RADAR BALI — Musibah tragis yang menimpa almarhum KD di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Baturiti, Tabanan, menyisakan duka mendalam bagi keluarganya di Desa Sidetapa, Buleleng.
Terduga pelaku pencurian ayam tersebut tewas setelah menjadi sasaran aksi main hakim sendiri oleh massa. Meski demikian, kepedulian publik justru mengalir deras untuk istri dan anak-anak almarhum yang ditinggalkan.
Sejak peristiwa memilukan ini mencuri perhatian luas, gelombang simpati terus berdatangan ke rumah duka. Berbagai pihak tergerak untuk mengulurkan tangan guna membantu kelangsungan hidup serta masa depan putra-putri almarhum yang masih kecil.
Gelombang Simpati dan Uluran Tangan Donatur
Bantuan mengalir dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari wakil rakyat, pejabat daerah, hingga relawan swasta.
Salah satu bantuan awal datang dari Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni. Ia menyampaikan belasungkawa mendalam sembari menyalurkan bantuan logistik berupa 50 kilogram beras, 30 dus mi instan, 200 liter minyak goreng, dan 25 kilogram telur.
Tak hanya kebutuhan harian, perhatian terhadap masa depan pendidikan anak-anak almarhum juga menjadi fokus utama para donatur. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menyerahkan bantuan dana pendidikan dalam bentuk deposito senilai Rp 50 juta.
Langkah serupa juga dilakukan oleh pengusaha asal Pamekasan, Haji Khairul Umam (Haji Her), yang secara spontan mentransfer bantuan tunai sebesar Rp 50 juta setelah menyapa keluarga korban melalui panggilan video.
Dari jalur penggalangan dana swadaya, relawan Ary Ulangun bersama rekan-rekannya berhasil menghimpun donasi masyarakat hingga mencapai Rp 190 juta. Seluruh dana tersebut rencananya bakal dikelola sebagai deposito untuk menjamin biaya sekolah anak-anak almarhum.
Dukungan finansial dan dorongan moril turut disampaikan oleh Anggota DPD RI asal Bali Komang Merta Jiwa, tokoh masyarakat Mangku Sekenan asal Bangli, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Buleleng. Kementerian Sosial pun mulai menjajaki peluang agar anak almarhum kelak bisa menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR).
Dukungan juga datang dari Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali, Dr. I Wayan Sudirta, S.H., M.H., yang turun langsung membawa sumbangan ke rumah duka. Saat menyerahkan bantuan yang diterima langsung oleh anak bungsu korban, Keysia, Sudirta mengajak keluarga untuk bersikap tabah dan meminta aparat menegakkan hukum secara adil.
Ia menekankan bahwa kedatangannya murni atas dasar kemanusiaan dan bukan untuk membenarkan tindakan melanggar hukum yang diduga dilakukan almarhum. Kejadian ini hendaknya menjadi sarana introspeksi bersama agar aksi kekerasan dan tindak pidana tidak lagi terulang di masa mendatang.
Sisi Lain Kasus dan Penegakan Hukum
Di balik gelombang simpati tersebut, peristiwa di Baturiti dipicu oleh kekecewaan warga Juwuk Legi yang resah akibat maraknya aksi pencurian ayam aduan bernilai tinggi. Kegeraman warga memuncak hingga berujung tindakan anarkis saat memergoki KD yang diduga membawa dua ekor ayam aduan beserta senjata tajam dan ketapel.
Pihak kepolisian juga membeberkan rekam jejak hukum almarhum. Menurut Kapolres Tabanan AKBP I Putu Bayu Pati dan pihak Polres Badung, KD merupakan residivis kasus pencurian cengkih pada 2018 serta berstatus Target Operasi (TO) atas serangkaian kasus pencurian di wilayah hukum Polres Badung. Selain itu, sepeda motor yang digunakan korban saat kejadian merupakan hasil curian di Bangli.
Meski demikian, Polres Tabanan bersama Direskrimum Polda Bali menegaskan bahwa hukum tetap berdiri tegak secara adil. Penyidik resmi menetapkan lima warga Banjar Juwuk Legi sebagai tersangka aksi pengeroyokan dan menutup rapat peluang penyelesaian melalui mekanisme restorative justice.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri hingga menghilangkan nyawa orang lain tidak dapat dibenarkan oleh alasan apa pun.
Menurut anda, apakah keluarga terduga pencuri ayam yang menjadi korban penganiayaan hingga tewas berhak mendapatkan simpati dan bantuan?
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali