Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Disinyalir Perparah Kemiskinan, Pertemuan RCEP di Bali Didemo

Donny Tabelak • Selasa, 26 Februari 2019 | 04:45 WIB
disinyalir-perparah-kemiskinan-pertemuan-rcep-di-bali-didemo
disinyalir-perparah-kemiskinan-pertemuan-rcep-di-bali-didemo

NUSA DUA-Pertemuan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) ke-25 yang digelar di The Westin Resort Bali, Nusa Dua, Senin (25/2)  siang didemo


 


Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam aliansi Front Perjuangan Rakyat, (Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI), Pemuda Baru Indonesia (PEMBARU), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Serikat Demokratik Mahasiswa Nasional (SDMN) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menolak pelaksanaan pertemuan yang dinilai akan merugikan rakyat Indonesia itu.


 


Pantauan Jawa Pos Radar Bali, aksi demo yang digelar di depan portal Bali Westin Resort mendapat penjagaan ketat pihak keamanan.


 


 


Sambil membawa poster dan spanduk, para demonstran juga menyampaikan penolakannya lewat orasi.


 


 


Salah satunya Retno Dewi dari Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI). Ia menilai dengan RCEP yang digelar di Bali akan memperparah kemiskinan dan ketidakadilan serta ketidaksetaraan yang semakin meluas.


 


"Ini akan terjadi melalui banyaknya poin-poin dalam perjanjian ini yang hanya ditujukan untuk melayani kebutuhan korporasi transnasional saja," katanya.


 


Sementara itu, Gagas korlap aksi, dalam orasinya mengatakan, bahwa pertemuan ini sengaja digelar secara tertutup sehingga masyarakat sipil tidak dapat ikut serta untuk menyampaikan pandangan dan tuntutannya. 


 


Selain itu poin-poin dalam layanan dan investasi akan mendorong adanya tenaga kerja kontrak yang diikuti dengan kompetisi secara barbar dalam persaingan penyediaan tenaga kerja yang murah dengan standar tenaga kerja yang rendah.


 


"Kemudian masyarakat lain yang akan dirugikan dari perundingan RCEP ini adalah petani dan masyarkat adat melalui ketentuan benih paten yang dimonopoli oleh perusahaan besar transnasional," tandasnya.

Editor : Donny Tabelak