GIANYAR, radarbali.jawapos.com - Setelah lebih dari 14 tahun menjadi salah satu destinasi kuliner Jepang favorit di Ubud, Toro resmi memasuki babak baru.
Melalui rebranding menjadi Toro Dining, sebuah konsep yang menggabungkan akar modern Japanese cuisine dengan sentuhan kuliner kontemporer yang lebih luas.
Didirikan pada tahun 2012 oleh Wayan Sudiarta, atau yang lebih dikenal sebagai Yande, Toro berawal dari sebuah restoran kecil berkapasitas 20 kursi di kawasan Goutama Street, Ubud.
Di masa ketika konsep modern Japanese dining masih relatif jarang ditemukan di Ubud, Toro hadir dengan pendekatan yang berbeda dan berhasil membangun basis pelanggan setia dari kalangan lokal maupun wisatawan mancanegara.
Kini, setelah lebih dari satu dekade berkembang bersama lanskap kuliner Bali yang terus berubah, Toro Dining hadir dengan identitas baru yang merefleksikan perjalanan, pengalaman, dan visi jangka panjang dari brand tersebut.
"Rebranding ini bukan tentang meninggalkan identitas kami sebagai restoran Jepang.
Justru sebaliknya, kami ingin memperluas pengalaman yang bisa kami berikan kepada tamu tanpa kehilangan karakter yang sudah dibangun sejak awal," ujar Wayan Sudiarta, Founder Toro Dining.
Melalui konsep baru ini, Toro Dining tetap mempertahankan berbagai menu favorit yang telah menjadi signature selama bertahun-tahun, termasuk signature rolls, premium Wagyu, fresh seafood, Prawn Wonton, dan Hot Karaage.
Di saat yang sama, restoran juga memperkenalkan berbagai kreasi baru yang memperkaya pengalaman bersantap para tamu.
Salah satu menu yang menjadi sorotan adalah 36-Hour Aged Steak, sebuah hidangan yang mencerminkan komitmen Toro Dining terhadap kualitas bahan baku, teknik memasak, dan pengalaman bersantap yang lebih beragam.
Transformasi ini juga diperkuat oleh kehadiran Chef Putu Agus Sriwijaya, yang memimpin arah kuliner Toro Dining saat ini.
Memulai karier profesionalnya pada tahun 2011, Chef Agus telah mengembangkan pengalaman di berbagai hotel bintang lima, restoran fine dining, serta proyek hospitality internasional di Indonesia dan Timur Tengah.
Pengalaman tersebut membentuk pendekatan kulinernya yang mengedepankan kualitas bahan baku, perhatian terhadap detail, dan pengalaman tamu yang berkesan.
"Bagi saya, makanan yang baik bukan hanya tentang rasa. Ini tentang pengalaman secara keseluruhan, siapa yang menemani kita makan, suasana yang dirasakan, dan kenangan yang tercipta di meja makan," ujar Chef Agus.
Filosofi tersebut menjadi fondasi dalam pengembangan menu Toro Dining saat ini.
Dengan tetap berakar pada modern Japanese cuisine, tim kuliner terus mengeksplorasi berbagai inspirasi baru yang relevan dengan perkembangan dunia gastronomi modern.
Lebih dari sekadar restoran, Toro Dining juga menjadi bagian dari visi yang lebih besar di bawah naungan INARTHA Group, sebuah hospitality group yang mengusung filosofi "Crafted Hospitality Experiences Rooted in Culture, People, and Place.
"Selain Toro Dining, INARTHA Group juga mengelola Nagi Kitchen, destinasi all-day dining di Ubud yang dikenal dengan suasananya yang hangat, santai, dan ramah bagi berbagai kalangan.
Meski memiliki karakter yang berbeda, seluruh brand di bawah INARTHA Group memiliki benang merah yang sama, yaitu menghadirkan pengalaman hospitality yang personal, berkualitas, dan memiliki koneksi emosional dengan para tamu.
Seiring berkembangnya industri kuliner dan hospitality di Bali, Toro Dining berkomitmen untuk terus berinovasi sambil mempertahankan nilai-nilai yang telah menjadi fondasi selama lebih dari empat belas tahun: kualitas, konsistensi, kreativitas, dan hospitality yang tulus.
Dari sebuah restoran Jepang berkapasitas 20 kursi hingga menjadi destinasi dining yang terus berkembang di jantung Ubud, Toro Dinin percaya bahwa pengalaman terbaik selalu dimulai dari perhatian terhadap detail dan hubungan yang tulus dengan setiap tamu.
Kunjungi Toro Dining di Jl. Gootama no. 3 Ubud, ikuti akun Instagram Toro Dining untuk mendapatkan info terbaru. (tis)
Editor : Rosihan Anwar