SEMARAPURA- Diduga mengalami depresi berat, I Komang Wijaya, 37, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Klungkung, Senin (28/9) nekat mengakhiri hidup dengan cara tragis.
Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berdinas sebagai staf administrasi di Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (LHP) Kabupaten Klungkung ini, nekat mengakhiri hidup dengan gantung diri.
Kapolsek Klungkung, Kompol I Nyoman Suparta, mengatakan, korban ditemukan tewas dengan posisi leher tergantung dengan menggunakan kain motif batik oleh istrinya, saksi Ni Luh Yulianti, 20, di bangunan rumah yang belum selesai depan tempat tinggal korban di Jalan Rama Kelurahan Semarapura Klod Kangin Klungkung.
Selanjutnya usai ditemukan, jasad korban dievakuasi ke rumah duka.
Menurut Kapolsek dari keterangan orang tua korban, yakni Saksi I Nyoman Suenten, 58, diduga korban nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri karena mengalami depresi berat.
Bahkan kata Saksi Suenten, sebelum menjadi PNS dan tewas gantung diri, semasa SMA, anaknya pernah memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan pernah dirawat di RS Jiwa Provinsi Bali di Bangli.
“Sesuai keterangan keluarga, korban masih rutin kontrol ke dokter. Namun dari keterangan sejumlah tetangga, memang akhir-akhir sebelum bunuh diri terlihat kurang tenang. Namun versi istrinya tidak ada tanda-tanda keanehan pada sikap Wijaya sebelum bunuh diri,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Klungkung, Anak Agung Kirana saat dikonfirmasi terpisah membenarkan dengan meninggalnya korban dengan cara tidak wajar.
Termasuk terkait kondisi korban yang memang mengalami gangguan kejiwaan, kata AA Kirana, stafnya memang mengalami gangguan kejiwaan dan sampai saat ini rutin mengonsumsi obat.
Meski mengalami gangguan kejiawaan, namun selama menjadi staf di Dinas LHP Klungkung, korban bekerja seperti biasa.
Bahkan pada Kamis (24/9) lalu, kata Kirana, korban Wijaya masih tampak bekerja. Hanya saja bila gangguan kejiwaannya kambuh, biasanya Wijaya tampak bengong di kantor.
“Rencananya saya akan ke rumahnya. Dan untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi (pada Wijaya),” tukasnya.
Editor : Didik Dwi Pratono