Bahas Air, Pj Gubernur Bali Ajak Delegasi WWF Melukat, Akan Disambut Penari Pendet dan Nonton Pentas Budaya
Ni Kadek Novi Febriani• Senin, 13 Mei 2024 | 12:30 WIB
BAHAS AIR: Logo World Water Forum (WWF) 2024 yang terselenggara di Bali 18-24 Mei 2024
DENPASAR, radarbali.id- Delegasi World Water Forum (WWF) ke-10 akan diajak healing dengan mengikuti tradisi melukat (mandi suci) di Bali. Perhelatan akbar level dunia ini akan digelar dari 18 - 24 Mei 2024.
Pemerintah Provinsi Bali mendukung penuh even internasional bertajuk, "Bali Nice" mengawali dengan kegiatan ritual dan pentas budaya. Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya, kepada radarbali.id, menjelaskan hari pertama dilaksanakan WWF tanggal 18 Mei kebetulan hari Tumpek Uye. Maka akan dibuat acara di BTID, Serangan, Denpasar.
Selain itu, Pemprov bali akan mengajak delegasi untuk melukat yang merupakan ritual di Agama Hindu untuk penyucian. "Kami sudah siap sudah mulai kami tata. Pemprov mendukung dari kedatangan kami siapkan penari Pendet dan juga kami siapkan penjor kami juga siapkan side event di Jatiluwih kami tawarkan melihat kearifan Bali yakni melukat," terang Mahendra Jaya. kemarin (12/5/2024).
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun mengatakan, delegasi WWF bakal mengikuti kegiatan di Kura-Kura Island di Serangan. Pemprov Bali menyiiapkan paket field trip Nusa Dua – Jatiluwih, dan Nusa Dua- Museum Subak. "Ini masih tentatif,” ungkap Tjok Bagus Pemayun.
Diungkapkan, Menparekraf menawarkan ‘healing’ yakni melukat bagi para delegasi WWF dengan field trip Nusa Dua – Jatiluwih dan Nusa Dua Museum Subak. Studi lapangan dilakukan ke Nusa Dua , Jatiluwih, ada tempat melukat di Pancoran Solas, Tirta Taman Mumbul di Abiansemal, dan kedua di Pura Kedatuan Raksa Sidhi di Desa Soka, dekat Jatiluwih.
Kemudian, juga ke Museum Subak, ada melukat di Pura Pengembak, Sanur, dan yang kedua di Padang Galak Pura Windhu Segara. "Itu baru opsional,” jelasnya.
Tjok Bagus menuturkan, alasan mengajak melukat karena acara tentang air, dan juga ritual di agama Hindu melukat memiliki makna pembersihan secara sekala dan niskala (jasmani dan rohani) baik jiwa dan pikiran. Manusia sebagai alam terkecil dan alam semesta menggunakan sarana air.
Kegiatan melukat memang merupakan kearifan lokal masyarakat Bali yang sebagian besar menganut Agama Hindu. Tradisi melukat merupakan salah satu cara masyarakat Bali melaksanakan konsep Tri Hita Karana.
“Melestarikan sumber-sumber mata air dengan memanfaatkan mata air sebagai bagian dari ritual, merupakan bagian dari cara masyarakat Bali menjaga hubungan baik dengan alam semesta,” tuturnya.
Lanjutnya, melaksanakan ritual melukat, maka terjadi interaksi sosial dengan para pelaku ritual yang berasal dari berbagai daerah.
“Berdoa di depan mata air sebagai cara menghubungkan diri dengan Tuhan sebagai penguasa alam semesta,” imbuhnya.
Pihaknya menegaskan, dalam prosesi melukat tidak ada komersialisasi, akan tetapi jika dalam proses menuju dan kembali dari prosesi melukat terjadi kegiatan ekonomi yang berdampak terhadap masyarakat.
“Itu yang diharapkan seperti penggunaan transportasi, akomodasi, konsumsi serta pengadaan sarana dan prasarana melukat,” jelasnya.
Tjok Bagus Pemayun menambahkan, prosesi melukat bisa menjadi paket wisata, sehingga akan memberi dampak yang sangat positif terhadap perekonomian masyarakat di sekitar tempat melukat khususnya dan masyarakat Bali umumnya.