Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ngeri! Puluhan Anak Kos Bakuhantam vs Pecalang di Dentim, Bakar 3 Motor, 21 Orang Diperiksa Maraton, Begini Pemicunya

Andre Sulla • Rabu, 3 Januari 2024 | 05:00 WIB

 

JADI ARANG: Tiga sepeda motor milik Pecalang Desa Wisata Kertalangu Denpasar Timur
JADI ARANG: Tiga sepeda motor milik Pecalang Desa Wisata Kertalangu Denpasar Timur

DENPASAR, radarbali.id - Sebanyak 21 orang, terdiri dari dua kelompok pemuda terlibat bakuhantam dengan pecalang di Jalan Pucuk I Gang Gunakaya No. 99x Desa Kesiman Kertalangu Dentim. Mereka sementara menjalani pemeriksaan maraton di Ruangan Penyidik Satuan Reserse (Satreskrim) Kepolisian Resor Kota (Polresta) Denpasar, Selasa (2/24). Pemeriksaan ini menyangkut dua peristiwa yaitu penganiayaan dan pengerusakan, saat perayaan malam tahun baru Senin tanggal 1 Januari 2024, sekitar pukul 01.00.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali di lingkungan Polresta Denpasar, kurang lebih 9 orang telah dimintai keterangan. Diantara Ruben Mone, 37. Paulus Kedu, Lakis, 31. Martin Adi Papa, 24. Agus Tinus Mone, 29. Tiga pria sumba ini tinggal di kawasan TKP. Lalu Yosep Daralindo, 27, Paulus Pati Japa ngara, 27. Dan Tematius Bunda, 23. Tiga pria Sumba ini Ubud Mas Gianyar.

Kemudian Maspatrisiustote, 29, dan Novita Sana, 31, asal Flores, yang tinggal di lokasi kejadian. "9 orang ini telah menjalani pemeriksaan awal. Sisahnya masih dilakukan interogasi yang masih berlangsung. 21 orang ini diamankan dari lokasi kejadian," timpal sumber petugas sembari mengatakan di kos tersebut, 22 kamar ditempati warga dari Flores sebanyak 44 orang. Sementara dua kamar ditempati oleh lima orang warga Sumba.

Dari hasil pengembangan sementara diketahui, peristiwa ini berlangsung ketika menyambut Tahun Baru oleh dua kelompok pemuda di satu komplek kos tersebut. Ada kelompok dari Manggarai, Rlores NTT, berjumlah mencapai 7 orang sedang bakar-bakar ikan sambil minum bir di bagian depan. Di sana ada jugu kelompok orang Sumba, Nusa Tenggara Timur yang sedang pesta minuman diduga bir di bagian samping berjumlah balasan orang.

Tak hanya minuman, dua pihak ini sama-sama membuktikan musik secara keras. Situasi tegang saat Maspatrisius Tote alias Patris diberikan sebatang rokok kepada Albino alias Bini, yang sama-sama asal Manggarai. Sambil menerima rokok, Patris yang merupakan Iparnya Bino sempat mengatakan kata bercanda.

"Kok cuman ini yang kumu beli,". Lalu kakak ipar Patris tertawa sambil teriak. Teriakan ini lah kelompok sumba mengira keduanya berkelahi. Walaupun demikian, Patris meminta Bino agar tenang. Namum ia tidak terima lalu adu mulut dengan Patris adik iparnya ini.

Jhon asal Flores yang sedang asik bakar ikan, berusaha melerai. Dia membujukrayu Bino agar tidak lagi teriak-teriak. Sayang, Bino merespon dengan pukulan yang mendarat pada wajah Jhon dan masalah ini panjang jadinya. Kelompok Sumba mendekat dan membantu Patrias melerai keributan antara Jhon dan Bino. Sebab Jhon ngotot membalas dengn pukulan.

Aksi inilah yang membuat warga tidak nyaman. Lalu menghubungi pihak pecalang setempat. Tak berselang lama datang 5 orang pecalang lalu berkomunikasi dengan baik alias menegur agar tidak lagi ada keributan. Salah satu pecalang menarik Jhon lalu disuruh keluar dan akan di bawa ke Banjar. Tujuannya untuk dipisahkan, sebab Jhon terus ngotot untuk mengajar si Bino.

Para pecalang pun menyuruh orang timur tersebut membubarkan diri. Namun orang timor merasa tersinggung dan langsung menyerang Pecalang Banjar Tangtu. Di sinilah terjadi adu mulut. "Ya, kata para saksi, mereka di hajar oleh pecalang. Tidak terima, dua kelompok pemuda ini serang pecalang. Sehingga terjadi aksi bakuhantam," timpal sumber.

