Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Peringati Hari Kartini dari Balik Jeruji Besi, Warga Binaan Lapas Perempuan Kerobokan Suguhkan Karya Tak Biasa

Maulana Sandijaya • Selasa, 21 April 2026 | 19:32 WIB

 

PENJARA BUKAN PENGHALANG: Para warga binaan di Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan saat merias wajah dan bersiap fashion show. Mereka juga menunjukkan hasil kerajinan tangan bernilai tinggi.
PENJARA BUKAN PENGHALANG: Para warga binaan di Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan saat merias wajah dan bersiap fashion show. Mereka juga menunjukkan hasil kerajinan tangan bernilai tinggi.

DENPASAR, Radarbali.id – Warga binaan di Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan, Badung, Bali, tidak mau ketinggalan dalam merayakan Hari Kartini. Selasa (21/4/2026), mereka unjuk kebolehan di depan tim Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Disos P3A) dan Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan (Puspa) Bali.

Kegiatan dibuka Kepala Disos P3A Provinsi Bali, Anak Agung Sagung Mas Dwipayani, didampingi Ketua Forum Puspa Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, serta delegasi peserta World Congress on Probation and Parole dari Belanda.

Para warga binaan ini menunjukkan keterampilan merias wajah atau make up, menunjukkan karya pernak-pernik kerajinan tas, aneka makanan, lukisan, hingga fashion show. Mereka membuktikan bahwa jeruji besi dan tingginya tembok penjara tidak menjadi penghalang untuk berekspresi.

Kepala Lapas Perempuan Kelas II Kerobokan, Ni Luh Putu Andiyani, menyebut warga binaan sangat antusias menyambut Hari Kartini. ”Tidak hanya WNI, warga negara asing yang ada di dalam juga antusias merayakan,” ujar Putu Andiyani kepada awak media.

Antusiasme terlihat dari berbagai penampilan yang disuguhkan. Mulai dari tarian hingga peragaan busana yang menampilkan hasil karya warga binaan. Menurut Andiyani, setiap pelatihan yang diberikan selalu berkelanjutan. Warga binaan juga mendapatkan sertifikat keterampilan yang nantinya dapat digunakan sebagai bekal saat kembali ke masyarakat.

”Saat mereka bebas, sertifikat dan peralatan akan diberikan sebagai bekal,” jelasnya.

Selain pelatihan salon, berbagai program pemberdayaan juga terus dikembangkan di dalam lapas. Di antaranya pembuatan keripik tempe, kue, kerajinan tangan, hingga kegiatan pertanian dan peternakan seperti budidaya ayam, lele, melon, dan anggur.

Hasil karya warga binaan bahkan telah menembus pasar luar daerah. Produk mereka pernah digunakan sebagai suvenir dalam kegiatan internasional dan kerap dipamerkan dalam berbagai event.

Lebih lanjut, Andiyani mengungkapkan ini adalah kali pertama Lapas Perempuan Kerobokan menggelar pameran karya warga binaan yang dirangkai dengan pelatihan keterampilan tata rias wajah dan seni sanggul. ”Kegiatan ini juga kami isi dengan sosialisasi peningkatan partisipasi perempuan di bidang sosial, ekonomi, politik, dan hukum,” tegasnya.

Meski demikian, kapasitas dalam Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan saat ini tidak ideal. Saat ini, jumlah warga binaan tercatat 258 orang, termasuk lima bayi. Jumlah tersebut melebihi kapasitas ideal sebanyak 120 orang. Dengan kata lain, Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan overkapasitas lebih 100 persen. Dari jumlah tersebut, terdapat 12 warga negara asing yang juga menjalani pembinaan.

Walau harus berbagi tempat, program pemberdayaan menjadi ruang penting untuk membangun kembali kepercayaan diri warga binaan. Salah satunya dirasakan Kasarin Khamkao. Perempuan yang telah menjalani hukuman tujuh tahun dari vonis 16 tahun dalam kasus narkotika itu mengaku merasakan manfaat pelatihan. ”Ini pertama kali saya ikut pelatihan seperti ini. Saya ingin berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama,” tegasnya. (***)

Editor : Maulana Sandijaya
#lapas perempuan kerobokan #hari kartini