Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mr. Terimakasih Diculik hingga Diperas Diduga Sindikat Berseragam Mirip Polisi, Penculikan Beruntun Gentayangan di Bali

Andre Sulla • Rabu, 22 Oktober 2025 | 02:35 WIB

 

MENGADU: Sergeii Domogatsky alias Mr. Terimakasih, dan , Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy, S.I.K., beri pernyataan, Selasa (21/10).
MENGADU: Sergeii Domogatsky alias Mr. Terimakasih, dan , Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy, S.I.K., beri pernyataan, Selasa (21/10).

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Pulau Dewata kini diteror diduga jaringan kriminal internasional dan lokal bersenjata yang menargetkan Warga Negara Asing (WNA). Ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan wisatawan dan investor.

Selain mengancam rasa aman, kasus-kasus ini berpotensi mencoreng citra Bali sebagai destinasi wisata dunia yang damai dan ramah.

Terbaru. Bali kembali diguncang kasus kriminal yang menggemparkan. Seorang influencer asal Rusia, Sergeii Domogatsky alias Mr. Terimakasih, menjadi korban penodongan, penculikan, penyekapan, penyiksaan, bahkan diminta tebusan mencapai USD 1 juta oleh kelompok bersenjata yang diduga merupakan bagian dari sindikat. Polda Bali sementara melakukan penyelidikan untuk mengungkap kejahatan tersebut.

 Baca Juga: Duh! Batas Waktu Hari Ini! Puluhan Nelayan Korban Banjir Jembrana Terancam Gagal Dapat Santunan Ekonomi, 39 Proposal Belum Lengkap

Peristiwa itu berlangsung saat Sergeii tengah mengendarai sepeda motor seorang diri, di kawasa Pelabuhan Benoa, Minggu 19 Oktober 2025 sekitar pukul 21.30 WITA. Tanpa diduga, sebuah mobil Alphard hitam menghadangnya di tengah jalan.

"Dua pria berpakaian mirip polisi menyeretnya secara paksa masuk ke dalam mobil tersebut," katanya. Ia dibawa ke sebuah rumah di daerah Bukit.

Di sana dirinya ditodong senjaata stun gun, disekap, disiksa dengan cara kepala ditutup kantong serta dicekik.

"Penyiksaan itu berlangsung selama tiga jam. Saya diperas,” ujar Sergeii dalam wawancara dengan sejumlah media, di Sanur, Denpasar Selatan, Selasa (21/10/2025).

Di lokasi itu, selain menodongkan pistol, mereka menaruh paket bubuk tidak dikenal di tangannya.

"Saat itu, mereka kemudian memaksa Sergeii mentransfer uang sebesar 1 juta dolar AS, atau setara Rp 16 miliar, dengan ancaman akan memenjarakannya," kisah lelaki asal Negeri Beruang Merah.

Tidak berhenti di situ, datang tiga warga negara Rusia lainnya yang ikut melakukan kekerasan.

“Selain memukuli saya, mereka cekik, dan menyetrum dengan listrik. Saya berkali-kali bilang tidak punya uang, tapi mereka tetap mengancam akan membunuh saya,” tuturnya.

 Baca Juga: Tol Probowangi Tembus Besuki, Overpass di Tebing dan Menara Listrik Jadi Kendala

Usai disiksa selama berjam-jam, Sergeii akhirnya dibuang di area ladang dekat Hotel Kempinski. Dalam kondisi lemah, ia melapor ke Polda Bali dengan nomor laporan STTLP/732/X/2025/SPKT/POLDA BALI, saat itu juga. Menurut pengakuan Sergeii, kelompok ini bukan pelaku tunggal.

“Ini dilakukan geng diduga internasional dan lokal yang sudah lama beraksi di Bali,” katanya. Kesaksian, pelaku menggunakan berbagai bahasa seperti Rusia, Ukraina, Chechnya, Arab, dan Indonesia. Ini mengindikasikan adanya jaringan kriminal internasional dengan operasi lintas negara.

