Konferensi diikuti 140 peserta dari 10 negara ASEAN plus Saudi Arabia dengan menghadirkan narasumber para pimpinan ormas Islam, tokoh agama, dan akademisi dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Filipina, Laos, Myanmar, Vietnam, dan Arab Saudi. Isu moderasi beragama mengemuka menjadi topik utama guna menciptakan khairu ummah atau umat terbaik di tatanan internasional yang dipastikan dibuka Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.
Konferensi diawali dengan sesi dialog bertajuk Khairiyatul Ummah fil ‘Ilmi wal ‘Amal atau Menuju Ummat Terbaik dalam Pengetahuan dan Amal.
Sesi awal ini menghadirkan narasumber, yaitu:Prof. Dr. Muhammad bin Umar Bazmol, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA, Prof. Dr. Muhammad bin Fahd Al Farih, Syeikh Sa’ad bin Syayim Al Anzi, dan Dr. Abdullah Al Jadi’.
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Kamaruddin Amin dalam paparannya menyampaikan tantangan harmoni sosial dan moderasi beragama di depan ratusan delegasi. Menurut Guru Besar Ilmu Hadist UIN Alauddin Makassar ini, setidaknya ada enam tantangan yang tengah dihadapi Indonesia sebagai sebuah bangsa.
"Mulai dari tantangan antar umat beragama, tantangan digital, praktik penyelenggaraan negara, dan politik identitas dalam kontestasi politik praktis," kata Kamaruddin Amin di Nus Dua, Bali, Kamis (22/12/22).
Saat ini lanjutnya, dunia tengah tengah menghadapi tantangan melunturnya karakter dan nilai kebangsaan serta beberapa tantangan paham keagamaan.
Terkait tantangan paham keagamaan, Profesor lulusan Universitas Bonn, Jerman ini menyebutkan adanya indikasi kegamangan pandangan terkait hubungan agama dan negara serta bermunculannya ideologi transnasional dalam kehidupan beragama.
"Berbagai tantangan itu, kita yakini akan bisa dihadapi dengan Moderasi Beragama yang terus kita diseminasikan. Paham keagamaan moderat dan toleran dipilih oleh bangsa Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai landasan negara," tandasnya.
Kamaruddin juga menekankan pentingnya sinergi dengan seluruh komponen bangsa. Secara khusus, pria yang akrab disapa Prof Kamar ini mengapresiasi peran Ormas Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Ormas Islam merupakan mitra strategis pemerintah dalam berbagai program kebangsaan. Kehadiran Ormas Islam sangat instrumental dalam membentuk pemahaman masyarakat yang toleran dan moderat," tandasnya.
Ditambahkan, para pembicara memberikan argumentasi untuk saling menguatkan bahwa perbedaan itu sebuah rahmat. “Tujuan ASEAN Countries Conference ini adalah untuk membuat formulasi dan rekomendasi mencegah berkembangnya paham-paham radikalisme dan ekstrimesme sehingga tercipa khairu ummah,” pungkasnya.
Penyelenggaran di Bali ini imbuhnya, sebagai bukti bahwa moderasi agama dapat dilakukan dalam suasana yang multi kultur dan agama. (rid)
Editor : M.Ridwan