KEGADUHAN dan keriuhan sempat terjadi di Desa Adat Tengkulak Kaja, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali, Kamis (13/8) kemarin.
Heboh warga ini menyusul tertukarnya jenazah. Warga sempat ribut karena jenazah warga asal Banjar Kaja Kauh yang semestinya dikremasi di Bebalang, Bangli, dikuburkan oleh keluarga dari Banjar Kaja Kangin pada Kamis (13/8).
Jenazah tertukar karena selain sama-sama berjenis kelamin perempuan dan meninggal karena Covid-19, dugaan lain karena kedua jenazah memiliki nama sama da nasal Desa yang sama.
Lalu bagaimana dengan solusi dengan tertukarnya jenazah pasien Covid-19 ini?
IB INDRA PRASETYA, Gianyar
BENDESA Adat Tengkulak Kaja, I Made Selamet, membeberkan, dua warganya yang meninggal ini punya nama yang sama dan asalnya juga satu desa adat.
Keduanya juga meninggal hampir bersamaan dan sama-sama terpapar covid-19. Warga yang meninggal pertama, pada 11 Agustus, Ni Gusti Made Rai, perempuan 82 tahun, alamat Banjar Tengkulak Kaja Kangin.
Kemudian, meninggal pada 12 Agustus, Ni Gusti Made Rai, perempuan 65 tahun, alamat Banjar Tengkulak Kaja Kauh.
“Warga kami dari Banjar Kaja Kauh awalnya mau mengubur jenazah tanggal 12 pukul 18.00. Karena ini terpapar covid, jadi langsung dikubur ke setra,” ujarnya, ditemui di kediamannya, Jumat (13/8).
Saat penguburan, tidak ada masalah sama sekali.
“Keluarganya ada yang jaga di ruang jenazah Sanglah. Kemudian di setra, keluarga sudah siap sedia menguburkan,” ujar Made Selamet.
Ketika jenazah tiba di setra, keluarga tidak diizinkan membuka peti.
“Memberikan baju baru juga tidak boleh. Jadi begitu tiba di setra, keluarga langsung menguburkan,” jelas Made Selamet.
Jenazah pun dikuburkan sesuai protokol kesehatan (prokes) ketat namun tetap berdasarkan aturan adat.
“Setelah selesai penguburan. Dua jaman, datang warga yang memiliki orang tua meninggal tanggal 12 tadi. Tahu-tahu bilang mayat tertukar,” ungkap Made Selamet.
Disana keriuhan mulai muncul. “Akhirnya kami meluncur di rumah duka, koordinasi gimana selanjutnya ini. Akhirnya kami pastikan, Cross-check ke RSUP Sanglah Denpasar, apa benar tertukar?,”imbuh Made Selamet.
Setelah menerima informasi dari RSUP Sanglah Denpasar, ternyata jenazah yang dikubur salah. Dan jenazah betul-betul tertukar.
“Semestinya, sesuai rencana, jenazah yang salah kubur ini seharusnya dikremasi di Desa Bebalang Bangli,” bebernya.
Untuk memastikan jenazah tertukar, Perbekel Kemenuh yang juga Ketua Sabha Desa, Dewa Nyoman Neka, meluncur ke ruang jenazah RSUP Sanglah Denpasar.
“Saya diizinkan masuk ke ruang jenazah pakai APD lengkap,” imbuh perbekel Dewa Neka.
Di ruang jenazah, perbekel kaget ternyata jenazah salah ambil. Kepastian dari RSUP Sanglah Denpasar diketahui pukul 23.00 WITA.
Setelah mendapat kepastian dari RSUP Sanglah, pihak desa berembuk dengan prajuru adat, termasuk bersama petugas terkait.
“Malam itu selesaikan. Kami paksa warga yang akan mengaben di Bebalang ini supaya dikubur. Karena kalau jenazah digali, berdasarkan adat dan awig-awig, nggak boleh menggali kuburan, kalau tidak ada dewasa ayu (hari baik, red) ngaben. Kalau kuburan digali, desa adat tidak memperbolehkan,” jelas Neka.
Pihak desa pun meminta kesadaran dari keluarga yang jenazahnya salah kubur tersebut.
“Di hadapan polisi juga banyak, kami sampaikan, mohon jaga keselamatan bersama. Ikuti aturan kesehatan dan adat. Kami berusaha memotivasi warga kami,” tambahnya.
Pihak desa juga memperkirakan, kasus salah kubur atau jenazah tertukar ini kehendak alam.
“Mungkin saja, yang meninggal, warga ini nggak mau diaben atau dikremasi. Mungkin beliau lahir dan hidup di sini, jadi ketika meninggal mungkin supaya selesai di sini,” ujarnya.
Setelah menerima penjelasan dari prajuru adat dan aparat, akhirnya keluarga ikhlas. “Keluarga yang jenazahnya sudah dikuburkan (salah kubur, red) menerima demi kebaikan bersama,” ungkapnya.
Setelah berembuk, akhirnya malam itu juga, jenazah yang tertukar dan masih di RSUP Sanglah dibawa ke setra.
“Keduanya dikubur juga. Malam itu juga. Keduanya menggunakan banten prasantun (saksi prajapati) dan banten pengulapan bangbang. Dua liang lahatnya bersebelahan,” terangnya.
Jumat, dua keluarga yang salah tukar jenazah itu mendatangi kediaman bendesa.
“Mereka sudah tidak ada masalah. Mereka ke rumah kami untuk minta bantuan menarik uang DP di kremasi Bebalang, keluarga sudah naruh uang DP Rp 5 juta,” jelasnya.
Bendesa memperkirakan, petugas di RSUP Sanglah yang salah memberikan jenazah kepada keluarga.
“Saya perkirakan di RSUP Sanglah yang salah. Mungkin petugas di sana karena melihat nama sama dan desa Tengkulak, langsung diambilkan,” jelasnya.
Sampai di setra pun, keluarga tidak ngeh jika jenazah tersebut tertukar. “Sampai di setra, hanya ada sopir ambulance yang antar, keluarga dikasih selop tangan. Tidak ngeh lagi kalau itu orang lain,” ungkapnya.
Perbelel menambahkan, usai penguburan, keluarga keduanya sementara melakukan karantina mandiri.
“Untuk mengantisipasi itu, kami minta Satgas desa dan keluarga memperhatikan identitas. Di rumah sakit benar-benar diperhatikan. Dipastikan apa benar itu jenazah keluarganya atau bukan,” pintanya.
Lebih lanjut dikatakan, di Desa Kemenuh, pada Agustus ini kasus meninggal dunia akibat covid-19 berjumlah 6 orang. “Mereka kebanyakan punya penyakit penyerta,” pungkasnya.
Editor : Didik Dwi Pratono