RADAR BALI - Tabir gelap kasus mutilasi warga negara (WN) Ukraina, Ihor Komarov (28), yang jasadnya ditemukan di Muara Sungai Wos Teben, Ketewel, Gianyar, kini memasuki babak baru.
Pengejaran lintas negara yang dilakukan Kepolisian Daerah (Polda) Bali bersama National Central Bureau (NCB) Interpol Indonesia mengungkap bahwa para pelaku merupakan kelompok profesional dari empat negara berbeda.
Sekretaris National Central Bureau (NCB) Interpol Indonesia Brigjen Untung Widyatmoko mengungkapkan bahwa para tersangka kini terdeteksi berada di kawasan Eropa Timur.
Jalur pelarian mereka tergolong sangat rapi dengan memanfaatkan celah perbatasan internasional.
Memanfaatkan Konflik Timur Tengah untuk Menghindar dari Interpol
Pelarian para tersangka ke arah Bulgaria bukan tanpa alasan. Brigjen Untung Widyatmoko menyebutkan bahwa pihaknya menghadapi kendala transportasi untuk melakukan pengejaran langsung karena situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah.
"Begitu mereka sudah menyeberang ke Bulgaria, kami juga kesulitan transportasi ke arah sana karena situasi Timur Tengah sedang konflik," terang Untung di Mapolda Bali.
Para pelaku diduga memahami bahwa eskalasi konflik regional akan menciptakan hambatan logistik bagi aparat keamanan internasional untuk melakukan pengejaran cepat.
Motif Tebusan Rp 168 Miliar dan Video Penyekapan
Sebelum jasadnya ditemukan tak bernyawa, jagat maya Bali sempat digegerkan oleh unggahan video yang memperlihatkan kondisi Ihor Komarov dalam penyekapan. Dalam rekaman tersebut, wajah Ihor tampak bengkak dengan luka memar keunguan di sekitar mata.
Dibawah tekanan, korban dipaksa membaca pernyataan yang menyudutkan dirinya sebagai pemimpin jaringan scam.
Para penculik diketahui meminta tebusan fantastis sebesar USD 10 juta atau sekitar Rp 168 miliar kepada keluarga korban.
Namun, pihak keluarga yang dikabarkan merupakan pengembang properti di Ukraina menolak memenuhi permintaan tersebut dan memilih memutus komunikasi dengan para pelaku.
Pola Intelijen: Pengintaian Intensif 4 Kali Sehari
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali Kombes I Gede Adhi Mulyawarman mengungkapkan bahwa eksekusi ini telah direncanakan dengan sangat matang.
Korban sudah dibuntuti selama satu bulan penuh sejak 25 Januari 2026. Penyidik menemukan pola pengintaian yang sangat rapi dan terorganisasi seperti taktik yang lazim digunakan intelijen:
Sistem Shift: Pelaku melakukan survei lokasi hingga empat kali dalam sehari secara bergantian.
Mobilitas Tinggi: Mereka menggunakan Yamaha XMAX dengan nomor kendaraan yang berganti-ganti untuk memantau vila tempat korban menginap di kawasan Jimbaran. Salah satu tersangka, Vasyl Nemesh, juga terdeteksi menggunakan sepeda motor untuk membuntuti korban.
Target Utama: Muncul dugaan bahwa target awal para pelaku adalah rekan korban bernama Ermak Petrovsky, yang sempat melawan dengan menusuk salah satu penyerang sebelum berhasil meloloskan diri saat penyergapan di Jalan Pura Batu Meguwung, Jimbaran, Badung.
Jejak DNA di 5 Lokasi
Meskipun para pelaku berusaha menghilangkan jejak dengan membuang potongan tubuh korban di Pantai Ketewel di Gianyar, analisis teknologi dan forensik berkata lain.
Polisi telah mengidentifikasi lima TKP berbeda, mulai dari lokasi penculikan di Jimbaran, vila di Tabanan yang menjadi tempat penyekapan, hingga lokasi eksekusi.
Puslabfor Bareskrim Polri memastikan profil DNA dari bercak darah di mobil Avanza hitam dan sebuah vila di Tabanan identik dengan tulang paha dan gigi geraham milik Ihor Komarov.
Jejak GPS dari kendaraan yang disewa juga memperkuat bukti kehadiran para tersangka di titik-titik krusial tersebut sebelum akhirnya mereka terbang meninggalkan Indonesia.
Identitas Terkuak Lewat Tato Bunda Maria dan Uji DNA
Misteri potongan tubuh yang ditemukan warga di Pantai Ketewel pada 26 Februari 2026 akhirnya terkonfirmasi secara ilmiah.
Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy menyatakan bahwa berdasarkan hasil uji laboratorium forensik, profil DNA potongan tubuh tersebut identik dengan Ihor Komarov dengan probabilitas 99,99 persen.
Petunjuk awal yang mengarahkan polisi adalah tato spesifik bergambar Bunda Maria dan jam angka romawi pada potongan lengan yang ditemukan.
Hasil ini diperkuat dengan pencocokan alel maternal dari ibu korban, Valeria Komarov, serta bercak darah yang ditemukan di mobil Toyota Avanza hitam dan sebuah vila di Tabanan.
Jaringan Lintas Negara: Ukraina, Rusia, Kazakhstan, dan Nigeria
Kasus ini melibatkan kolaborasi kriminal internasional yang kompleks. Setidaknya tujuh orang teridentifikasi masuk dalam jaringan ini:
DPO Eksekutor: Nikolai Patrik (Rusia), Sergei Moiseev (Rusia), Dennys Halushko (Ukraina), Vasyl Nemesh (Ukraina), Roman Melnyk (Ukraina), dan Vladislav Akhanov (Kazakhstan).
Penyedia Sarana: Chukuebuka Gabriel (Nigeria), yang telah ditangkap di NTB. Ia berperan menyewa kendaraan menggunakan tiga paspor palsu.
Pelarian Berpencar Melalui Jalur Tikus di Indonesia
Untuk mengecoh aparat, keenam DPO tersebut tidak keluar dari Indonesia secara bersamaan. Mereka kabur dari Bali secara bertahap. Ada yang melalui Jakarta, ada yang terbang ke Nusa Tenggara Timur (NTT), ada juga yang ke Nusa Tenggara Barat.
Keenam eksekutor akhirnya berkumpul kembali di Kuala Lumpur dan melanjutkan perjalanan melalui darat menuju Bulgaria.
Pola pelarian terpencar ini bertujuan agar jika salah satu tertangkap, yang lain tetap bisa melanjutkan perjalanan ke luar negeri melalui pintu-pintu perbatasan yang berbeda.
Tim penyelidik dari dua negara kini bersinergi dengan Interpol untuk melacak keberadaan para pelaku yang diduga telah bersembunyi di balik perbatasan Bulgaria. ***
Editor : Ibnu Yunianto