MANGUPURA,radarbali.id- Indonesia disebut darurat Narkotika. Banyak faktor menjadi penyebabnya. Mulai dari tingginya suplai narkoba dari negara-negara di wilayah Golden Triangle. Yakni Thailand, Myanmar dan Laos, atas banyaknya permintaan dari pelaku-pelaku narkoba ada di Indonesia. Kepastian ini disampaikan,Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia Komjenpol Petrus Reinhard Golose,
"Karena tingginya suplai narkoba dari tiga negara tersebut, kita gelar berbagai terobosan," ungkap Golose saat menutup Internasional Tennis Table Championship (turnamen tenis meja) War on Drug di Auditorium Widya Sabha, Universitas Udayana, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Rabu 21 Juni 2023.
Menurutnya jumlah tersebut cenderung meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Faktor penyebab lumayan banyam, mulai dari tingginya suplai narkoba dari negara-negara di wilayah Golden Triangle. "Ya Thailand, Myanmar dan Laos. Itupun karena ada permintaan dari masyarakat itu sendiri," timpalnya. Narkotoka jenis sabu menjadi yang paling marak disalahgunakan.
Baca Juga: Ditolong Nelayan, 31 ABK Selamat dari Maut, Kapal Motor Bandar Nelayan 271 Ludes
Hal itu merupakan masalah yang berat sekali. Sehingga pihaknya saat ini mengedepankan upaya pencegagan untuk menekan permintaan tersebut dengan program soft power, salah satunya rehabilitasi. Masyarakat yang sudah terlanjur menjadi pengguna narkoba, diminta agar segera melaporkan ke BNN yang ada di daerahnya untuk dilakukan rehabilitasi.
"Sebelum dilakukan upaya paksa (ditangkap), lebih baik melaporkan diri, akan diberi rehabilitasi dan difasilitasi oleh BNN secara gratis, karena upaya paksa itu adalah upaya terakhir," ucapnya. Selain itu, pihaknya juga memberikan edukasi dan pesan-pesan melawan narkoba melalui berbagai kegiatan.
Salah satunya turnamen tenis meja internasional dalam rangka Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2023 yang digelar di Bali ini. Guna menyampaikan pesan hidup sehat dengan berolahraga dapat membuat masyarakat terhindar dari narkotika.
Kasus narkoba yang menjerat masyarakat Bali menjadi perhatian serius Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia Komjenpol Petrus Reinhard Golose.
Pasalnya pada periode 2022 dan 2023, ratusan orang terpaksa dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) karena barang haram ini. Masalah ini disampaikan mantan Kepala Kepolisian Daerah Bali itu. "Dari data, kami rinci ada 591 masyarakat Bali terlibat narkoba yang masuk lapas pada 2022 dan 2023," tambahnya.
Sementara itu, orang luar Bali 717 orang dan warga negara asing 110 orang. Dari ratusan itu perannya macam-macam ada bandar, pengedar dan penyalahguna, ini sangat menjadi konsennta. "Jumlah tersebut menurut saya masih terlalu tinggi bagi saya, sehingga kami perlu menenkannya," tutup Jenderal asal Manado.***
Editor : M.Ridwan