DENPASAR,radarbali.id - Ratusan anggota Balinese Indian Friendship Assiciation (BIFA) dan Indian Diaspora Bali menyambut Duta Besar India untuk Indonesia dan Timor Leste yakni HE. MR. Sandeep Chakravorty di Sanur Bali, Selasa malam (3/10/2023).
Dubes Chakravorty merupakan seorang diplomat karir yang sudah menjajal Kementerian Luar Negeri India sejak 1996. Ia dikenal memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan, serta diakui sebagai pemikir strategis.
Penunjukan Dubes Chakravorty dinilai penting bagi India di tengah upaya New Delhi untuk memperdalam kemitraan di kawasan Indo-Pasifik. Khususnya kemitraan dengan Indonesia dan Bali dalam bentuk kerjasama kebudayaan.
”Saya menghadiri undangan BIFA karena Bali ini menjadi mitra strategis bagi India, khususnya dalam bidang kebudayaan,” ungkap Chakravorty, kepada sejumlah awak media, usai pertemuan di Grand Palace Sanur (3/10/2023)
Ia pernah menjabat sebagai Duta Besar India untuk Peru dan Bolivia, serta Konsul Jenderal India di New York, Amerika Serikat.
Indonesia dan India telah menjalin hubungan diplomatik sejak 3 Maret 1951. Hubungan ini berkembang menjadi Kemitraan Strategis Baru pada November 2005, yang kemudian ditingkatkan lagi menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif pada tahun 2018.
Founder dan Presiden BIFA Bali, Neeta Malhotra mengatakan, saat well coming ceremoni terhadap Dubes India untuk Indonesia dan Timor Leste, jumlah anggota dibatasi. Pihaknya harus menutup pendaftaran dengan cepat karena daya tampung hotel yang tidak memungkinkan. Ia mengaku susah mencari hotel di Bali dalam acara sambutan kedatangan Dubes India untuk Indonesia dan Timor Leste.
Baca Juga: Aston Denpasar Hadirkan Menu Baru Sate Ayam Parmesan dengan Es Coco Segar
"Kami menyambut Dubes India yang baru. Mereka baru di Jakarta dan ke Bali dan Timor Leste untuk beberapa kegiatan. Tujuannya untuk mempererat hubungan antara India dan Bali. Pihak Kedubes India menggunakan BIFA Bali untuk mengetahui anggota atau warga India yang di Bali dan juga Sulawesi. Hari ini adalah well coming ceremoni untuk pejabat Dubes India untuk Indonesia dan Timor Leste," ujarnya.
Untuk BIFA di Bali, semuanya sudah berjalan sejak tahun 2010 lalu. Sebab antara Bali dan India mempunyai banyak kesamaan atau mirip baik dalam upacara keagamaan, adat dan budaya serta keramahan masyarakat yang ada. "BIFA ini sudah berjalan sejak lama dari tahun 2010 dan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan Bali dan India," ujarnya.
Peran BIFA di Bali sangat penting. BIFA juga membantu tamu-tamu India yang datang ke Bali bila menemui banyak kesulitan atau masalah. BIFA yang terus berada di tengah masyarakat Bali akan lebih cepat membantu masyarakat India.
Bahkan dalam beberapa kasus yang dialami warga India atau turis asal India di Bali, Kedubes India biasanya akan berkoordinasi dengan BIFA khususnya untuk yang di Bali. Terhadap beberapa penemuan simbol Lingga juga sudah pernah diurus oleh BIFA Bali.
"Mereka datang melapor ke BIFA terkait dengan penemuan Siwa Lingga. BIFA akhirnya mendatangi lokasi penemuan dan memastikan memang benar jika itu adalah Siwa Lingga. Karana itu adalah Siwa Lingga maka BIFA membuatkan Yoni sebagai pasangannya. Inilah salah satu bentuk kemiripan budaya Bali dan India.
Selain itu, jika ada masalah atau WN India yang meninggal atau sakit, orang lebih gampang koordinasi dengan BIFA daripada dengan konsulat yang ada di Bali. BIFA selalu menjadi penghubung atau jembatan.
Baca Juga: Kemarau Semakin Panjang, Bendungan Palasari Terancam Kering Total
Untuk itu Dubes India untuk Indonesia dan Timor Leste sangat bahagia berada di Bali. Dia sangat mengapresiasi BIFA di Bali. "Dia sangat apresiasi bawa kami punya BIFA di Bali dimana semua komunitas India yang di Bali bahkan luar Bali, dari berbagai usia dan agama bisa rukun dalam satu atap yakni BIFA. Beliau sangat bangga atas BiFA karena kami tidak diskriminasi terhadap semua WN India di Bali dan India Diaspora. BIFA itu untuk satu dan semua," ujarnya.
Sementara itu, Ketua PHRI Badung, I Gustu Agung Rai Suryawijaya menilai pasar India sangat potensial bagi Bali. Terbukti kata dia, tingkat kunjungan turis India ke Bali pasca pandemi menampati rangking kedua teratas setelah Australia.
”Karena itulah, perlu adanya direct flight atau penerbangan langsung dari India ke Bali dan sebaliknya untuk memberikan solusi bagi wisatawan India yang mau ke Bali atau Indonesia,” tegas Rai.
Sebab kata dia, selama ini turis asal India yang mau ke Bali harus lewat Dubai, Malaysia dan Singapura akibat belum adanya penerbangan langsung dari India ke Bali dan sebaliknya.
Pertemua juga dihadiri salah seorang senator anggota DPD RI asal Bali I Gusti Ngurah Arya Wedakarna dan sejumlah pejabat lokal Bali. ***
Editor : M.Ridwan