar