radarbali.jawapos.com - Sam Sianata (Liem Sian An) kembali "melahirkan" sebuah karakter lucu baru yang dinamainya Gomar.
Gomar bukan sekadar maskot yang lucu. Ia adalah sebuah paradoks visual—seekor semut dengan telinga sebesar telinga gajah.
Tubuhnya kecil, tetapi telinganya besar.
Sebuah permainan bentuk yang sederhana, namun menyimpan perenungan yang tidak sederhana:
Yang kecil belum tentu kecil dalam pemikiran.
Yang besar belum tentu mampu mendengar.
Gomar menjadi simbol tentang kecerdasan yang lahir dari hal-hal kecil, sekaligus tentang pentingnya memiliki telinga yang besar untuk mendengar sesuatu yang sering kali tidak terdengar oleh banyak orang.
Di tengah kegalauan masyarakat Indonesia saat ini dimana para pemimpinnya sangat sulit untuk mendengar jeritan rakyatnya (mbudeg - bahasa Jawa),Sam Sianata menelorkan sebuah maskot untuk menumbuhkan sebuah kesadaran sosial berupa maskot lucu yang dinamakan Gomar.
Telinga gajah pada tubuh seekor semut seolah berkata:
«“Jangan hanya pandai berpikir, belajarlah juga untuk mendengar.”»
Mendengar keluhan rakyat, mendengar suara alam, mendengar jeritan bumi, bahkan mendengar suara-suara kecil yang sering diabaikan oleh mereka yang merasa besar.
Di sinilah Gomar menjadi paradoks:
Semut mengajarkan tentang kecerdasan.
Gajah mengajarkan tentang kemampuan mendengar.
Dan Gomar mempertemukan keduanya dalam satu tubuh.
Ia kecil secara fisik, tetapi membawa pesan yang besar.
Barangkali justru di situlah letak kelucuan sekaligus kebijaksanaan Gomar:
Kadang-kadang, untuk memahami dunia yang besar, kita membutuhkan telinga yang lebih besar daripada ego kita.
Indonesia membutuhkan Gomar saat ini
Manifesto Telinga untuk Sebuah Bangsa, Ciptaan Sam Sianata (Liem Sian An)
Ada sebuah bangsa yang rakyatnya tidak pernah berhenti berbicara.
Mereka berbicara tentang harga kebutuhan hidup.
Tentang pekerjaan.
Tentang pendidikan.
Tentang ketidakadilan.
Tentang lingkungan yang semakin rusak.
Tentang masa depan anak-anak mereka.
Mereka berbicara melalui demonstrasi, media sosial, warung kopi, pasar, jalanan, bahkan melalui keheningan.
Tetapi pertanyaannya sederhana:
Apakah mereka benar-benar didengar?
Dari pertanyaan itulah lahir sebuah maskot Gomar.
Seekor semut kecil dengan telinga sebesar telinga gajah.
Lucu?
Tentu.
Tetapi jangan terlalu cepat tertawa.
Karena Gomar mungkin sedang menertawakan sesuatu yang jauh lebih serius:
Manusia yang semakin besar kekuasaannya, tetapi semakin kecil telinganya.
Gomar adalah sebuah paradoks.
Semut melambangkan rakyat kecil.
Kecil tubuhnya, kecil kekuatannya, tetapi jumlahnya luar biasa besar dan kehidupannya sangat penting bagi keseimbangan ekosistem.
Gajah melambangkan telinga yang besar—kemampuan untuk mendengar.
Gomar mempertemukan keduanya.
Ia seolah berkata:
«“Kalau engkau ingin menjadi besar, besarkan dulu kemampuanmu untuk mendengar.”»
Sebab jabatan bukanlah alasan untuk menjadi tuli.
Kekuasaan bukanlah alasan untuk menutup telinga.
Kursi kepemimpinan bukanlah tempat untuk mendengar tepuk tangan saja.
Justru semakin tinggi seseorang berada, semakin banyak suara yang harus mampu ia dengar.
Dengarkan rakyat yang kecil.
Dengarkan mereka yang tidak punya akses.
Dengarkan mereka yang tidak punya panggung.
Dengarkan mereka yang hanya bisa mengeluh dari rumahnya.
Dan jangan hanya mendengar suara manusia.
Dengarkan pula suara bumi.
Hutan yang kehilangan pohonnya.
Sungai yang kehilangan kejernihannya.
Laut yang kehilangan napasnya.
Tanah yang semakin kehilangan kehidupan.
Karena bumi tidak memiliki mikrofon.
Alam tidak mempunyai wakil di ruang kekuasaan.
Maka manusia yang memiliki kekuasaanlah yang seharusnya memiliki telinga paling besar.
Dalam bahasa Jawa ada sebuah kata yang sangat sederhana:
MBUDEG
Telinganya ada.
Tetapi tidak mendengar.
Matanya melihat.
Tetapi tidak memahami.
Mulutnya berbicara.
Tetapi tidak mendengarkan.
Gomar hadir bukan untuk menghina siapa pun.
Ia hadir sebagai cermin.
Barangkali yang perlu kita tanyakan bukan:
“Seberapa besar kekuasaan kita?”
Tetapi:
“Seberapa besar telinga kita?”
Sebab sejarah tidak hanya mencatat pemimpin yang pandai berbicara.
Sejarah juga mengingat pemimpin yang mau mendengarkan suara rakyatnya.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika anak-anak Indonesia melihat Gomar, mereka akan bertanya:
“Mengapa semut ini mempunyai telinga sebesar gajah?”
Jawabannya sederhana:
«“Karena dahulu manusia sering lupa bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang berbicara kepada rakyat, tetapi tentang mendengarkan rakyat.”»
Itulah Gomar.
Kecil tubuhnya.
Besar telinganya.
Besar pesannya.
Sebuah maskot yang lahir dari kelucuan,
tetapi membawa kegelisahan.
Sebuah karakter yang tersenyum,
tetapi menyimpan kritik.
Sebuah semut kecil,
yang mungkin sedang mengingatkan para raksasa:
Jangan Sampai Rakyat Sudah Berteriak, Tetapi Kekuasaan Masih Tuli
Indonesia membutuhkan Gomar.
Bukan karena Indonesia kekurangan orang yang bisa berbicara.
Tetapi karena Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang benar-benar mau mendengar.
GOMAR
The Little Ant with the Great Ears.
Sebuah paradoks kecil untuk mengingatkan sebuah bangsa yang besar.
Gomar bukan sekadar karakter lucu namun menjadi simbol kritik terhadap budaya kekuasaan yang kehilangan kemampuan mendengar.
Editor : Rosihan Anwar