DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Seorang pria berinisial IP, warga Denpasar, mengalami penderitaan panjang usai menjalani operasi plastik kelopak mata (Eyelid) di NgoerahSun Wellness & Aesthetic Center, Jalan Pulau Lombok No.4, Dauh Puri Klod, Denpasar Barat.
Alih-alih mendapatkan hasil sesuai harapan, IP justru menilai kondisi kedua matanya semakin memburuk hingga mengganggu aktivitas dan menimbulkan trauma mendalam.
IP menyampaikan kekecewaan serta dugaan malpraktik yang disebut melibatkan dr. Agus Roy Rusly, H.H., Sp.BP-RE, Sup Sp.T (K) FICD bersama timnya. Ia menjalani operasi Senin 11 Agustus 2025 dengan tujuan memperbaiki tampilan kelopak mata.
Namun, setelah tindakan, kelopak mata mengalami pembengkakan ekstrem, memar kebiruan, serta nyeri yang tak kunjung reda selama hampir tujuh minggu.
Baca Juga: Pelakor Lakukan Aksi Penganiayaan di Sunset Road Kuta, Istri Sah Minta Kepastian Hukum
Melihat tak ada perbaikan, IP kemudian mengutarakan keberatan kepada pihak klinik. Dokter kemudian menjadwalkan operasi revisi pada 29 September 2025. Bukannya membaik, pasien mengaku hasil revisi justru memunculkan masalah baru.
"Ya, luka sayatan terlihat jelas, kantung mata tampak jatuh, penglihatan menjadi buram, hingga muncul pendarahan pada bagian dalam. kelopak mata," beber IP ketika dijumpai di gedung megah layak hotel bintang lima, yakni NgoerahSun Wellness & Aesthetic Center, Selasa (25/11).
Lima hari setelah operasi revisi, IP kembali menjalani kontrol. Dokter kemudian menjadwalkan pembukaan jahitan pada 9 Oktober 2025.
Namun, setelah jahitan dilepas, pasien mengaku kondisinya semakin memprihatinkan. Ia diminta kembali melakukan kontrol pada sebulan kemudian, di gedung raksasa, satu kompleks dengan RSUP Prof. Ngoerah, Rabu 22 Oktober 2025.
Menurut keterangan IP, dokter kembali menawarkan revisi ketiga dan menjadwalkan tindakan pada 25 November 2025. Namun saat sudah berada di ruang tindakan, IP memutuskan menolak. Ia mengaku kehilangan kepercayaan, trauma, serta merasa telah menderita selama tiga bulan tanpa adanya kepastian perbaikan.
“Saya benar-benar takut. Dua operasi saja membuat kondisi mata saya rusak dan aktivitas saya terganggu. Saya tidak yakin operasi ketiga bisa memperbaiki apapun,” ujarnya.
IP juga mencurigai adanya keterlibatan dokter residen dalam tindakan medis yang ia jalani, meski tempat tersebut tersebut bukan fasilitas pendidikan kedokteran. Ia menyebut pernah melihat beberapa sosok yang diduga resident berada di area tindakan.
“Saya melihat ada beberapa resident praktek di sana. Setahu saya, itu bukan tempat pendidikan,” ungkapnya.
Tak hanya dirinya, IP menyebut bertemu dua pasien lain yang mengeluhkan kondisi serupa saat datang kontrol.
"Terkait apa yang saya alami, upaya menempuh jalur hukum masih saya pikirkan," tutupnya. Terpisah Kasubbag Humas RSUP Prof. Ngoerah, I Dewa Ketut Kresna mengatakan akan kroscek terlebih dahulu. "Terimakasih informasinya, kami koordinasi dan pelajari dulu," tutup Juru Bicara (Jubir) RSUP Prof. Ngoerah.***
Editor : M.Ridwan