Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Buntut Kasus Penganiayaan Mahasiswa STIP Asal Klungkung, Parta Minta Kementerian Serius Mengevaluasi

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Minggu, 5 Mei 2024 | 13:54 WIB

 

MINTA SERIUS PENANGANAN : Nyoman Parta (tengah) di rumah keluarga mendiang  Putu Satria Ananta Rustika.(Dewa Ayu Pitri Arisanti/Radar Bali)
MINTA SERIUS PENANGANAN : Nyoman Parta (tengah) di rumah keluarga mendiang Putu Satria Ananta Rustika.(Dewa Ayu Pitri Arisanti/Radar Bali)

SEMARAPURA, Radar Bali.id- Meninggalnya Putu Satria Ananta Rustika, 19, taruna tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta diduga setelah mendapat kekerasan dari seniornya mendapat perhatian anggota DPR RI Dapil Bali, Nyoman Parta. Sebagai bentuk dukungan, Parta tidak hanya menyambangi rumah korban tetapi juga menugaskan stafnya mendampingi pihak keluarga yang tengah mengurus jenazah Rustika.

“Kami akan kawal terus dan kebetulan staf saya sudah terlibat dari kemarin ketika kami dikasi informasi dari pak kades dan orang tua. Staf saya sudah langsung mendampingi di Jakarta dan hari ini yang bersangkutan ikut di rencana otopsi, menunggu otopsi di rumah sakit,” terang Parta yang mengunjungi rumah duka di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Sabtu (4/5/2024).

Parta meyakini kasus penganiayaan tersebut dilakukan lebih dari satu orang. Untuk itu pihaknya meminta kepada pihak kepolisian untuk mengusut kasus tersebut dengan sungguh-sungguh sehingga menjadi terang-menderang.

\Begitu juga dengan pihak kampus, dia minta agar tidak ada hal-hal yang ditutup-tutupi. “Pihak kampus agar membuka kasus ini, tidak menutup-nutupi. Jadi sekolah tidak boleh menjadi tempat penganiayaan,” ujarnya.

Dia berharap kasus meninggalnya Rustika akibat penganiayaan oleh senior menjadi petaka terakhir di sekolah-sekolah kedinasan. Mengingat banyaknya kasus serupa telah terjadi sebelum-sebelumnya.

“Jadi seluruh kementerian yang memiliki sekolah, seluruh departemen yang memiliki sekolah harus serius mengevaluasi MOS, mengevaluasi Ospek. Tidak boleh lagi terjadi kejadian berikutnya. Kasihan anak-anak unggul mati sia-sia,” terangnya.

Lebih lanjut dia menuding pihak kampus kerap cuci tangan bahkan menutupi kasus kekerasan yang terjadi di dalam kampus. Sebab sebelumnya pihaknya juga pernah menerima laporan. “Artinya budaya kekerasan di sekolah kedinasan itu terjadi di mana-mana,” tandasnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#penganiayaan #stip #klungkung