Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Psikolog Minta Aksi Bunuh Diri Siswi SMA Gegara HP Tak Dianggap Sepele

Didik Dwi Pratono • Selasa, 21 September 2021 | 13:45 WIB
psikolog-minta-aksi-bunuh-diri-siswi-sma-gegara-hp-tak-dianggap-sepele
psikolog-minta-aksi-bunuh-diri-siswi-sma-gegara-hp-tak-dianggap-sepele

HEBOH kasus ulah pati yang dilakukan siswi SMA berinisial Ni Kadek AM, terus menuai sorotan.


Remaja berusia 15 tahun asal Banjar Dinas Dharma Winangun, Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Karangasem, ini pada Jumat malam (17/9) lalu ditemukan meninggal bunuh diri di pohon akasia.


Yang bikin miris dan prihatin, Kadek AM melakukan aksi nekatnya itu hanya karena sepele.


Ia ngambek setelah ditegur dan dimarahi orang tua karena terus main handphone dan lupa waktu.


Lalu apa pendapat psikolog tentang hal ini?


 


I WAYAN WIDYANTARA, Denpasar


 


MESKI kasus ulah pati atau bunuh diri banyak terjadi, namun Psikolog Caecilia Nirlaksita Rini, S. PSI, M.si punya penilaian dan pendapat lain dalam kasus gantung diri yang dilakukan salah satu siswi SMA Ni Kadek AM.


Menurutnya, kasus ulah pati yang terjadi di “gumi lahar” Karangasem ini bukanlah sesuatu hal yang boleh dianggap remeh atau sepele.


Apalagi, aksi instan Ni Kadek AM mengakhiri hidup dipicu hanya gara-gara ditegur atau dimarahi orang tua karena sering main handphone.


Kata Rini_sapaan akrab Caecilia Nirlaksita Rini, S. PSI, M.si sebagai seorang psikolog, ia melihat jika kasus ini harus bisa menjadi pembelajaran semua pihak.


"Ya, bunuh diri ini dilihat oleh orang awam hanya karena dimarahi oleh orangtuanya karena main HP dan tidak ingat waktu seolah itu yang tersurat.  Bisa jadi ada dinamika psikologis yang cukup berat yang dialami oleh si remaja. Ciri kepribadian remaja dengan gangguan depresi bisa melakukan usaha atau bunuh diri," ujarnya Rini saat dikonfirmasi radarbali.id, pada Senin (20/9/2021) kemarin.


Dijelaskannya, masa remaja memiliki perkembangan hormon dan terutama pada luapan perkembangan emosi yang drastis atau cepat.


Bila pengalaman yang dialami pada masa perkembangan optimum, kata Rini, maka remaja mampu meyakini diri sendiri.


Selain itu, bila opini atau pilihan sikap dan perilakunya ke arah positif terdukung maka akan mampu meningkatkan kepercayaan diri remaja.


Namun sebaliknya, apabila pengalaman negatif, misalnya sering disalahkan, dimarahi tanpa penjelasan, maka luapan emosi yang disimpan adalah kemarahan.


Selanjutnya, bila arahan ini tidak bisa dimanifestasikan, maka dampaknya kata Rini biasanya akan disimpan dalam bentuk kesedihan.


"Kesedihan ini membuat dirinya merasa sangat bersalah. Remaja akan memandang dirinya tidak worthy dibanding orang lain (sering disalahkan membuat remaja sangat mudah menyalahkan diri sendiri)," tutur Rini.


"Bila remaja ini introvert, dan tidak mampu menyatakan luapan emosi marah, kecewa dan sedih yang luar biasa, maka cenderumg ada kebiasaan menyalahkan diri sendiri, membenci dirinya, menutup diri dari relasi dengan orang lain (asik dengan kesendiriannya dengan HP)," lanjut psikolog yang mengambil pendidikan di Psikolog dan Cultural Study Udayana ini.


Lebih jauh Caecilia juga menyampaikan, pengalaman buruk dipersalahkan, dimarahi tanpa penjelasan akan diyakini sebagai pengalaman hidup yang bisa disimpannya di bawah sadar.


Bila konsep diri remaja negatif dan cenderung memandang dirinya kurang dibanding orang lain, akan sulit untuk remaja menerima keberadaan dirinya, biasanya ciri perilakunya terlihat cemas atau gelisah.


“Seringkali pemikiran yang terlalu mempersalahkan diri. Membuat remaja kehilangan harapan yang positif untuk menjalani hidupnya dan masa depannya,”ungkapnya.


Selain itu, rasa marah, kecewa, sedih yang terus menerus hadir membuat remaja tidak nyaman dengan dirinya. Lalu ingin untuk mengakhiri ketidaknyamanan ini, secara singkat remaja akan memgambil keputusan tanpa pertimbangan.


"Mengakhiri penderitaan dari rasa sedih, rasa bersalah berlebihan, membuat remaja segera ingin mengakhiri masalahnya, maka yang didakukan adalah mengakhiri hidupnya sendiri," sebut Psikolog yang praktek di Mutiara Medika, Jalan Sekuta 108, Sanur ini.


Untuk itu, Rini menyarankan, sebagai orang tua atau caregiver, pihaknya mendorong agar semua orang tua mempertimbangkan kata-kata saat marah.


“Saat membandingkan anak, saat menyatakan kemarahannya. Agar anak justru memahami letak kesalahannya dan mampu menerima dan memperbaiki kesalahannya," pesannya.


Selain itu, imbuhnya orangtua selayaknya juga harus dituntut mampu mengungkapkan ketidaksetujuan pada sikap remaja dengan memilih secara bijak, kata-kata yang membangun pemahaman dan tidak merendahkan remaja.


“Sehingga tidak menganggap remaja tidak mampu. Mari dukung remaja kita dengan bijaksana," pungkasnya.

Editor : Didik Dwi Pratono
#psikolog #bunuh diri #ulah pati