DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII resmi berakhir pada Sabtu (25/7/2026). Penutupan gelaran tersebut ditandai dengan penyerahan penghargaan Bali Jani Nugraha serta piagam bagi para pemenang lomba oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.
Festival tahunan ini menjadi wadah utama bagi seni modern dan kontemporer di Bali. Pada penyelenggaraan kali ini, tercatat sebanyak 3.490 seniman terlibat aktif. Angka tersebut melonjak hingga 85 persen jika dibandingkan dengan tahun 2025 yang mencatatkan 1.887 seniman.
FSBJ VIII tidak hanya memberikan dampak positif terhadap pelestarian seni modern, tetapi juga menggeliatkan roda perekonomian para pelaku UMKM dan IKM.
Total omzet UMKM Kuliner selama festival mencapai Rp140.217.000, sementara IKM Bali Bangkit meraup omzet sebesar Rp379.347.750. Selain itu, pameran Beranda Pustaka turut mencatatkan omzet hingga Rp15 juta. Di sisi lain, jumlah kunjungan masyarakat mencatatkan kenaikan tidak signifikan sebesar 12,75 persen dengan total 20.495 pengunjung.
Perkembangan kualitas karya seni dan antusiasme penonton pun mendapat apresiasi tinggi dari Gubernur Bali, Wayan Koster.
Dalam pidato sambutannya, Koster menegaskan bahwa kekuatan dan keunggulan utama Bali terletak pada kebudayaannya, meskipun Pulau Dewata tidak memiliki kekayaan sumber daya alam berupa tambang.
Koster juga membeberkan pesan khusus dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang mewanti-wanti agar kelestarian budaya Bali terus dijaga agar tidak bernasib seperti Hawaii yang kehilangan akar budayanya.***
Namun, berdasarkan pengamatannya di berbagai forum masyarakat, Koster optimistis seni budaya Bali akan terus lestari.
"Jangan sampai Bali seperti Hawaii, saya diwanti-wanti oleh Ibu Megawati Soekarnoputri Koster, kamu jaga betul budaya Bali, jangan sampai seperti di Hawaii yang kehilangan budayanya.
”Namun, kalau kita lihat di berbagai forum, kami tidak melihat ada tanda-tanda seni budaya Bali akan mati. Seni di sini bergerak dinamis dan hidup di tengah-tengah masyarakat," beber Koster.
Ia juga mengaku terpukau menyaksikan berbagai pementasan tari modern yang disajikan.
Tanpa adanya wadah seperti FSBJ, ia mengaku hanya familiar dengan seni tradisional.
Koster pun mengungkapkan sosok penting di balik lahirnya perhelatan ini, yakni sang istri, Putri Suastini Koster, yang menjadi pengagas utama FSBJ hingga telah berjalan delapan kali.
"Kita bersyukur karena yang memberi ide untuk wadah seni modern, yang mendorong dan menggagasnya, adalah istri saya, Ibu Putri Koster. Diceramahi terus saya. Jika sebelumnya kita sudah mengapresiasi seni tradisi lewat PKB (Pesta Kesenian Bali), kini Bali lengkap memiliki wadah seni panggung modern," imbuhnya.
Ia berharap pagelaran seni ini terus hidup dan dapat dilanjutkan oleh para pemimpin Bali di masa mendatang.
Menurutnya, seorang kepala daerah di Bali wajib mencintai seni dan budaya. Pemimpin tidak hanya dituntut sukses melakukan pembangunan fisik, tetapi juga tidak boleh lupa untuk terus menggelorakan seni budaya lokal.
"Siapa pun pemimpin ke depan harus meneruskan event PKB dan Festival Seni Bali Jani sebagai wadah seni modern kontemporer. Saya berharap pemimpin Bali ke depan memiliki sentuhan seni serta komitmen kuat yang diaktualisasikan dalam kebijakan," tegasnya.
"Memang tidak gampang menjadi pemimpin di Bali. Pembangunan tidak hanya secara teknokratis seperti membangun jalan, rumah sakit, sekolah, atau berbagai fasilitas publik. Lebih dari itu, ruh Bali adalah budaya. Saya tidak akan pernah bosan bicara tentang budaya. Ini harus selalu digelorakan oleh para pemimpinnya, baik gubernur, wali kota, maupun bupati, agar kegiatan seni terus berkesinambungan. Jangan sampai masyarakat bosan berseni, itu berbahaya," tuturnya.
Mengakhiri penutupan FSBJ VIII, Koster secara resmi mengumumkan tema untuk gelaran FSBJ IX tahun 2027 mendatang, yakni "Jiwana Darani Wana Kerti: Hutan Sebagai Napas Semesta". ***
Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com