DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Pendopo Puri Agung Denpasar kembali menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Tempat yang dulu menjadi lokasi pengumuman perubahan BKR menjadi TKR oleh I Gusti Ngurah Rai itu kini difungsikan sebagai benteng perjuangan kebudayaan Nusantara.
Hal tersebut mengemuka dalam Sarasehan Budaya memperingati 126 tahun peristiwa Puputan Badung, yang diselenggarakan Rumah Budaya Taman Sari Sabtu (12/9/2026).
Palingsir Puri Agung Denpasar, Ida Palingsir Agung Putra Jambe Pemecutan, menjelaskan bahwa pendopo yang dibangun pada 1927 itu memang diamanatkan leluhur sebagai sarana perjuangan.
"Sekarang pendopo ini kami jaga untuk perjuangan kebudayaan," ujar Ida Palingsir.
Disampaikan, alasan acara diadakan di pendopo adalah untuk apresiasi pihak Puri sebagai benteng adat & Budaya yg sudah mendirikan Sanggar Tari Puri Agung Denpasar yg diresmikan oleh Dinas Kebudayaan tahun 2013 di Pendopo yg sama, dan Sanggar Tari Puri Agung khusus pelestarian 1 Tari klasik yaitu Tari Legong Kraton Lasem
Semangat perjuangan tersebut sejalan dengan kehadiran tiga maestro tari Nusantara: Ni Ketut Arini (Bali), Retno Maruti (Jawa), dan Indrawati Lukman (Sunda). Ketua Yayasan Rumah Budaya Anak Agung Ayu Mirah Maheswari menyebut para maestro yang bertahan melestarikan sanggar selama lebih dari setengah abad ini layak disematkan sebagai pahlawan kebudayaan Nusantara.
Ketua Yayasan Rumah Budaya Anak Agung Ayu Mirah Maheswari menyatakan, acara itu sekaligus untuk memperingati peristiwa Puputan Badung yang berusia 126 tahun.
“Karena itu menghadirkan para maestro yang juga telah berjuang sebegai pelestari budaya sehingga mereka juga adalah pahlawan kebudayaan nusantara,” tegasnya.
Selain kiprah sebagai penari, mereka juga berjuang melalui sanggar seni untuk melakukan regenerasi seniman yang sanggarnya rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun.
Menjaga eksistensi seni tari klasik di tengah maraknya tari kreasi baru dan paparan media sosial membutuhkan pendekatan yang tak biasa. Dalam Sarasehan Budaya peringatan 126 tahun Puputan Badung di Pendopo Puri Agung Denpasar, Sabtu (12/9/2026), para pakar dan maestro seni membeberkan strategi penting dalam mencetak generasi penerus seni tradisi.
Akademisi seni Prof. Dr. I Wayan Dibia menekankan bahwa sanggar tari perlu lebih selektif dalam memetakan bakat anak didik. Menurutnya, tari klasik menuntut pembinaan intensif yang disesuaikan dengan karakter fisik penari.
"Tempaan untuk tari Legong, Baris, Kebyar, atau Jauk itu berbeda-beda karena tuntutan setiap tarian tidak sama. Perlu ada seleksi bakat alam agar pembinaan bisa lebih terarah," ungkap Prof. Dibia.
Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. I Made Bandem menyerukan pentingnya strategi hunting talent oleh pimpinan sanggar. Ia menilai para maestro yang hadir—seperti Ni Ketut Arini (Bali), Retno Maruti (Jawa), dan Indrawati Lukman (Sunda)—merupakan contoh nyata teladan yang memiliki kecintaan dan konsistensi berkarya.
Proses panjang juga dialami para maestro tersebut. Ni Ketut Arini mengenang perjuangannya saat menjadi angkatan pertama KOKAR Bali pada 1960 yang harus menempuh jalan kaki demi belajar menari. Sementara Retno Maruti dan Indrawati Lukman menggarisbawahi pentingnya menjaga "nyawa" dan pakem tarian, meski berkreasi atau beradaptasi dengan seni modern.
Dalam paparannya maestro tari Bali Ni Ketut Arini menceritakan perjalanan yang mengalami tempaan untuk menjadi penari sejak masaih kanak-kanak. Kemudian, pada usia 14 tahun, dia adalah angkatan pertama dari sekolah KOKAR Bali (Konservatori Karawitan Indonesia) yang berdiri pada tanggal 30 September 1960.
“Saat itu situasinya belum seperti sekarang, untuk berangkat sekolah harus berjalan kaki,” tegasnya. Namun dengan kecintaannya pada seni tari, dia merasa semua kesulitan itu bisa terlewati dengan senang hati dan bukan beban yang berat.
Maestra tari Jawa Retno Maruti mengaku sejak kecil sudah akrab dengan kebiasaan menari. Terutama karena di sekolahnya di Solo ada kewajiban siswa mengikuti latihan menari. Dukungan keluarga juga sangat besar sehingga membuatnya bersemangat untuk menekuni dunia tari klasik.
Kesempatannya kemudian terbuka setelah adanya pentas kolosal Ramayana di Candi Prambanan pada tahun 70-an dimana dia yang masih berusia belasan tahun berperan sebagai Kidang Kencana. Saat itu, dia harus berkreasi karena tidak ada pakem yang jelas untuk tarian yang menggambarkan kelincahan kidang saat menggoda Dewi Sinta.
Setelah berpindah ke Jakarta pada 1973, dengan lingkungan yang lebih plural maka kreativitasnya makin terpacu. Namun kreativitas itu tetap dijaganya agar tidak melampaui batas-batas seni, khususnya saat mengkreasi seni klasik digabungkan dengan seni modern.
Sementara Indrawati Lukman menyebut, sebutan sebagai maestro itu adalah penghargaan dari publik. Dirinya hanya berjuang untuk menampilkan yang terbaik saat mementaskan suatu tarian dengan tetap menjaga pakem-pakem yang diwariskan.
Kesimpulan sarasehan antara lain bahwa regenerasi maestro Bali dapat dilakukan dengan menanamkan arti, makna & filosofi setiap gerakan Tari saat belajar menari di usia muda (terbaik mulai SD), sehingga dari kecil penari sdh bisa memahami & menjiwai setiap gerakan tari yg dilakukan.
Selain itu orangtua Diharapakan mengarahkan putra putri nya belajar menari di sanggar yg 'benar' tidak hanya melalui sosial media yg siapapun bisa mengupload kreasi tari masing2 yg belum tentu sesuai pakem yg sudah diwariskan turun temurun.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com