GILIMANUK, Radar Bali.id – Kondisi kontras terjadi di jalur penyeberangan Selat Bali pasca-Lebaran 2026. Arus balik kendaraan dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang dilaporkan mulai berangsur normal dan landai.
Sebaliknya, Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi justru masih padat merayap diserbu ribuan kendaraan yang hendak masuk ke Pulau Dewata.
Manajer Usaha PT ASDP Indonesia Ferry Pelabuhan Gilimanuk, Didi Juliansyah, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut antrean panjang kendaraan yang sempat mengular keluar Bali kini sudah tidak terlihat lagi.
"Sudah mulai landai. Arus balik dari Gilimanuk mulai berangsur normal. Baik roda dua maupun roda empat kini dapat terlayani dengan sangat lancar," ungkap Didi.
Ketapang Masih Padat Kendaraan Pendatang
Meski Gilimanuk sudah bernapas lega, pantauan kamera pengawas (CCTV) menunjukkan pemandangan berbeda di Pelabuhan Ketapang. Ribuan kendaraan pribadi, bus, hingga truk logistik masih mengantre panjang untuk menyeberang ke Bali. Fenomena ini dipicu oleh arus balik para pekerja dan masyarakat yang kembali ke Bali untuk mengais rezeki setelah merayakan Lebaran di kampung halaman.
Berdasarkan data produksi selama 24 jam pada Minggu (29/3/2026), tercatat sebanyak 60.707 orang dan 19.649 unit kendaraan telah masuk ke Bali melalui Ketapang. Arus masuk ini didominasi oleh kendaraan roda dua sebanyak 12.542 unit dan mobil pribadi sebanyak 5.345 unit.
Angka tersebut berbanding jauh dengan kendaraan yang keluar dari Bali pada hari yang sama, yang hanya mencatatkan 24.278 orang dan 5.244 unit kendaraan.
Terapkan Strategi Khusus dan Operasikan 32 Kapal
Guna mengurai kepadatan di Ketapang, PT ASDP Indonesia Ferry menerapkan strategi prioritas dengan mendahulukan kendaraan pemudik seperti sepeda motor, mobil pribadi, dan bus.
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, menjelaskan bahwa pihaknya mengerahkan hingga 32 armada kapal untuk menjaga kelancaran penyeberangan, di mana 18 kapal di antaranya menerapkan pola cepat Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB).
Untuk kendaraan logistik besar, petugas menerapkan skema fleksibel dengan mengarahkannya sementara ke area kantong parkir (buffer zone) seperti di Grand Watudodol, Bulusan, Terminal Sri Tanjung, dan area PT Pusri.
"Setelah kondisi pelabuhan mulai agak landai, kendaraan logistik tersebut akan kami layani kembali secara bertahap. Meskipun tingkat keterisian pelabuhan mencapai sekitar 90 persen, seluruh proses pemuatan tetap berjalan lancar di bawah kendali petugas," pungkas Arief Eko. [*]
Editor : Hari Puspita