Maraknya aksi pencurian pratima alias benda sakral di sejumlah pura membuat warga di Desa Sidemen, Telagatawang, dan Sinduwati hilang kesabaran. Sejumlah tokoh adat dan perwakilan krama dari delapan banjar adat mendatangi Mapolsek Sidemen untuk mempertanyakan perkembangan kasus yang kian meresahkan tersebut, Sabtu (17/1/2026).
KEJADIAN itu memang sudah berkali-kali. Berdasarkan data warga, setidaknya sudah ada enam pura di wilayah Sidemen yang menjadi sasaran maling.
Tak hanya soal hilangnya materi seperti uang kepeng, warga merasa sangat terpukul karena dampak spiritual dan biaya upacara yang harus ditanggung.
Beban Upacara Bisa Lebih Besar dari Kerugian Materi
Penglingsir Pura Dalem Hyang Taluh, Made Adi Raharta, menegaskan bahwa pencurian di tempat suci mengharuskan warga menggelar upacara pembersihan (yadnya) yang sangat menguras biaya.
“Setiap kejadian, kami harus melaksanakan rangkaian upacara Guru Piduka, Mesapuh, hingga Mebendu Piduka. Biaya upacaranya jauh lebih besar daripada nilai barang yang hilang, dan ini sangat memberatkan krama,” tegas Adi Raharta di hadapan petugas.
Terkendala Kualitas CCTV Belum Maksimal
Pihak Polsek Sidemen menyatakan bahwa kasus ini masih dalam tahap penyelidikan intensif. Namun, polisi mengaku menemui beberapa kendala di lapangan, di antaranya adalah kualitas rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian yang buram sehingga sulit mengidentifikasi wajah pelaku.
“Kami akan melakukan upaya semaksimal mungkin agar kasus ini segera terungkap dan masyarakat kembali merasa aman,” tegas pihak Polsek Sidemen.[*]
Editor : Hari Puspita