Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Peserta Lomba Baca Puisi FSBJ VIII Membeludak, Diharapkan Lahirkan Seniman Orisinal

Ni Kadek Novi Febriani • Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:31 WIB
Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Citta Kelangen ISI Bali, Jumat (17/7) hingga Sabtu (18/7).   
Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Citta Kelangen ISI Bali, Jumat (17/7) hingga Sabtu (18/7).   

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com Lomba baca puisi di gelar dua hari karena jumlah peserta yang banyak Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Citta Kelangen ISI Bali, Jumat (17/7) hingga Sabtu (18/7).   

Jumlah pendaftar bahkan membuat pihak panitia harus menerapkan pembatasan waktu pendaftaran guna menjaga efisiensi jalannya kompetisi. Penampilan peserta pun dibagi menjadi 2 kelompok hari. 

Masing-masing peserta diberi waktu maksimal 9 menit untuk menunjukkan penampilannya dihadap dewan juri yang terdiri dari AA Mas Ruscitadewi, Ni Wayan Eka Pranita Dewi, dan Dewa Putu Sahadewa.

Puisi wajib yang dibawakan berjudul “Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar” karya Frans Nadjira.

Puisi pilihan di antaranya “Abad yang Luka” (Tan Lioe Ie), “Senja Menggantung di Langit” (Putu Vivi Lestari), “Perempuan di Puputan Klungkung “ (Alit S. Rini).

Mas Ruscitadewi mengungkapkan panitia menyaringnya hingga menyisakan 50 peserta terbaik yang berhak melaju ke babak final. 

Guna menjaga kualitas penilaian, jalannya final dibagi ke dalam dua hari pelaksanaan, dengan masing-masing 25 peserta yang tampil setiap harinya.

“Meskipun persaingan berjalan dengan sangat kompetitif, kompetisi ini pada hakikatnya bukan sekadar ajang unjuk kebolehan.

Event ini dirancang sebagai wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri serta melatih mental bersaing secara objektif,” ungkap Gung Mas.

Salah satu nilai lebih dari lomba kali ini adalah adanya ruang evaluasi.

Setelah kompetisi berakhir, dewan juri akan membagikan ulasan mendalam mengenai kelemahan serta kelebihan dari penampilan para juara. 

Hal ini dilakukan agar ajang ini tidak berhenti sebagai perlombaan semata, melainkan menjelma menjadi sarana belajar yang berkelanjutan bagi para peserta.

“Dalam menentukan pemenang, dewan juri bersandar pada tiga kriteria utama tradisional yang lazim digunakan dalam lomba membaca puisi berbahasa Bali yakni wirasa, wirama, dan wiraga,” ujar Gung Mas.

Penghayatan merupakan penjiwaan mendalam dari peserta dalam meresapi makna dan ruh yang terkandung di dalam bait-bait puisi.

Wirama (irama) merupakan pengaturan intonasi, dinamika membaca, ketukan, hingga kualitas vokal saat melantunkan puisi. 

Wiraga (gestur) yakni penampilan fisik secara keseluruhan, termasuk ekspresi wajah, gerak tubuh, dan keselarasan estetika saat berada di atas panggung.

“Selain ketiga pilar utama tersebut, unsur kreativitas dan eksplorasi kemungkinan baru kini turut ditambahkan ke dalam poin penilaian.

Langkah ini diambil mengingat perkembangan seni membaca puisi di Bali sudah sangat maju dan memiliki karakteristik unik yang membedakannya dengan daerah lain,” jelas Gung Mas.

Melihat prospek ke depan, ia menilai seni membaca puisi memiliki masa depan yang sangat cerah.

Melalui proses peresapan puisi yang mendalam, secara tidak sadar para peserta dilatih untuk mengasah kepekaan rasa dan spiritualitas mereka.

Diharapkan, output dari perlombaan ini tidak sekadar melahirkan pembaca puisi yang andal, melainkan mampu memantik lahirnya seniman-seniman baru dan para pencipta yang kreatif di masa depan. 

Melalui FSBJ ini, diharapkan muncul jiwa-jiwa berkesenian yang orisinal. 

Editor : Rosihan Anwar
Festival Seni Bali Jani 2026 Disbud Bali