Merinding, Ini Isi Surat Wasiat Anak Panti yang Tewas Bunuh Diri

Didik Dwi Pratono • Dipublikasikan Selasa, 29 Desember 2020 | 05:15 WIB
merinding-ini-isi-surat-wasiat-anak-panti-yang-tewas-bunuh-diri
merinding-ini-isi-surat-wasiat-anak-panti-yang-tewas-bunuh-diri

SINGARAJA– Warga dan penghuni Panti Asuhan Dana Punia di Kelurahan Banyuning, Buleleng, Minggu sore (27/12) sekitar pukul 16.30 WITA dibuat gempar.


Geger warga ini menyusul dengan kasus bunuh diri yang dilakukan salah seorang anak asuh di panti asuhan  Dana Punia berisial EA, 14, di sebuah bangunan kosong dekat panti.


Kapolsek Kota Singaraja Kompol I Made Santika mengatakan, dari hasil olah TKP polisi menemukan 4 lembar surat yang diduga kuat ditulis oleh korban.


Berikut sejumlah petikan isi surat wasiat yang ditulis tangan korban sebelum tewas gantung diri


“Bu sekrang Ketut pergi duluan. Karena Ketut sudah bosan dengan masalah HP yang membuat Ketut duluan pulang ke alam baka. Ketut minta maaf kepada semuanya kalau punya salah atas apa yang Ketut lakukan yang membuat Ibu/Bapak tidak bahagia. Itu saja permintaan Ketut. Doakan ketut biar tidak ada halangan di sana (alam baka). Terima kasih”.


“Kalau melihat dari surat yang kami temukan di TKP, kemungkinan memang ada masalah yang terkait dengan HP. Surat itu kami temukan di kantong celana korban,” kata Santika.


Sementara itu, terkait dengan tewasnya korban, Ketua Yayasan Dana Punia, Gede Arba Dana mengungkapkan, bahwa korban merupakan salah seorang anak asuh yang berasal dari Kecamatan Kintamani, Bangli.


Mendiang berasal dari salah satu keluarga tidak mampu, sehingga diasuh di panti asuhan. Korban disebut baru dua tahun terakhir berada di bawah asuhan yayasan.


“Anak ini termasuk baik dan rajin. Saya sempat rencana buat acara makan-makan sama anak-anak untuk malam tahun baru. Tapi hari Sabtu itu pas makan bersama, dia bilang besok atau lusa sudah tidak ada di panti. Saya kira maksudnya mau minta izin pulang ke Kintamani,” jelas Arba.


Disinggung masalah surat yang dibuat mendiang, Arba menyebut memang sempat ada kecemburuan sosial di kalangan anak asuh terkait ponsel. Selama ini yayasan memang memberlakukan peraturan ketat soal ponsel. Anak-anak dilarang membawa ponsel ke panti asuhan.


“Kalau bawa HP, sudah pasti kami suruh pulang saja. Karena kami anggap itu sudah dari keluarga mampu,” tukasnya.

Editor : Didik Dwi Pratono
disdikpora buleleng anak panti asuhan