Mulai Tersingkap! Misteri Penganiayaan di One Tribe One Life Lounge and Cafe membuat WNA Inggris Men

Andre Sulla • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:19 WIB
DISELIDIKI: Polresta Denpasar mendalami kematian WNA Inggris berinisial PID setelah diduga menjadi korban kekerasan di salah satu tempat hiburan di kawasan Legian, Badung. (ist/radarbali.id)
DISELIDIKI: Polresta Denpasar mendalami kematian WNA Inggris berinisial PID setelah diduga menjadi korban kekerasan di salah satu tempat hiburan di kawasan Legian, Badung. (ist/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Misteri kematian Warga Negara Asing (WNA) Inggris, Paul Innes Dougan (PID), mulai menemukan titik terang.

Hasil penyelidikan Polresta Denpasar mengarah pada dugaan adanya kekerasan secara bersama-sama yang dialami korban sebelum akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis selama hampir dua pekan.

Yang membuat kasus ini semakin menjadi perhatian, polisi mengantongi empat dari lima WNA asal Australia yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Masing-masing diketahui telah meninggalkan Indonesia sehari setelah dugaan penganiayaan terjadi.

Keempat WNA Robert Gregory Gage, Paul Anthony Murphy, Jamie Robert Murphy, dan Thomas Ryan Zonneveld.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Bali, Hari Ini Selasa (25/8/2026) : Serba Cerah Berawan

"Berdasarkan data perlintasan keimigrasian, mereka meninggalkan Bali melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kamis (6/8) malam menggunakan penerbangan JQ050 menuju Avalon, Victoria, Australia," beber sumber petugas.

Informasi keberangkatan keempatnya kini menjadi salah satu kepingan penting dalam penyelidikan yang dilakukan Polresta Denpasar.

Kasus ini bermula dari dugaan penganiayaan terhadap Paul di One Tribe One Life Lounge and Cafe, kawasan Legian, Badung, pada Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 02.00 Wita. Setelah kejadian, korban sempat kembali ke tempatnya menginap di Gora Beach Inn.

Beberapa hari kemudian, kondisi Paul memburuk hingga membutuhkan penanganan medis. Pada 8 Agustus 2026, korban dijemput pihak RS Murni Teguh dari tempatnya menginap untuk mendapatkan perawatan.

Sehari berikutnya, 9 Agustus sekitar pukul 18.00 Wita, Paul dijemput anaknya dan dibawa ke RS BIMC.

Setibanya di rumah sakit, korban mendapat penanganan melalui unit gawat darurat sebelum menjalani perawatan lebih lanjut. Namun, setelah sekitar 11 hari menjalani perawatan, kondisi korban akhirnya tidak tertolong.

Pihak RS BIMC menyatakan Paul meninggal dunia pada Kamis (20/8) sekitar pukul 12.06 Wita.

Jenazah kemudian dipindahkan ke RSU Dharma Yadnya untuk penanganan lebih lanjut.

Kematian Paul selanjutnya dilaporkan pihak keluarga ke SPKT Polsek Kuta pada hari yang sama. Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/91/VIII/2026/Polsek Kuta tertanggal 20 Agustus 2026.

Kapolresta Denpasar Kombes Pol Leonardo D. Simatupang mengatakan, penyidik langsung melakukan pendalaman terhadap seluruh rangkaian peristiwa. Polisi tidak hanya mengandalkan keterangan saksi, tetapi juga mengumpulkan sejumlah alat bukti lain.

Sejumlah saksi telah dimintai keterangan.

Mulai dari keluarga korban, petugas keamanan, pekerja di lokasi kejadian hingga pihak lain yang dinilai mengetahui peristiwa tersebut.

Rekaman CCTV dan video yang berkaitan dengan kejadian juga menjadi perhatian penyidik. Potongan-potongan rekaman tersebut tengah dianalisis untuk mengetahui secara utuh apa yang terjadi pada dini hari 5 Agustus.

"Dari pendalaman sementara, polisi menemukan adanya dugaan kekerasan secara bersama-sama terhadap korban yang melibatkan beberapa WNA," cerusnya, Senin (24/6/2026).

Namun, polisi masih berhati-hati. Penyidik belum menyimpulkan bahwa dugaan kekerasan tersebut menjadi penyebab langsung kematian Paul.

Hubungan antara kondisi medis korban dengan peristiwa dugaan penganiayaan harus dibuktikan secara ilmiah.

Karena itu, rekam medis dari RS Murni Teguh dan RS BIMC turut menjadi bagian penting dalam penyelidikan.

Polisi juga akan berkoordinasi dengan dokter forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian korban, termasuk kemungkinan adanya hubungan antara luka atau kondisi korban setelah kejadian dengan kematiannya.

Keberadaan terduga pelaku WNA Australia yang telah meninggalkan Indonesia sehari setelah kejadian juga menjadi perhatian penyidik.

Keempatnya tercatat berangkat melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada pukul 21.00 Wita menuju Australia.

Polisi kini mendalami keberadaan mereka saat dugaan penganiayaan berlangsung, hubungan masing-masing dengan korban, serta peran mereka sebelum maupun sesudah kejadian.

Juga akan didalami sebagai pihak yang berkaitan dengan perkara dan dapat ditempatkan sebagai Subject of Interest (SOI) sesuai ketentuan yang berlaku.

Polresta Denpasar telah berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai untuk menelusuri data perlintasan keempat WNA tersebut. Pemantauan juga akan dilakukan apabila mereka kembali memasuki wilayah Indonesia.

Selain itu, koordinasi dilakukan dengan Ditreskrimum Polda Bali dan Hubinter Polri.

Langkah tersebut diperlukan mengingat pihak yang diduga berkaitan dengan perkara kini berada di luar wilayah Indonesia. Di tengah semakin terangnya rangkaian penyelidikan, polisi belum mau terburu-buru menarik kesimpulan. 

Baca Juga: Gara-Gara Ugal-Ugalan Usai Pesta Miras, Aparat Polsek Manggis  Ciduk Tiga Orang Pelaku

Penyebab pasti kematian Paul masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan forensik. Polisi juga telah berkoordinasi dengan RS BIMC terkait kondisi korban, penanganan medis hingga waktu korban dinyatakan meninggal dunia. Sementara keberadaan jenazah di RSU Dharma Yadnya juga terus dikoordinasikan dengan pihak terkait dan keluarga.

Koordinasi dilakukan pula dengan Konsulat/Kedutaan Besar Inggris berkaitan dengan penanganan kasus tersebut. Polresta Denpasar akan mengungkap secara terang rangkaian peristiwa ini, termasuk peran masing-masing pihak. 

"Ya dan penyebab meninggalnya korban. Proses hukum akan dilakukan secara profesional dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” tegas Kombes Pol Leonardo D. Simatupang.

Kini, CCTV, keterangan saksi, rekam medis hingga pemeriksaan forensik menjadi kepingan penting untuk menguak misteri kematian Paul Innes Dougan.

"Kami masih bekerja memastikan satu per satu fakta di balik kejadian dini hari 5 Agustus tersebut," pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
wna inggris tewas One Tribe One Life Lounge and Cafe pengeroyokan polresta denpasar