DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Persaingan sengit dalam lomba baca puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII semakin terasa.
Pelaksanaan lomba yang digelar selama dua hari, 17–18 Juli, membuat ketiga dewan juri harus bekerja ekstra keras dalam menentukan para juara.
Dari total 50 peserta dengan rentang usia yang cukup luas, antusiasme pendaftar membuat panitia membagi pelaksanaan menjadi dua sesi, di mana masing-masing hari diikuti oleh 25 peserta.
Peserta diwajibkan membacakan dua buah puisi, yakni puisi wajib karya Frans Nadjira berjudul Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar serta satu puisi pilihan.
Secara umum, para peserta telah menunjukkan penguasaan materi yang baik, dengan performa hari kedua yang dinilai mengalami peningkatan signifikan dari sisi intonasi maupun ekspresi.
Tiga juri yang bertugas dalam lomba ini adalah para penyair kenamaan, yakni dr. Sahadewa, Mas Ruscita Dewi, dan Ni Wayan Eka Pranita Dewi.
Usai perlombaan, dewan juri memberikan evaluasi menyeluruh bagi para peserta.
Dr. Sahadewa, sastrawan yang kesehariannya berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan ini, mengapresiasi persiapan matang para pembaca.
Menurutnya, banyak peserta telah berlatih keras sehingga mampu memahami isi puisi secara mendalam, kata demi kata, dan menyampaikannya secara utuh. Namun, ia menekankan agar peserta lebih berani melakukan eksplorasi.
"Bereksplorasilah dalam memenggal kalimat, menentukan jeda, serta mengatur tempo bacaan agar terlihat benar-benar menguasai materi.
Hindari eksplorasi vokal yang jatuhnya justru seperti pembaca drama radio atau terlalu meledak-ledak tanpa kontrol," terang sosok yang juga dikenal sebagai penyair produktif ini.
Ia juga mengingatkan agar gerakan tubuh tidak dilakukan secara berlebihan, melainkan harus mampu memberikan makna yang utuh pada puisi.
Selain itu, ia menyarankan peserta untuk menghindari gaya bacaan yang klise atau monoton seperti gaya standar anak sekolah, dan mulai menemukan irama orisinal yang lebih segar.
Senada dengan hal tersebut, juri Mas Ruscita Dewi menyebut terdapat sekitar 10 peserta yang sangat potensial dan layak masuk dalam nominasi pembaca terbaik. Meskipun kuota juara terbatas, ia berharap peserta tidak berkecil hati.
"Ada 10 orang yang sudah hebat karena berhasil mengalahkan rasa takut dan tampil di depan kami," puji Mas Ruscita Dewi.
Sementara itu, juri ketiga, Ni Wayan Eka Pranita Dewi, penyair yang dikenal melalui karya Pelacur Para Dewa meluruskan paradigma mengenai subjektivitas dalam penilaian. Ia menjelaskan bahwa metode penilaian tetap berdasar pada kriteria wirasa, wiraga, dan wirama.
Ia menegaskan bahwa dewan juri tidak ingin mencetak generasi pembaca puisi dengan pakem yang seragam, mengingat setiap puisi memiliki karakter dan jiwa yang berbeda.
"Ke depannya, saya harap peserta lebih mencermati puisi kembali. Bagaimana menilik bahasa dan rasa yang ditulis oleh penyairnya?
Jika puisi menuntut teknik staccato, silakan munculkan per kata atau per silabel, namun jangan sampai mengganggu keutuhan makna puisi tersebut. Intinya, bacalah dengan eksplorasi yang lebih dalam lagi," tutup Pranita Dewi.
Editor : Rosihan Anwar