Sejumlah pecalang memilih kabur, untuk menyelamatkan diri, hingga 3 unit sepeda motor yang ditinggal itu justru di bakar diduga oleh anak-anak kos yang terlibat dalam pertikaian itu. Ditambahkan sumber, Ruben Mone mengalami luka robek di bagian belakang. Kristina Inya Kaka, 33, luka robek di bagian kepala bagian atas. Dan ada beberapa lain alami leban. "
Akibat kejadian tersebut 3 unit motor hangus terbakar," tambahnya.

Dikonfirmasi terpisah, seorang pecalang Ketut Moja, 65, ini pertama kali datangi lokasi sekitar pukul 22.00. Dia sempat mengecek kos anak-anak timur dan didapati ada pesta minuman beralkohol. Dia sempat berpesan kepada penghuni kos Agat tidak sampai mabuk dan larut malam.

"Saya pulang alias balik kanan sekitar pukul 00.10. Namun dini hari itu, saya mendapatkan telelepon dari warga bahwa ada keributan. Saya datang dan berusaha mendamaikan tetapi malah tidak dihiraukan," kisahnya.

Kemudian datang beberapa temannya yang juga pecalang setempat. Merek menyarankan agar ke Banjar jika keributan tidak bisa selesai. Kemuda terjadi cekcok antara pecalang dan juga penghuni kos, hingga akhirnya terjadi aksi saling pukul. Bahkan para pecalang dilempari batu dan botol bir. "Saya dan beberapa pecalang mundur, dikejar oleh kelompok penghuni kos dan juga dilempari," kisahnya. Masalah ini telah ditangani pihak kepolisian sehingga, pecalang ini enggan berbicara banyak.

Sedangka, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polresta Denpasar AKP I Ketut Sukadi membenarkan satuan Reskrim Polresta Denpasar bersama Polsek Denpasar timur saat ini tengah melakukan pemeriksaan maraton terhadap 21 orang diduga terlibat penganiayaan dan pengerusakan. Terkait dengan kasus penganiayaan Penyidik Sat Reskrim telah memeriksa saksi dan mengamankan barang bukti berupa Besi dan topi petani yang diduga digunakan menganiayanya korban.

sedangkan untuk pelaku masih dilakukan penyelidikan. Sementara itu terkait peristiwa pengerusakan tiga sepeda motor terjadi karena situasi mulai memanas pecalang dan warga berusaha meninggalkan lokasi tetapi karena takut.

Tiga Sepeda motor yaitu Yamaha Aerox DK 3046 ZZ , Honda Vario DK 2274 BU dan Honda Scoopy DK 2773 ACV milik korban Agus Mahendra, I Ketut Sadia dan Bagus. SPM tertinggal dan menjadi sasaran pengerusakan hingga pembakaran oleh dua kelompok warga di TKP.

Sat Reskrim telah melakukan beberapa langkah penyelidikan yaitu memeriksa saksi saksi dari pihak Desa Kesiman Kertalangu sebanyak 9 orang, pecalang 3 orang, dua kelompok warga yang bertikai sebanyak 21 orang dan korban yang merupakan pemilik sepeda motor tiga orang. Dari hasil penyelidikan terhadap kejadian tersebut telah cukup bukti terjadi peristiwa tindak penganiayaan sesuai dengan Pasal 351 KUHP, namun sampai saat ini dari pihak korban belum membuat Laporan Polisi.

"Sedangkan tindak pidana Pengerusakan sesuai dengan pasal 406 KUHP sementara masih dilakukan Penyelidikan terkait peristiwa tersebut. Belum ada yang ditahan. Masih selidiki" tutup Kasi Humas. Senada disampaikan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Bali Kombespol Jansen Avitus Panjaitan. Mantan Kapolresta Denpasar memberikan himbauan secara terbuka, terkait keributan antara warga Sumba dengan Flores NTT, agar kedua kelompok dan mempercayakan prosesnya kepada Polri.

Hingga hari ini kejadian tersebut masih dalam proses penanganan di Polresta Denpasar. "Bagi warga Sumba maupun Flores lainnya khususnya yang tinggal di Bali, kami minta agar tidak terpancing isu-isu menyesatkan ataupun emosi sesaat yang dapat menimbulkan keributan atupun merugikan diri sendiri, kelompok, maupun orang lain," pungkasnya. ***

Editor : M.Ridwan
#bakuhantam #bentrok #kesiman kertalangu #Dentim #pecalang #radarbali