Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Teror BPJS Denpasar Bukan Kriminal Biasa, Kuat Dugaan Bermotif Politik, Begini Analisanya

I Wayan Widyantara • Senin, 23 Februari 2026 | 22:20 WIB

 

 

CURIGA: Direktur Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LABHI) Bali, I Made “Ariel” Suardana atau akrab disapa IMAS
CURIGA: Direktur Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LABHI) Bali, I Made “Ariel” Suardana atau akrab disapa IMAS

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Direktur Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LABHI) Bali, I Made “Ariel” Suardana atau akrab disapa IMAS, menilai aksi teror terhadap Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kota Denpasar sarat muatan politik.

 Hal itu disampaikannya dalam wawancara kepada Jawa Pos Radar Bali, Senin (23/2/2026), menyikapi insiden penyerangan oleh orang tak dikenal (OTK) yang terjadi Sabtu (21/2/2026) malam.

Menurut IMAS, peristiwa tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks politik yang tengah berkembang, termasuk isu pelaporan Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, ke Mabes Polri yang mencuat dua hari sebelumnya.

 Baca Juga: Rai Mantra Soroti Karut-Marut Imbas Penonaktifan PBI JK, Dorong Pemda Optimalkan UHC

”Kalau kita lihat subyek yang berhadapan dengan kasus ini kan Saifullah Yusuf (Mensos) dengan Jaya Negara. Ini saya agak bingung karena Wali Kota Denpasar tidak ngantor di sana. Kenapa juga pelaku tidak melempar kantor Wali Kota Denpasar sekaligus memasang spanduk ‘Walikota Pembohong’? Kan pesannya langsung sampai,” ujar IMAS.

Ia menilai kejanggalan tersebut menjadi indikasi bahwa aksi tersebut bukan sekadar tindak kriminal biasa. ”Ini agak janggal kan, ini bukan murni kriminal. Ini bermotif politik. Dengan tujuan memanas-manasi keadaan,” tegasnya.

IMAS juga menyoroti pola aksi yang menurutnya terencana. Ia meragukan jika pelaku merupakan kelompok anak muda atau geng motor yang bertindak spontan.

”Kalau polisi gagal mengungkap pelakunya dan gagal mengungkap motifnya ini jelas orangnya terlatih. Bukan geng motor tanpa alasan, atau kenakalan anak muda yang bisa ditebak ke mana arah larinya,” katanya.

 Baca Juga: Hari Pertama Puasa, BBPOM Tak Temukan Kandungan Zat Berbahaya Pada Takjil di Denpasar

Ia membandingkan kasus tersebut dengan perusakan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa beberapa tahun lalu.

”Saya jadi ingat kasus perusakan baliho ForBali dulu, baliho Tolak Reklamasi Teluk Benoa dirusak apalagi jelang kedatangan Jokowi dan tak satu pun pelaku bisa diendus apalagi ditangkap sampai hari ini. Hanya hitungan menit saja waktu baliho dirusak meskipun dipasang dekat keramaian dan CCTV pun tak bisa menjawabnya sama sekali,” ungkap IMAS.

Menurutnya, dalam kasus Kantor BPJS Denpasar, pelaku diduga ingin mempertahankan isu yang berkembang atau bahkan sengaja mendorong konflik antara wali kota dan menteri agar melebar ke ranah politik yang lebih tajam.

”Jadi menurut saya dalam kasus Kantor BPJS Denpasar tujuan pelaku adalah ingin mempertahankan isu ini, atau dengan sengaja menjadikan konflik Wali Kota versus Menteri ini berkembang ke arah politik yang lebih akut,” ujarnya.

 Baca Juga: Edukasi Bahaya Pinjol Ilegal dan Bijak Meminjam, KrediOne Gandeng AFPI Gelar “Pindar Mengajar” di Bandung

IMAS menegaskan bahwa aksi teror semacam itu berpotensi meningkatkan ketegangan politik di Kota Denpasar. ”Yang jelas teror meneror begini menaikkan tensi politik dan ketegangan di Denpasar,” katanya.

Ia juga mempertanyakan keberanian pelaku yang tidak melakukan aksi serupa di kantor wali kota. ”Kalau pelakunya kok nggak berani pasang spanduk di depan kantor wali kota, apa karena kantornya berada di pusat keramaian? Yang jelas sampai dengan tujuh hari polisi nggak bisa ungkap pelaku yang merusak dan meneror kantor BPJS maka dipastikan orangnya bukan orang biasa-biasa. Polisi pun puyeng dibuatnya,” ucap IMAS.

Di sisi lain, ia menilai situasi tersebut justru bisa berdampak pada meningkatnya simpati publik terhadap Wali Kota Denpasar. ”Jaya Negara pun bak dapat durian runtuh karena simpati berdatangan silih berganti,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, suasana Sabtu malam di Jalan Raya Puputan, Denpasar Timur, mendadak mencekam setelah Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kota Denpasar digeruduk sekelompok OTK sekitar pukul 22.00 Wita. Belasan orang yang mengenakan helm dan masker datang serempak menggunakan sepeda motor.

 Baca Juga: BTID Paparkan Pengantongan Izin Penggunaan Kawasan Hutan saat RDP dengan Pansus TRAP DPRD Bali

Mereka memasang dua spanduk besar di pintu masuk dan pintu keluar kantor bertuliskan “Walikota Pembohong”. Selain itu, kelompok tersebut juga melempari area depan kantor dengan batu. Namun, lemparan tersebut dilaporkan tidak sampai memecahkan kaca bangunan.

Seorang pegawai BPJS yang enggan disebutkan namanya membenarkan peristiwa itu. ”Iya benar. Kejadian jam 10 malam. Mereka pakai masker,” ujarnya singkat.

Sumber lain menyebut tidak ada kerusakan parah akibat insiden tersebut. ”Tidak ada kerusakan berarti. Yang dilempar hanya batu kecil-kecil,” katanya.

Kapolsek Denpasar Timur, Kompol I Ketut Tomiyasa, saat dikonfirmasi Senin (23/2) kemarin kembali menyatakan kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan. ”Masih dalam penyelidikan,” singkatnya.

Sebelumnya, ia juga menegaskan pihaknya telah mengamankan barang bukti berupa batu dan spanduk yang ditinggalkan pelaku serta tengah memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi. Hingga kini, polisi masih menelusuri motif di balik aksi tersebut. Sementara itu, aktivitas pelayanan di Kantor BPJS Kesehatan Denpasar dipastikan tetap berjalan normal.***

Editor : M.Ridwan
#PBI JK #Denpasar Bali #IMAS #bpjs kesehatan #Ariel Suardana #made suardana #muatan politis