Oka Rusmini Lahirkan "Kembang", Suarakan Kesunyian Perempuan Penyintas 1965 di Panggung FSBJ 2026

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 01:07 WIB
Sastrawan Oka Rusmini dalam diskusi  buku karyanya teranyar  berjudul Kembang di Kalangan Ayodya, Art Centre Selasa (21/7) petang. (Ni Kadek Novi Febriani/Radar Bali)
Sastrawan Oka Rusmini dalam diskusi buku karyanya teranyar berjudul Kembang di Kalangan Ayodya, Art Centre Selasa (21/7) petang. (Ni Kadek Novi Febriani/Radar Bali)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com -Rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, Beranda Pustaka menghadirkan penulis ternama untuk berdiskusi bersama masyarakat sebagai langkah dalam gerakan literasi.

Salah satu tokoh yang dihadirkan adalah sastrawan perempuan asal Bali, Oka Rusmini. Ia membedah buku kumpulan puisi terbarunya yang berjudul Kembang, sebuah karya tentang peristiwa 1965 yang menyoroti bagaimana perempuan kerap dilupakan dalam catatan sejarah.

​Diskusi yang dimoderatori oleh Wayan Esa Bhaskara tersebut berlangsung pada Selasa malam (21/7/2026) di Kalangan Ayodya.

Esa secara mendalam mengulik buku karya Oka Rusmini ini, mulai dari soal penggunaan diksi arkaik yang magis, peribahasa usang, hingga rima berakhiran digraf /ng/.

Kembang adalah karya yang ditulis Oka untuk membuka sisi sejarah yang retak, terutama jejak para penyintas perempuan dari tragedi 1965 yang terpaksa hidup dalam sunyi, stigma, dan penghapusan.

Buku ini menjadi manifesto subversif yang mendekonstruksi hegemoni sejarah maskulin dan menempatkan agensi perempuan sebagai pusat kebenaran, bukan sekadar catatan kaki.

"Jadi saya katakan tak lagi lantang atau teriak-teriak. Karena saat mewawancarai para penyintas perempuan yang mengalami tragedi 1965 tidak ingin dengar dan dilibatkan isu itu. Mereka ingin tenang," kata Oka.

​Oka Rusmini membutuhkan waktu enam tahun untuk menuntaskan buku tentang ekshumasi sejarah bagi perempuan yang terlupakan ini. Dalam diskusi tersebut, muncul berbagai tanggapan dan pertanyaan dari penonton.

Apalagi, yang duduk dalam barisan penonton merupakan penyair-penyair kenamaan di Bali seperti Tan Lioe Ie, Wayan Jengki, dan Wayan Sujaya.

"Sub ordinat perempuan merangkap laki-laki. Kan laki-laki itu bebannya tidak main-main juga bapak rumah tangga," lontar Tan Lioe Ie saat diskusi berlangsung.

​Kali ini, Oka tidak lagi melontarkan kritik secara lantang, melainkan "berbisik" di dapur dan lorong sejarah, menggali jasad ingatan perempuan yang terkubur oleh kuasa politik, agama, dan tradisi.

Sastrawan ini menyebut bahwa buku kumpulan puisinya adalah kemarahan terpendam yang isinya sublim dan ketenangan, menggambarkan bagaimana stigma membelenggu perempuan 1965 hingga tidak berani bicara dan terkucilkan.

"Melihat ke Bali kesedihan. Luka-luka kemandirian jadi potret luar biasa berikan sisi letak sejarah hilang," tuturnya.

​Melalui pendekatan mikrosejarah (microhistory) Oka menjahit fragmen keseharian para penyintas Kaminah dan Kusdalini menjadi narasi puitis yang viseral. Proses kreatif Kembang dipicu oleh perjumpaan emosional Oka dengan film dokumenter You and I (2020) karya Fanny Chotimah. Film tersebut merekam keseharian Kusdalini (1943–2017) dan Kaminah (1947–2018), dua perempuan penyintas 1965 yang menua bersama dalam kesahajaan di Solo. Keintiman mereka, ditambah dorongan dari dokumenter A Secret Love karya Chris Bolan, buku foto Pemenang Kehidupan karya Adrian Mulya dan Lilik HS, serta berbagai literatur akademik, mendorong Oka untuk membedah sisi retak sejarah tersebut. Oka mengakui bahwa penulisan buku ini merupakan ziarah intelektual yang menguras batin.

​Berbeda dengan penyintas laki-laki yang umumnya mengalami represi politik dan fisik, perempuan penyintas menghadapi trauma berlapis. Dari penyiksaan fisik sekaligus kekerasan seksual. Bagi mereka, membicarakan 1965 berarti membangkitkan kembali ingatan tentang penghancuran martabat. Beban moralitas yang dikonstruksi masyarakat memaksa mereka bergeser ke ranah domestik.

Memastikan anak-anak dan keluarga mendapatkan pendidikan serta identitas yang "aman" dari stigma adalah bentuk politik bertahan hidup yang paling nyata. Diam menjadi perisai agar publik tidak kembali menguliti kehidupan yang susah payah mereka bangun.

"Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, param dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya tidak hanya menggugat budaya yang kasatmata, tetapi juga menggugat keheningan negara atas trauma sejarah," ungkap sastrawan kelahiran Jakarta, 11 Juli 1967 ini.

​Buku-bukunya yang telah terbit antara lain Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014), Men Coblong (2019), Koplak (2019), dan Jerum (2020). Khusus untuk novel Tempurung, karya ini meraih tiga penghargaan sekaligus pada tahun 2012: Anugerah Sastra Kemendikbudristek, Anugerah Sastra Tantular dari Balai Bahasa Provinsi Bali, dan The S.E.A. Write Award dari Kerajaan Thailand. Penghargaan lain yang telah diterimanya meliputi Kusala Sastra Khatulistiwa (2014), Ikon Berprestasi Indonesia kategori Seni dan Budaya (2017), CSR Indonesia Awards kategori Karsa Budaya Prima (2019), Bali Jani Nugraha dari Pemerintah Provinsi Bali (2019), Wikan Award dari Yayasan Korpri Bali (2023), serta Penghargaan 40 Tahun Berkarya Bidang Kebahasaan dan Kesastraan dari Pemerintah Indonesia (2024). Novel Tarian Bumi telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Swedia, Jerman, Korea, dan Italia.***

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
oka rusmini beranda pustaka fsbj