Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Lima Pelaku Penyekapan Berkedok Lowongan Kerja Diburu, Polisi Periksa Pemilik Warung yang Menolong Korban

Andre Sulla • Kamis, 11 Juni 2026 | 08:14 WIB
Kasus penyekapan warga Sumba dengan dalih lowongan kerja terus didalami oleh polisi
Kasus penyekapan warga Sumba dengan dalih lowongan kerja terus didalami oleh polisi

 

MANGUPURA, radarbali.jawapos.com – Misteri penyekapan dan penganiayaan yang dialami YKB, 24, pemuda asal Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), perlahan mulai terkuak.

Polisi kini memburu lima orang pelaku yang diduga terlibat dalam aksi penyekapan berkedok lowongan kerja tersebut. Dua diantaranya merupakan perempuan.

Kasus yang sempat viral di media sosial Facebook itu kini menjadi perhatian serius aparat Polsek Kuta.

Selain memburu para pelaku, penyidik juga telah memeriksa sejumlah saksi untuk mengurai rangkaian peristiwa yang nyaris merenggut keselamatan korban.

Salah satu saksi kunci yang telah dimintai keterangan adalah Hariyanto, pemilik warung di Jalan Pasir Putih Nomor 20, Kedonganan, Kuta. Pria inilah yang pertama kali memberikan pertolongan ketika korban berhasil melarikan diri dari lokasi penyekapan.

Baca Juga: Minta Dibebaskan dari Dakwaan TPPO, Pledoi Jaja Sucharja: Tidak Ada Penyekapan di KM Awindo 2A

Kasi Humas Polresta Denpasar IPTU I Gede Adi Saputra Jaya, S.H., M.H., mengatakan penyelidikan masih terus berlangsung. Polisi telah mengantongi identitas para terduga pelaku dan saat ini tengah melakukan pengejaran.

"Kasus ini masih dalam proses penyelidikan. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan dan identitas para pelaku sudah kami kantongi," ujarnya, Rabu (10/6/2026).

Berdasarkan keterangan saksi Hariyanto, pada Sabtu (9/5) sekitar pukul 06.00 Wita, korban datang ke warungnya dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya penuh luka dan wajahnya lebam.



Saat itu korban terlihat panik dan meminta pertolongan.

"Korban datang ke warung saksi meminta tolong dengan keadaan panik dan penuh luka pada bagian pelipis kiri serta lebam pada wajah," ungkap IPTU Adi Saputra Jaya.

Ketika ditanya apa yang terjadi, korban mengaku baru saja disiksa dan disekap di sebuah hotel di kawasan Kedonganan.

"Ya Pak, saya disiksa sama orang dan disekap di Hotel Liberta," ujar korban kepada saksi.

Melihat kondisinya, Hariyanto kemudian memberikan telepon genggam agar korban bisa menghubungi keluarganya di NTT.

Ia juga membantu membawa ke rumah sakit sebelum akhirnya membuat laporan ke Polsek Kuta.

Dari hasil pemeriksaan, kasus ini bermula saat korban mencari pekerjaan melalui aplikasi Tinder. Di sana korban berkenalan dengan dua perempuan bernama Amanda dan Kenzo.

Selain itu terdapat tiga pria yang disebut bernama Johanes, Om Niko dan seorang pria lain yang identitasnya belum diketahui. Kelima orang tersebut menawarkan pekerjaan sebagai staf administrasi dan asisten pribadi di sebuah vila di kawasan Umalas, Kerobokan, Kuta Utara.

Tergiur tawaran pekerjaan dengan iming-iming masa depan lebih baik di Bali, korban kemudian diajak bertemu di Hotel Liberta, Kedonganan.

Korban diberitahu bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk menandatangani kontrak kerja.

Namun sesampainya di hotel, situasi berubah drastis. Ia diminta menyerahkan uang Rp4 juta dengan alasan untuk pembelian seragam kerja. Para pelaku menjanjikan uang tersebut akan dikembalikan setelah nota pembelian keluar.