Mereka menyasar turis kaya, investor, pemilik villa mewah, hingga pelaku industri crypto. "Saya menduga ada kebocoran data pribadi seperti alamat villa dan informasi keuangan yang dimanfaatkan untuk menargetkan korban," pungkasnya.

Seperti catatan Jawa Pos Radar Bali, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, sejumlah kasus penculikan, pemerasan, dan penyiksaan dengan pola serupa dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Bali.

Para pelaku memiliki modus yang nyaris identik, menyamar sebagai aparat penegak hukum, lengkap dengan seragam, borgol, senjata, hingga dokumen resmi palsu. Dengan cara itu, mereka meyakinkan korban sebelum melancarkan aksi kekerasan untuk menguras harta, terutama aset digital seperti cryptocurrency. Rentetan kasus menunjukkan bahwa sindikat ini beroperasi sistematis dan berpindah-pindah lokasi.

Di Canggu, 14 Juli 2025, pasangan WNA asal Rusia dan Kazakhstan diserang di villa, diikat, disiksa, dan dipaksa membuka crypto wallet. Kerugian ditaksir mencapai USD 736.000 atau sekitar Rp 12 miliar. Lalu Jimbaran, 9 Juli 2025, empat pria berseragam mirip petugas Imigrasi memeras WNA asal Rusia dengan tuntutan tebusan USD 150.000 (Rp 2,4 miliar). Mengwi, 27 Juni 2025: Seorang perempuan asal Ukraina dipukul dan diikat di bawah todongan senjata tajam, lalu dipaksa mentransfer aset crypto senilai USD 30.000 (Rp 500 juta).

Ungasan–Ubud, 15 Desember 2024: Dua WNA Rusia disergap dan kehilangan aset crypto senilai USD 214.000 (Rp3,5 miliar). Jimbaran, 25 November 2024, WNA Rusia, Gleb Vedovin, diculik dan disiksa oleh kelompok berseragam hitam. Ia dipaksa menyerahkan USD 200.000 (Rp 3,3 miliar). Rangkaian kasus tersebut menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan wisatawan dan investor asing.

Aksi-aksi kriminal yang menyasar WNA Kaya dan komunitas ekspatriat ini bukan hanya mengancam rasa aman, tetapi juga mencoreng citra Bali sebagai destinasi wisata dunia yang damai dan beradab. Kasus Mr. Terimakasih menjadi alarm keras bahwa Bali tengah menghadapi ancaman nyata dari kejahatan terorganisir. Terpisah, Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy, S.I.K., membenarkan pihaknya telah menerima laporan.

Bahkan sebelumnya, telah menghubungi pemilik akun untuk meminta klarifikasi atas informasi yang disampaikan melalui media sosial. Langkah cepat ini, kata dia, merupakan bagian dari komitmen Polda Bali dalam menjaga situasi kamtibmas serta menindaklanjuti setiap laporan masyarakat dengan profesional.

“Kami sudah berkomunikasi dengan yang bersangkutan untuk memastikan duduk perkaranya. Namun kami imbau agar setiap laporan disampaikan melalui jalur resmi, bukan hanya melalui media sosial,” tegas mantan Kabid Humas Polda NTT. Polda Bali kini melakukan penyelidikan guna menelusuri kebenaran informasi yang beredar. Selain itu, masyarakat juga diminta tidak mudah terprovokasi atau menyebarkan ulang informasi yang belum terverifikasi.

Polda Bali berkomitmen memberikan pelayanan yang transparan, akuntabel, dan cepat tanggap. Kolaborasi antara masyarakat dan kepolisian diharapkan dapat memperkuat rasa aman serta menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata yang nyaman dan kondusif. “Sinergi dan kepercayaan masyarakat menjadi kunci. Kami akan terus meningkatkan kualitas pelayanan dan penegakan hukum demi keamanan bersama,” tutup Jubir Polda Bali.***

Editor : M.Ridwan
#penyiksaan #sergei domogatsky #polda bali #penyekapan