NEGARA - Warga Desa Tukadaya, Jembrana, Bali resah dengan hilangnya sapi dari kebun. Sudah sekitar sembilan ekor sapi milik warga hilang.
Kasus hilangnya sapi terakhir terjadi pada Sabtu (26/3) lalu. Sapi milik Komang Madiasa, warga Banjar Sarikuning, Desa Tukadaya, hilang di perkebunan pinggir hutan kawasan hutan di KPH Bali Barat. Pemilik baru mengetahui sapinya hilang saat akan memberikan makan sapinya di pagi hari.
Sebelumnya, sapi milik Made Artana, juga hilang di pinggiran hutan. Sapi betina yang sudah dalam kondisi hamil tersebut hilang sore hari. Karena pada pagi hari hingga siang, sempat melihat sapinya masih ada.
"Waktu mau kasih makan, sudah tidak ada. Apakah dicuri atau lepas tidak tahu," ujarnya.
Made Artana berencana melaporkan kehilangan sapi tersebut ke polisi. Sehingga, untuk melengkapi laporannya, meminta surat keterangan kehilangan sapi ke kantor desa.
"Nanti akan lapor ke polisi," imbuhnya.
Perbekel Desa Tukadaya I Made Budi Utama mengatakan, warganya memang ada yang kehilangan sapi, tetapi tidak seperti informasi yang beredar di masyarakat dan sosial media.
Menurutnya, mengenai infomasi bahwa sembilan ekor sapi milik warga yang hilang di kebun, bukan terjadi dalam waktu bersamaan.
"Sembilan ekor sapi yang dibilang hilang dalam dua tahun terakhir, bukan sebulan terakhir," ujarnya.
Namun masih belum bisa dipastikan apakah memang dicuri atau memang hilang karena lepas dari ikatannya dan kabur dari tempatnya. Karena warga yang memiliki sapi tidak ada yang meletakkan di kandang, melainkan di kebun yang jauh dari rumahnya, sehingga belum bisa dipastikan hilang karena dicuri.
"Belum bisa dipastikan apakah hilang karena dicuri atau lepas," ujarnya.
Dari sembilan ekor sapi yang hilang dalam dua tahun terakhir, hanya satu ekor sapi yang diduga memang ada yang mencuri. Yakni, sapi yang hilang Sabtu lalu. Karena dari jejak dari tempat sapi diletakkan, tidak ada bekas sapi lepas sendiri dan kabur.
"Selama ini belum ada yang melapor ke polisi," ungkapnya.
Mengenai warga yang datang ke kantor desa mengadukan kehilangan sapi, pihaknya hanya membuat surat pengantar kehilangan karena warga tersebut akan melapor ke polisi.
"Hanya satu warga yang meminta surat keterangan kehilangan sapi ke desa dan akan melapor ke polisi," ujarnya.
Perbekel menambahkan, karena selama ini warga yang punya ternak sapi tidak pernah ditempatkan di kandang dan melepas di pinggiran hutan yang jauh dari rumah. Pihaknya mengimbau warganya untuk meletakkan sapi dekat rumah atau lokasi yang mudah dipantau.
Editor : Yoyo Raharyo