Tak berhenti sampai di sana, korban kemudian dituduh melakukan pelecehan terhadap salah seorang perempuan yang berada di lokasi. Tuduhan tersebut diduga menjadi dalih untuk menahan korban.

Dua telepon genggam, laptop, KTP dan paspor korban kemudian disita. Selanjutnya korban diduga mengalami penyekapan dan penganiayaan di kamar nomor 309 dan 310 Hotel Liberta. Menurut pengakuan korban, para pelaku memukul dan menendangnya secara bergantian. Mereka juga menekan korban agar menyerahkan uang Rp100 juta. "Korban diancam dan diminta membayar uang sebesar Rp100 juta kemudian dipukul dan ditendang oleh kelima pelaku. Akibat kejadian itu korban mengalami luka-luka," terang IPTU Adi Saputra Jaya. Di balik kasus tersebut tersimpan kisah pilu dari keluarga korban di kampung halaman.



 Ibu korban, Adriana Miku Ate, 44, mengaku sejak awal sebenarnya sudah menaruh curiga ketika anaknya minta ditransfer uang Rp 4 juta untuk membeli seragam kerja. Meski merasa janggal, ia tetap mengirimkan uang tersebut karena berharap sang anak benar-benar memperoleh pekerjaan yang dijanjikan.

"Kami percaya karena mereka terus meyakinkan dan selalu membawa-bawa nama Tuhan dalam setiap pembicaraan," tuturnya. Kecurigaan Adriana semakin kuat ketika pada 8 Mei 2026 dirinya menerima pesan yang mengatasnamakan korban. 



Dalam pesan itu disebutkan korban telah mencuri uang perusahaan, melakukan pelecehan seksual dan menabrak mobil BMW milik para pelaku.

Menurut Adriana, tuduhan tersebut tidak masuk akal. "Saya sudah merasa anak saya dalam keadaan berbahaya karena setahu saya dia tidak pernah melakukan kejahatan," ujarnya. 

Tak hanya menyebarkan tuduhan, para pelaku juga terus menghubungi keluarga korban dan meminta uang tebusan hingga Rp100 juta.

Karena tidak memiliki uang sebanyak itu, keluarga berusaha mengulur waktu sambil mencari tahu keberadaan korban.

Di tengah kepanikan tersebut, kabar yang ditunggu akhirnya datang. Pada Sabtu (9/5) sekitar pukul 06.00 Wita, korban berhasil melarikan diri dari hotel dan menghubungi keluarganya.

"Saat mendengar suara anak saya, kami semua menangis dan mengucap syukur karena dia masih hidup," kenang Adriana.

Kasus yang menggegerkan masyarakat Bali ini kini masih didalami aparat Polsek Kuta.

Korban telah menjalani visum et repertum untuk mendokumentasikan luka-luka yang dialaminya, sementara penyidik terus memburu para pelaku yang diduga menjalankan modus penipuan berkedok rekrutmen kerja.

Polisi menduga para pelaku bekerja secara terorganisir dan menggunakan modus lowongan pekerjaan untuk menjebak korbannya. Karena itu, masyarakat diimbau lebih berhati-hati terhadap tawaran kerja yang berasal dari media sosial atau aplikasi perkenalan.

"Kami berharap para pelaku segera ditangkap agar tidak ada lagi korban berikutnya," tegas Adriana.

Sementara itu, polisi memastikan proses penyelidikan masih terus berjalan.

“Kelima terduga pelaku kini menjadi target pengejaran aparat untuk mempertanggungjawabkan dugaan penyekapan, penganiayaan dan pemerasan yang mereka lakukan terhadap korban,” pungkas Jubir Polresta Denpasar.***

 

Editor : M.Ridwan
#warga sumba NTT #polisi buru lima pelaku #penyekapan