DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Teater Jungut Sari asal Sukawati, Gianyar, angkat persoalan tajen ke panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (16/7/2026).
Peserta lomba teater itu memperlihatkan kehidupan masyarakat Bali di kawasan pertajenan.
Tidak soal judi semata, tapi juga menyoroti persoalan kemiskinan, pengkhianatan, kekuasaan, hingga ironi kehidupan masyarakat.
Dalam bahasa Bali, Keok atau Kaon berarti kalah. Namun, kekalahan yang diangkat bukan hanya seekor ayam yang tumbang di arena, melainkan kekalahan manusia ketika hilangnya harga diri, harapan, dan keluarganya.
Baca Juga: Didatangkan dari Batam, Vape Mengandung Narkotika Laku Keras di Bali
Karya Ibed Surgana Yoga tersebut mengisahkan Made Surya dan Luh Sandat, pasangan suami istri yang mengais rezeki dari berjualan di kawasan kalangan tajen.
Kesulitan ekonomi membuat Made Surya nekat ikut metajen demi memperoleh biaya upacara ngaben ayahnya.
Pertunjukan menguras emosi penonton karena larut dalam berbagai emosi. Adegan-adegan sedih yang didominasi konflik keluarga dipadukan dengan dialog komedi sehingga alur tidak terasa berat.
Penonton bergantian tertawa, tegang, hingga terdiam ketika memasuki adegan penutup saat Luh Sandat menangisi jasad Made Surya.
Penggarap Teater Jungut Sari, I Kadek Aria Dwi Diana Putra Wigunaha atau Andi, mengatakan hal yang berbeda dari sebelumnya karena musikalitas.
Pertunjukan tersebut berada dalam kategori drama modern.
Baca Juga: Profil dan Statistik Tim Geypens, Amunisi Baru Lini Belakang Bali United
"Kami mencoba membawa hal-hal baru melalui musikalitas. Pada bagian pembuka kami memperkenalkan dunia tajen lewat koreografi musikal. Elemen-elemen panggung kami susun sedemikian rupa sehingga bambu yang sederhana bisa berubah menjadi tempat duduk, pagar, bahkan kalangan tajen," ujarnya.
Menurut Andi, pemilihan naskah Keok bukan tanpa alasan. Dari sejumlah naskah yang disiapkan panitia, kelompoknya menilai karya tersebut paling dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Bali.
"Tajen itu menarik karena banyak isu yang bisa diangkat. Memang ada yang memandang negatif karena identik dengan perjudian, tetapi di sisi lain ada perputaran ekonomi yang besar. Banyak pedagang dan UMKM menggantungkan hidup di sana. Kami ingin menghadirkan dua sisi itu agar menjadi refleksi bersama," katanya.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com